Jumat, 17 Juni 2011

Sinopsis Autumn's Concerto Episode 17



Mu Cheng membantu Xiao Le mandi. Xiao Le tampak murung. Namun ia enggan menceritakan penyebabnya pada Mu Cheng. Mu Cheng bisa menebak Xiao Le mendapat perlakuan kurang menyenangkan dari teman-teman barunya di sekolah. Xiao Le hanya mengatakan bahwa teman-temannya berbicara dalam bahasa inggris yang ia tak mengerti. Mu Cheng berjanji ia dan Guang Xi akan mengajari Xiao Le bahasa Inggris.

Xiao Le berkata merindukan Tang Tang. Ia meminta izin Mu Cheng untuk menelepon Tang Tang. Mu Cheng meminjaminya ponsel. 
"Mu Cheng, aku ingin berbicara rahasia dengan Tang Tang. Kau tak boleh mendengar," ucap Xiao Le sambil menarik tangan Mu Cheng keluar dari kamarnya. 

Ternyata bukan Tang Tang yang ingin dihubungi Xiao Le. Dia malah menghubungi Da Zai-nya. Awalanya Tuo Ye enggan menerima telepon yang dikira dari Mu Cheng. Bin Zai membujuk Tuo Ye untuk mengangkat teleponnya. Dengan enggan Tuo Ye menjawab telepon itu dengan nada ketus.

Di seberang sana Xiao Le berseru memanggil namanya. Xiao Le menceritakan perlakuan teman-temannya di sekolah yang mengejek Guang Xi. Berita buruk mengenai reputasi Guang Xi berimbas juga pada Xiao Le. Xiao Le tak mengerti apa yang ucapan oleh teman-temannya. Jadi, ia bertanya pada Tuo Ye. Xiao Le tak berani memberitahu Mu Cheng karena takut Mu Cheng mengkhawatirkannya. Tuo Ye berbohong dengan mengatakan yang baik-baik agar Xiao Le tak sedih.

"Da Zai, apa kau membohongiku? Kau tak ingin aku sedih, kan?" tebak Xiao Le.
Tou Ye meyakinkan Xiao Le bahwa ia tak membohonginya. Lalu ia menyuruh Xiao Le segera tidur. Xiao Le berkata ia dan Mu Cheng sangat merindukan Tuo Ye. Tuo Ye terharu.


Tuo Ye dan Bin Zai melihat seorang gadis dipaksa masuk ke dalam sebuah mobil. Mereka mengenal pria itu sebagai Fang Ge. Bin Zai berkata gadis itu sepintas mirip Chi Xin. Tuo Ye menarik Bin Zai untuk bersembunyi. Ia tak mau cari masalah lagi dengan Fang Ge.

Setelah mobil itu pergi, tak sengaja Tuo Ye menemukan jimat milik Chi Xin yang tak sengaja terjatuh. Begitu melihat jimat itu, Tuo Ye langsung tahu bahwa gadis yang barusan dibawa Fang Ge adalah Chi Xin. Tuo Ye bergegas berlari mengejar mobil itu sambil meneriaki nama Chi Xin. Namun mobil itu telah lenyap. Sekali lagi Tuo Ye kehilangan Chi Xin.


Atas saran Pengacara Lin, Mu Cheng masuk ke ruang belajar Guang Xi. Pengacara Lin meminta Mu Cheng lebih mengenal Guang Xi dari ruangan itu. Disana banyak buku-buku milik Guang Xi. Mu Cheng menarik salah satu buku di rak. Ia menemukan banyak tulisan tangan Guang Xi. Mu Cheng baru tahu Guang Xi belajar sangat keras setelah pulih pasca operasi. Mu Cheng membaca biografi Guang Xi yang dimuat dalam sebuah majalah. Guang Xi lulus kuliah hukum hanya dalam waktu 3 tahun. Guang Xi bercita-cita menjadi pengacara karena ia sering bermimpi ada di dalam persidangan membela seorang wanita. Guang Xi merasa wanita itu sangat penting untuknya. Melihat ketidakberdayaannya dan airmatanya membuat Guang Xi ingin berjuang untuknya. Ketika orang-orang mempercayainya itulah alasan kuat Guang Xi menjadi pengacara. Guang Xi yang hilang ingatan mengira kejadian nyata itu hanya sebuah mimpi yang memacu dirinya mewujudkan cita-citanya menjadi pengacara. Mu Cheng terkesan dengan perjuangan Guang Xi. Ternyata Guang Xi tak sepenuhnya melupakannya. Ia tetap mengingat Mu Cheng dalam mimpi-mimpinya.

Guang Xi datang tiba-tiba mengagetkan Mu Cheng. Guang Xi tak menyukai Mu Cheng masuk ke ruangannya tanpa izin. Mu Cheng berkata sekarang ia tahu alasan Guang Xi memilih menjadi pengacara. Guang Xi merasa tak nyaman membicarakan hal ini. Baginya percuma saja jika semua orang sudah menilainya sebagai pengacara yang berdarah dingin dan tak berhati. Mu Cheng tahu Guang Xi bukan orang seperti itu. Ia mengingatkan aksi pemukulan Guang Xi pada Li Wang Cai. Tapi suasana hati Guang Xi benar-benar sedang buruk. Ia tak mau Mu Cheng membahas hal ini lagi. Bahkan ia juga tak peduli jika Asosiasi Pengacara sampai menyelidiki kasusnya.


Mu Cheng datang ke rumah sakit menjenguk Nona Wu yang menjadi korban pelecehan seksual yang dilