Minggu, 26 Juni 2011

Sinopsis Autumn's Concerto Episode 18




Mu Cheng dan Guang Xi pulang ke rumah. Mu Cheng mengalami kesulitan saat membuka baju karena luka di punggungnya. Guang Xi menawarkan bantuan. Mu Cheng sungkan dan menolak bantuannya. Guang Xi memaksa Mu Cheng membuka pintu kamar mandi.

Akhirnya Mu Cheng keluar. Ia meminta Guang Xi memanggilkan Bibi Zhang. Guang Xi tertawa.
"Bibi Zhang pasti sudah tidur. Lagipula kita sudah menikah. Jangan menggangunya dengan hal kecil seperti ini. Itu akan membuatku terlihat buruk. Kita sudah mempunyai Xiao Le. Jadi aku tak mengerti mengapa kau menolaknya. Enam tahun bukan waktu yang lama. Aku masih ingat semuanya tentangmu dengan sangat jelas," goda Guang Xi. Mu Cheng cemberut.

Guang Xi menawarkan bantuan dengan menutup matanya. Mu Cheng tak tahu diam-diam Guang Xi mengintip (nakal neh...).


Bin Zai mengobati luka di tangan Tuo Ye. Tuo Ye menjerit kesakitan.

Diam-diam Bibi Hua menghubungi Mu Cheng. Ia berniat meminjam uang dari Mu Cheng. Bibi Hua menceritakan keadaan Tuo Ye. Bibi Hua mengerti Mu Cheng tak mempunyai uang, tapi Guang Xi pasti punya. Bibi Hua meminta maaf karena telah menyusahkannya. Mu Cheng berkata Tuo Ye juga sangat penting untuknya. Mu Cheng mengusahakan mencari pinjaman uang untuk Bibi Hua secepatnya.

Tanpa Mu Cheng sadari Guang Xi menguping pembicaraannya dari ambang pintu.
Guang Xi masuk dengan membawakan obat. Ia kembali bersikap ketus pada Mu Cheng. Mu Cheng bingung dengan sikap Guang Xi yang selalu berubah-ubah.


Pagi hari keluarga kecil Ren sarapan bersama. Guang Xi membaca koran. Di halaman belakang terpampang berita utama mengenainya. Berita itu tak menyudutkannya lagi. Guang Xi diberitakan akan mencari keadilan untuk Nona Wu. Xiao Le mengomentari foto ayahnya di koran itu. Mu Cheng memuji Guang Xi di depan Xiao Le. Guang Xi acuh. Ia masih menyimpan kemarahan semalam.


Guang Xi mengantar Xiao Le ke sekolah. Xiao Le tahu mood ayahnya sedang buruk. Guang Xi curhat pada Xiao Le.

Xiao Le mencoba menghibur ayahnya.
"Ayah, apa kau tahu cerita Angin Utara dan Kakek Matahari? Mu Cheng berkata saat Angin Utara berhembus, pejalan kaki perlu memakai baju berlapis-lapis. Dan kemudian cahaya hangat Kakek Matahari membiarkan orang-orang melepas lapisan tebal pakaian mereka."
"Aku sudah mendengar cerita itu sebelumnya. Tapi aku bukan Kakek Matahari," ucap Guang Xi.
"Kau seperti Kakek Matahari. Nenek berkata bahwa kau pintar dan gigih dalam pekerjaanmu."
Guang Xi tersenyum. "Xiao Le, jangan berbicara omong kosong."

Xiao Le membisikkan sesuatu ke telinga Guang Xi. "Orang yang kau bicarakan Mu Cheng, kan?"
Guang Xi meminta Xiao Le diam sambil menempelkan jari telunjukkan di bibir Xiao Le. Xiao Le malah menggoda Guang Xi.
"Kau tak menyukai Mu Cheng? Kau tak menyukainya? Jika kau tak menyukainya, bagaimana bisa ada aku? Kau benar-benar tak menyukainya? Katakan padaku!"
Xiao Le mencecar Guang Xi sambil menempelkan kepalanya ke kepala Guang Xi. Ia menuntut Guang Xi menjawab pertanyaannya. Guang Xi kewalahan.
"Baiklah Xiao Le. Setelah kau pulang sekolah, aku akan memberitahumu. Okey!" Jawab Guang Xi kalah.


Mu Cheng mulai mencari pinjaman uang. Ia tak mau meminjam uang dari Guang Xi. Ia pergi ke bank, namun pihak bank menolak pengajuan pinjamannya karena uang tabungan yang ia miliki hanya sedikit. Pilihan terakhirnya adalah tempat penggadaian. Ia berniat menggadaikan cincin kawinnya.

Tanpa Mu Cheng tahu, Gary membuntutinya. Ia melaporkan hal ini pada Guang Xi. Guang Xi marah setelah tahu Mu Cheng rela menggadaikan cincin kawin mereka demi menolong Tuo Ye.


Guang Xi memang sengaja menyuruh Gary untuk membututi kemanapun Mu Cheng pergi. Sejak menguping pembicaraan Mu Cheng dengan Bibi Hua di telepon, Guang Xi ingin tahu darimana Mu Cheng akan mencari pinjaman uang. Guang Xi juga tahu Mu Cheng tak punya uang banyak. Namun ia tak mengira Mu Cheng sampai menggadaikan cincin kawin mereka.

Gary kembali melaporkan hasil investigasinya di kantor. Dari tempat penggadaian, Mu Cheng mentransfer uang dalam jumlah besar ke rekening Hua Xi Shi (Bibi Hua). Bibi Hua juga kedapatan mencari pinjaman uang di desa Hua Tian. Mereka sedang membutuhkan uang untuk Tuo Ye. Guang Xi tampak stress. Sebenarnya ia cemburu pada Mu Cheng. Gary memberi nasehat cinta untuk Guang Xi. Ia menyuruh Guang Xi meluangkan waktu berdua dengan Mu Cheng. Kebetulan mereka baru saja mendapat kasus perceraian seorang wanita kaya. Klien itu meminta bertemu dengan Guang Xi di sebuah villa di pinggir pantai karena tak mau perceraiannya terekspos publik. Gary menganggap ini merupakan kesempatan bagus untuk memperbaiki pernikahan Guang Xi dan Mu Cheng.
"Dan lagi, dari yang aku tahu, ini adalah perceraian keempat dari wanita kaya itu. Wanita ini buas seperti macan. Jika kau pergi sendirian, kau mungkin tak akan bisa pergi tanpa meninggalkan bekas cakaran. Akan lebih aman untukmu membawa Nyonya."
"Lebih aman? Aku malah lebih takut dia yang akan mendorongku pada wanita lain," ucap Guang Xi sangsi.
Gary meminta Guang Xi tak pesimis duluan. Ia menyarankan Guang Xi untuk belajar mempercayai Mu Cheng. Guang Xi tampak berpikir.


Mu Cheng menemani Xiao Le tidur sambil membacakan buku dongeng. Xiao Le mengomentari cerita putri itu seperti Mu Cheng. Ia berkata sejak mereka tinggal bersama Guang Xi, Mu Cheng berhenti tersenyum.
"Mu Cheng, apa kau tak bahagia? Jika kau tak bahagia, kita bisa kembali ke desa Hua Tian," ucap Xiao Le sambil tiduran di pangkuan Mu Cheng.

Mu Cheng tak mengakui perasaannya. Ia berkata kadang-kadang ia tak bahagia karena berselisih paham dengan Guang Xi. Ia meminta Xiao Le tak khawatir, karena mereka pasti akan bahagia seperti ending dari cerita Pangeran dan Putri.
Dari luar Guang Xi mendengarkan obrolan mereka. Ia teringat perkataan Gary untuk mencoba mempercayai Mu Cheng.


Mu Cheng masuk ke kamar. Guang Xi sedang duduk menghadap laptop. Guang Xi menarik tangan Mu Cheng dan menanyakan keadaan punggung Mu Cheng yang terluka. Ia juga menanyakan cincin kawin mereka yang tak ada di jari Mu Cheng. Mu Cheng beralasan sengaja melepas cincinnya karena tadi membantu Bibi Zhang membersihkan rumah. Tapi sekarang ia lupa menaruhnya dimana. Guang Xi tertawa kecut. Tentu saja Guang Xi tahu cincin itu ada dimana.

Guang Xi mengajak Mu Cheng melakukan perjalanan bisnis selama 2 hari semalam. Reaksi Mu Cheng tak terlalu senang. Guang Xi tak peduli.
"Kau hanya perlu berakting dengan baik sebagai Nyonya Ren dan itu sudah cukup. Jadi tolong pakai cincin kawinmu," tandas Guang Xi.


Mu Cheng berpamitan pada Xiao Le. Guang Xi menggandeng tangan Mu Cheng. Di jari Mu Cheng sudah melingkar cincin kawin.
"Kau sudah menemukannya," tanya Guang Xi. Mu Cheng hanya tersenyum. Di belakang Mu Cheng, Guang Xi tersenyum senang.


Guang Xi dan Mu Cheng sampai di villa. Seorang pria menghampiri mereka. Alice, klien Guang Xi ingin bertemu dengannya. Guang Xi menyuruh Mu Cheng check in duluan. Lalu ia meninggalkan Mu Cheng dan pergi mengikuti pria itu.


Guang Xi menemui Alice di pinggir kolam renang. Ternyata klien Guang Xi adalah mantan pacarnya di Sheng De, Zhang Ai Li (yang dulu pernah menculik Mu Cheng).
"Aku rasa istriku tak perlu menungguku di dalam," ucap Guang Xi.
Jelas saja Zhang Ai Li syok mendengar status Guang Xi yang telah menikah.
"Selain itu, kebetulan sekali kau mengenalnya juga," ucap Guang Xi lagi menanggapi keterkejutan Zhang Ai Li.


Guang Xi mempertemukan Mu Cheng dengan Zhang Ai Li. Mereka duduk di satu meja. Zhang Ai Li memandang Mu Cheng tajam. Seakan tak percaya Guang Xi telah menikahi Mu Cheng.

"Jika bukan karena kasus Nona Wu menjadi berita besar, aku tak akan tahu kau melakukan pekerjaan dengan baik dalam kariermu. Selama ini aku tinggal di luar negeri dengan mantan suamiku. Karena identitasnya agak spesial, aku ingin merahasiakan hal ini." Zhang Ai Li memulai diskusi mengenai perceraiannya.
"Meskipun identitasnya spesial, cepat atau lambat aku perlu tahu siapa dia," ucap Guang Xi.
Zhang Ai Li tak menyahut. Ia malah meminta Guang Xi mendekat dan membisikkan sesuatu ke kuping Guang Xi. Mu Cheng hanya diam saja memandangi mereka.

"Kau tak serius, kan? Aku pikir dia tak tertarik pada wanita," komentar Guang Xi.
"Ini perceraianku yang keempat. Dan aku sengaja beralih ke pengacara baru bukannya memakai pengacara sebelumnnya karena aku percaya kau bisa membantuku mendapatkan keuntungan lebih. Karena....tak ada seorangpun yang mengerti aku sebaik kau." Zhang Ai Li mulai menggoda Guang Xi.
Mu Cheng mulai jengah. Namun ia masih menahan diri. Zhang Ai Li terus saja menggoda Guang Xi alih-alih mendiskusikan masalah perceraiannya. Ia mulai mengomentari selera Guang Xi yang tak berubah sambil menoleh pada  Mu Cheng dengan pandangan mencela. Ia mengajak Guang Xi mencari tempat lain untuk berdiskusi. Ia tak mau ada orang lain yang mendengar pembicaraan mereka. Guang Xi malah menawarkan kamarnya.Sepertinya ia sengaja ingin membuat Mu Cheng cemburu.
"Kamarku lebih pribadi dan tak akan ada orang yang menggangu kita," ucap Guang Xi.

Kesabaran Mu Cheng habis. Guang Xi berhasil membuat Mu Cheng menunjukan kecemburuannya.
"Kalian silahkan melanjutkan obrolan disini. Dan tak akan ada orang yang menggangumu. Aku akan kembali ke kamar." Mu Cheng bangun dan berjalan pergi.
"Mu Cheng," panggil Guang Xi. Mu Cheng berhenti. "Sebagai istriku, seharusnya kau membantu pekerjaan suamimu."

Seorang pelayan datang membawa wine. Mu Cheng mengambil wine itu dan berbalik ke meja Guang Xi.
"Kalian sudah berbicara dari tadi. Pasti kalian sangat haus, kan? Kalian ingin minum?" ucap Mu Cheng pura-pura manis.

Guang Xi mengambil botol wine dari tangan Mu Cheng. Ia tersenyum dan kembali membuat Mu Cheng cemburu dengan mengatakan wine itu kesukaan Zhang Ai Li.
"Kau masih ingat? Seleraku tak pernah berubah. Termasuk seleraku pada pria," timpal Zhang Ai Li.

Guang Xi hendak menuangkan wine itu ke dalam gelas Zhang Ai Li, namun Mu Cheng segera menyambar botol wine itu. Ia tak rela Guang Xi memperlakukan Zhang Ai Li dengan istimewa.
"Sayang, aku akan meninggalkan hal penting untukmu. Tapi biarkan aku, ISTRIMU, menangani hal kecil seperti ini," seru Mu Cheng.
Mu Cheng hendak menuangkan wine. Namun Zhang Ai Li menolak. Ia malah mengakhiri pembicaraan ini.
"Kita akan berbicara lagi nanti. Di kamarmu, Guang Xi."
"Nona Zhang, apa aku perlu memesan wine yang sama saat kau datang ke kamar kami malam ini?" sindir Mu Cheng.

Zhang Ai Li mengabaikan pertanyaan Mu Cheng. Ia berlalu pergi. Mu Cheng menaruh botol wine dengan kesal. Guang Xi tersenyum penuh kemenangan karena telah berhasil membuat Mu Cheng cemburu.


Zhang Ai Li memastikan tak ada paparazzi yang membututinya. Ia juga memerintahkan anak buahnya menyelidiki Guang Xi. Ia mendapat laporan bahwa Guang Xi memesan villa sendiri dengan double bedroom. Zhang Ai Li merasa ada yang tak beres dengan pernikahan mereka. Ia segera menghubungi Guang Xi dan mengajaknya makan malam.


Setelah menutup telepon dari Zhang Ai Li, Guang Xi meminta Mu Cheng bersiap-siap.
"Aku rasa dia hanya ingin makan malam denganmu," jawab Mu Cheng menolak ajakan Guang Xi.
"Sepertinya arti di balik ucapanmu adalah cemburu," komentar Guang Xi.
"Kau berpikir berlebihan. Aku hanya tak mengerti. Mengapa perlu interaksi intim dalam bisnis?" balas Mu Cheng.

Guang Xi tertawa.
"Zhang Ai Li hanya teman lama. Tak peduli bagaimana anggapanmu. Aku lebih dulu mengenalnya sebelum bertemu denganmu. Dapat dikatakan, kau bisa dianggap sebagai orang ketiga dalam hubungan cinta ini."
"Orang ketiga? Ini bukan masalah orang yang muncul pertama atau ketiga," seru Mu Cheng kemudian cemberut.
"Lalu bagaimana dengan kau yang masih berhubungan dengan Hua Tou Ye? Bahkan kau hampir menikah dengannya."
"Tuo Ye dan aku selamanya hanya berteman. Aku setuju menikahinya hanya karena aku dipaksa olehmu yang mengatakan akan merebut Xiao Le dariku."
"Sungguh? Mengapa kau menjelaskan semuanya padaku? Seperti kau peduli saja tentang itu," ucap Guang Xi sambil melepas kancing bajunya satu persatu. Mu Cheng ketakutan. Ia buru-buru masuk ke dalam kamar mandi. Setelah menutup pintu Mu Cheng senyum-senyum sendiri.


Guang Xi tengah bersiap-siap pergi dinner dengan Zhang Ai Li. Mu Cheng membantunya memakai dasi. Mu Cheng berkomentar Guang Xi masih saja tak mahir memakai dasi sendiri.

Guang Xi berkata seorang pria tak pernah belajar melakukan hal-hal seperti ini karena mereka menunggu seorang gadis untuk membantunya. Selama bertahun-tahun Guang Xi masih belum bisa memakai dasi karena ia juga tengah menunggu seseorang. Ia menatap Mu Cheng. Mu Cheng grogi. Ia diselamatkan oleh bunyi ponselnya. Ia kira Bibi Zhang yang menelepon ternyata dari Direktur Fang. Ia langsung memberikannya pada Guang Xi. Direktur Fang komplain karena Guang Xi dan Mu Cheng meninggalkan Xiao Le sendirian dan segera mematikan telepon karena ia mau memberikan suntikan insulin untuk Xiao Le. Guang Xi dan Mu Cheng tersenyum.


Direktur Fang membantu Xiao Le memberikan suntikan insulin. Ia membuka baju Xiao Le. Xiao Le meminta Direktur Fang menyuntik di lengannya saja karena di perutnya sudah banyak lubang. Direktur Fang trenyuh.

Xiao Le meringis kesakitan ketika Direktur Fang menyuntiknya.
"Apa aku melukaimu?" Direktur Fang khawatir.
"Xiao Le tak takut sakit. Kau cukup membantu meniup saja," jawab Xiao Le.

Direktur Fang tampak ragu-ragu. Tapi akhirnya menuruti permintaan Xiao Le.
"Dingin dan sangat nyaman," komentar Xiao Le.
Xiao Le bercerita Mu Cheng pernah memberitahunya bahwa ibu dari ayah luar angkasanya adalah ibu paling baik di seluruh dunia. Direktur Fang terharu, tapi berusaha menutupinya.

Direktur Fang bertanya mengenai kehidupan Xiao Le dan Mu Cheng di desa Hua Tian. Xiao Le berkata Hua Tian adalah desa yang sangat indah dan semua orang disana sangat ramah.
"Kau tak ingin kembali kesana?" tanya Direktur Fang.
"Aku tak ingin kembali kesana tanpa ayah ikut bersamaku."
"Kenapa?"
"Karena ketika Mu Cheng merawatku sendiri, dia harus menanam bunga, mengantar susu dan juga bekerja di balai desa. Aku tak suka ia sangat sibuk."
"Bukankah disana ada seseorang bernama Hua Tuo Ye yang menjaga kalian berdua?"
"Dia Da Zai-ku. Mu Cheng tak suka menyusahkannya. Hanya ketika aku sakit dan Mu Cheng juga sakit, kita meminta bantuan Da Zai," beritahu Xiao Le.
Direktur Fang baru tahu perjuangan Mu Cheng membesarkan Xiao Le seorang diri. Ia membandingkan dengan dirinya yang juga merawat Guang Xi seorang diri setelah ayah Guang Xi meninggal. Ia bergumam Mu Cheng adalah wanita yang kuat.

Direktur Fang menyuruh Xiao Le mengerjakan PR. Xiao Le memberitahu gurunya memberikan PR Ecology Trip. Direktur Fang bersedia membantu Xiao Le. Saking gembiranya Xiao Le sampai berlari memeluk Direktur Fang. Kali ini Direktur Fang tak marah. Xiao Le tersenyum lebar. Direktur Fang ikut tersenyum sambil membelai rambut Xiao Le. Lalu gantian memeluknya.


Tuo Ye membalut luka di tangannya dengan perban. Lalu ia mengambil jimat pemberian Chi Xin dan memakainya. Bibi Hua masuk membawa segepok uang. Ia melihat jimat di leher Tuo Ye dan teringat pada Chi Xin. Bibi Hua sangat sedih kehilangan putrinya.

Di matanya Chi Xin adalah anak yang perhatian dan patuh. Chin Xin selalu mengutamakan kepentingannya dan Tuo Ye. Chi Xin sangat mengkhawatirkan Tuo Ye, makanya ia membuat jimat untuk Tuo Ye.
"Dia sangat patuh. Kadang-kadang aku sampai lupa bahwa dia bukan putriku. Aku bersedia menukar uang 1 juta agar putriku kembali," isak Bibi Hua.
"Bu, aku akan segera membawa Chi Xin pulang," janji Tuo Ye.


Sebelum makan malam Zhang Ai Li menghubungi Guang Xi lagi. Ia beralasan memerlukan print out berkas-berkas perceraiannya. Guang Xi pergi menge-print berkas itu untuk Zhang Ai Li. Ia berpamitan pada Mu Cheng.
Setelah Guang Xi pergi, Zhang Ai Li malah mendatangi kamar Mu Cheng bersama anak buahnya. Ia berpura-pura tak tahu Guang Xi pergi dan berinisiatif menunggunya di dalam.

Zhang Ai Li mengomentari selera busana Mu Cheng yang buruk. Ia menawarkan pinjaman baju. Tanpa perlu menunggu jawaban, ia menarik Mu Cheng ke kamarnya. Sementara itu anak buahnya mengambil ponsel Mu Cheng.


Mu Cheng selesai berdandan dengan mengenakan baju Zhang Ai Li. Saat hendak membuka pinta kamar, ternyata pintunya terkunci. Zhang Ai Li sengaja mengurung Mu Cheng di dalam kamarnya.


Guang Xi kembali. Ia tak menemukan Mu Cheng di dalam kamarnya. Guang Xi mencoba menghubungi ponsel Mu Cheng. Seseorang diseberang sana me-reject teleponnya. Guang Xi mencari Mu Cheng sambil terus menghubungi ponsel Mu Cheng. Ia mulai frustasi saat nomor telepon Mu Cheng malah tak aktif.


Guang Xi menemui Zhang Ai Li dengan wajah kesal. Zhang Ai Li berpura-pura menanyai Mu Cheng. Guang Xi menjawab tiba-tiba Mu Cheng menghilang dan ponselnya tak dapat dihubungi. Ia sudah mencari Mu Cheng kemana-mana namun hasilnya nihil. Tiba-tiba ponselnya berbunyi. SMS dari Mu Cheng: Maaf, aku tak ingin berada disini. Aku pulang duluan.
Guang Xi marah dan membanting ponselnya ke meja.


Sementara itu Mu Cheng masih berusaha membebaskan dirinya dari dalam kamar. Ia mencoba menelepon, namun kabel teleponnya telah diputus. Mu Cheng memutar otak. Tiba-tiba ia melihat penyemprot air untuk kebakaran di langit-langit. Mu Cheng langsung mendapat akal. Kebetulan ada korek gas di atas meja.


Zhang Ai Li menghibur Guang Xi yang tengah marah. Ia juga mempengaruhi Guang Xi untuk menceraikan Mu Cheng karena akan banyak wanita lain yang menunggunya. Suasana hati Guang Xi terlalu buruk, ia tak mengindahkan ucapan Zhang Ai Li.
Zhang Ai Li mulai merayu Guang Xi. Ia mengaku tak bisa melupakan Guang Xi. Guang Xi dianggapnya lebih baik dari suami-suami terdahulunya.
"Aku tak pernah berpikir kau lebih peduli tentangku dibandingkan istriku," ucap Guang Xi.
"Tentu saja. Kau tak seharusnya membuang waktumu bersama wanita yang bahkan tak mencintaimu."
Dari bawah tanpa mereka sadari seorang paparazzi mengabadikan kebersamaan mereka.


Mu Cheng berhasil keluar kamar setelah petugas wanita membawa alat pemadam kebakaran ke kamar Zhang Ai Li. Ia keluar dalam keadaan basah kuyup.


Zhang Ai Li masih saja mencoba merayu Guang Xi. Duduknya makin merapat pada Guang Xi. Ia mulai berani menyenderkan kepalanya di bahu Guang Xi. Guang Xi jengah. Ia menyentak kepala Zhang Ai Li. Paparazzi tadi masih saja mengambil gambar mereka berdua dari jarak dekat.

Bukannya mendiskusikan mengenai perceraiannya, Zhang Ai Li malah semakin semangat merayu Guang Xi. Mu Cheng datang. Ia sempat melihat keakraban mereka. Guang Xi menyadari ada seseorang yang mengambil gambar mereka secara diam-diam. Ia bergegas berlari ke arah paparazzi itu dan menarik lengannya.

Paparazzi itu tak merasa bersalah dengan perbuatannya.
"Aku dengar wanita kaya Zhang Ai Li akan bercerai. Jika sampai terekspos dia memiliki affair dengan pengacara terkenal Ren Guang Xi. Aku tahu akan sangat bagus jika aku memberitakan ini."
"Dengan foto itu dan cerita karanganmu, apa kau percaya jika aku akan menuntutmu ke pengadilan?" ancam Guang Xi.
"Siapa yang ingin tahu kebenaran. Pembaca lebih menyukai foto-foto itu dan cerita karangan. Jika kau ingin menuntutku. Maka aku bahkan dapat mengatakan bahwa kau melakukan itu karena kau bersalah."
Guang Xi murka. Ia hendak memukul paparazzi kurang ajar itu. Tanpa di duga Mu Cheng muncul.
"Baiklah jika kau ingin menulis itu. Tapi tolong jangan menyeret suamiku ke dalam masalah ini."
"Siapa kau?" tanya paparazzi.
"Aku istri Ren Guang Xi. Baru saja, Nona Zhang Ai Li mengunciku di dalam kamar. Dia melakukan itu sehingga dia dapat bersama dengan suamiku sendirian," beber Mu Cheng.

"Nona Zhang, enam tahun lalu demi untuk membalas dendam pada Guang Xi, kau mengikatku. Enam tahun kemudian untuk merayu Guang Xi, kau mengurungku. Mengapa kau tidak dapat melihat dengan jelas? Setelah 6 tahun, kau menggunakan cara yang sama untuk melukai kami, tapi kau tak pernah menduga bahwa itu sebenarnya membuat kami berdua lebih dekat. Mengapa kau tak menyesali pernikahanmu sendiri dan bertanya pada diri sendiri mengapa pernikahanmu tak pernah langgeng dan bukannya mencoba merusak rumah tangga orang lain! Apakah kau berpikir jika kau memaksa seseorang berada di sisimu, kau mampu memberikan cinta sejati? Mungkin alasan terbesar kau kehilangan 4 kali pernikahan karena dirimu sendiri. Karena kau tak tahu bagaimana menghargai orang-orang disekitarmu."
Zhang Ai Li tak berkata apa-apa untuk menyanggah ucapan Mu Cheng. Ia hanya tertunduk malu.

Paparazzi sepertinya mendapat cerita yang lebih menarik. Ia mengambil gambar Mu Cheng. Sebelum pergi Guang Xi meminta Zhang Ai Li mengembalikan ponsel Mu Cheng.
"Jika kau bersedia, aku masih mau menjadi pengacarmu. Gratis. Karena kau membiarkan aku melihat bagaimana seorang wanita dengan sangat berani melindungi prianya hari ini. Scene seperti ini sangat berharga," ucap Guang Xi.
Mu Cheng dan Guang Xi pergi sambil bergandengan tangan menuruni tangga.


Mereka kembali ke kamar.
"Aku pikir kau benar-benar pergi," ucap Guang Xi.
"Aku adalah orang yang selalu kau salah pahami. Aku minta maaf. Apa aku muncul terlalu cepat? Apa aku mengganggu kau dan Zhang Ai Li dari mengenang masa lalu kalian yang indah?" sahut Mu Cheng
"Apa yang kau katakan di depan reporter semua bohong, kan? Atau itu perasaanmu yang sebenarnya?"
"Perasaanku nyata. Tapi apakah kau peduli aku jujur atau tidak? Kau sama sekali tak peduli. Kau hanya berpikir itu lelucon," Mu Cheng sudah kehilangan kesabaran menghadapi sikap Guang Xi.

Guang Xi masih sulit untuk memberikan kepercayaanya pada Mu Cheng. Ia takut disakiti lagi olehnya.
"Apa kau sungguh-sungguh berpikir begitu?" Guang Xi masih sangsi
"Kau tak perlu mengingatkanku. Aku tahu posisiku dengan sangat baik. Selain ibu dari Xiao Le, aku bukan siapa-siapa. Aku tahu kau tak mencintaiku sedikitpun. Alasan kita bersama karena kau ingin balas dendam padaku. Kau akan balas dendam sampai kau puas. Hari ketika kita meninggalkan di rumah sakit, berjalan-jalan bersama. Aku sangat naif berpikir mungkin kita dapat kembali seperti dulu. Aku meyakinkan diriku sendiri mungkin aku masih harus bekerja keras untuk pernikahan kita. Tapi jika kau masih ingin aku menjalankan peranku sebagai ibu Xiao Le, di masa mendatang tolong jangan bawa aku dalam perjalanan bisnis seperti ini. Biarkan aku tinggal di samping Xiao Le."
"Mengapa kau tak pernah mengatakannya padaku?"
"Apa kau peduli? Kau tahu di dekatmu sepanjang hari membuatku sangat takut dan waspada. Hidup seperti ini membuatku merasa selalu ketakutan."

Guang Xi baru menyadari apa yang dirasakan Mu Cheng selama ini. Mu Cheng meminta maaf karena mengatakan ini semua. Guang Xi mendekat dan memegang bahu Mu Cheng. Mu Cheng tertegun memandang Guang Xi yang mulai melunak.
"Bagaimana jika aku juga mengatakan hal seperti itu? Karena aku juga takut. Itulah mengapa aku mendorongmu menjauh. Karena kurang keberanian untuk mencari jawaban, itulah mengapa aku menghindar. Karena masa lalu kita diisi dengan kebohongan. Ketika aku melihatmu, aku terus-menerus mencoba mengira-ngira mana yang nyata dan mana yang palsu."

Guang Xi melepaskan tangannya. Ia senang Mu Cheng mengeluarkan kemarahannya. Jadi sekarang ia tahu perasaan Mu Cheng yang sesungguhnya. Guang Xi menjelaskan diantara dirinya dan Zhang Ai Li tak ada apa-apa.
"Kau tak perlu menjelaskannya padaku," ucap Mu Cheng.
"Aku harus menjelaskannya padamu. Karena kau Nyonya Ren," sahut Guang Xi.

Perlahan Guang Xi mulai membuka hatinya lagi untuk Mu Cheng. Ia berkata seharusnya mempercayai semua ucapan Mu Cheng. Ia ingin membangun kembali hubungan mereka. Mu Cheng meminta maaf karena belum bisa mengatakan alasannya mengapa dulu sampai meninggalkan Guang Xi. Guang Xi ingin mendengar pengakuan dari Mu Cheng. Ia ingin tahu alasan Mu Cheng meninggalkannya 6 tahun lalu. Guang Xi membuat janji dengan Mu Cheng. Ia akan menunggu Mu Cheng makan malam di restoran pinggir pantai.


Xiao Le dan Direktur Fang pergi ke pantai. Mereka berburu biota laut dan bersenang-senang disana.

Direktur Fang mengabadikan keceriaan Xiao Le dalam handycam. Direktur Fang tertawa lepas menikmati kebersamaan mereka.

Setelah puas bermain, Direktur Fang menemani Xiao Le mengerjakan PR-nya. Xiao Le menggambar berbagai jenis biota laut.
"Nenek peri, mengapa kepiting fiddler mempunyai satu tangan besar dibandingkan dengan yang lain?" tanya Xiao Le.
Direktur Fang gelagapan karena ia tak tahu jawabannya.
"Aku tak tahu pasti. Mungkin kau harus bertanya pada Ayah Kepiting dan Ibu Kepiting," jawab Direktur Fang.
"Aku tahu," seru Xiao Le. "Itu karena mereka harus menggendong bayi. Ibu Guru juga mengatakan begitu. Ayah dan Ibu sangat bahagia ketika mereka menggendong bayi. Seperti Xiao Le."
Direktur Fang tersenyum. Ia memuji kecerdasan Xiao Le. Xiao Le bertanya apa Direktur Fang juga pernah menggendong ayahnya. Direktur Fang menjawab jika Guang Xi sudah besar, jadi ia tak mungkin menggendongnya lagi. Xiao Le berkata jika dirinya sudah besar, ia masih ingin Mu Cheng menggendongnya. Direktur Fang baru sadar selama ini hubungannya dengan Guang Xi sangat renggang. Direktur Fang termenung sambil membelai kepala Xiao Le.

Direktur Fang mengajak Xiao Le pulang. Xiao Le tengah memunguti sampah di sekitar pantai. Ibu Guru menganjurkan murid-muridnya memunguti sampah sebelum pulang. Tak sengaja Xiao Le menemukan sebuah kalung. Ia memperlihatkan kalung itu pada Direktur Fang. Ia berniat memberikan kalung itu pada Mu Cheng. Seorang gadis menghampiri Xiao Le dan mengakui kalung itu sebagai miliknya. Ia menuduh Xiao Le mencuri kalung itu. Ia tak percaya dengan penjelasan Xiao Le yang mengatakan menemukan kalung itu diatas pasir. Xiao Le berdebat dengan gadis itu.

Direktur Fang segera menghampiri mereka.
"Nona, aku neneknya. Ada apa?" tanya Direktur Fang.
"Cucumu mencuri kalungku," jawab gadis itu.
"Sebelum masalahnya jelas, tolong jangan berbicara omong kosong. Aku duduk disana dan dari awal dia tidak pernah meninggalkanku. Bagaimana bisa kau mengatakan dia yang mencuri barangmu? Dia hanya mengatakan akan memberikan kalung itu pada ibunya."

Gadis itu tetap ngotot jika Xiao Le mencuri kalungnya. Jika tidak mengapa tak menghubungi kantor polisi, malah berencana membawanya pulang.
"Coba kau pikir, ketika seorang anak kecil mengambil barang itu, apa dia tahu berapa harganya? Lagipula dia masih sangat kecil, ketika dia menemukan sesuatu, apa dia mengerti untuk melaporkannya ke kantor polisi? Aku pikir sangat jelas tujuannmu adalah untuk mengganggu anak kecil ini."
Gadis itu hendak membantah. Pacar gadis itu datang mempertanyakan kalungnya. Gadis itu mengadu pada pacarnya jika Xiao Le dan neneknya mencuri kalungnya. Pria itu mengenali Direktur Fang. Ia merasa tak enak dan meminta pacarnya menghentikan tuduhannya. Direktur Fang juga mengenali pria itu.
"Dia Direktur di kampus kita. Bagaimana mungkin dia mencuri kalung murah milikmu? Berhenti membuat masalah. Cepat minta maaf!" perintahnya

Gadis itu tampak malu dan langsung meminta maaf. Direktur Fang tidak begitu saja menerima permintaan maafnya. Ia menyuruh gadis itu membuat surat permintaan maaf. Pria itu membawa pacanya pergi. Sambil berjalan ia memuji Direktur Fang sangat keren karena sampai bertelanjang kaki demi menemani cucunya bermain. Direktur Fang baru sadar tak memakai sepatu. Ia tersenyum lalu mengajak Xiao Le pulang.


Guang Xi mendapat MMS dari Xiao Le. Ia mengirim fotonya dan Direktur Fang yang sudah menghabiskan waktu bersama di pantai. Guang Xi tertawa bahagia. Akhirnya ibunya sudah mau menerima kehadiran Xiao Le sebagai cucunya.

Beberapa saat kemudian ponselnya berbunyi lagi. Guang Xi mendapat pesan baru. Setelah membuka pesan itu, kali ini wajahnya dipenuhi amarah.

3 komentar:

  1. wah baru aja dir fang mulai nerima Xiao Le, bakal ada masalah baru kalo ampe Guang Xi tau sapa yang bikin mu cheng pergi...

    BalasHapus
  2. uwahh sms apakah yg diterima guang xi??
    gak apalah guang xi tau kebenarannya,. yang penting ibunya kan udah berubah skrg...
    udah mw ending yaa..?

    BalasHapus
  3. buruan lanjutin siiiiiiii penasrn ama kelanjutanya, ini yg nulis bagus bgt trus niat bgt lg byk dialog yg pd ditulis! makash ya fighting

    BalasHapus

Comment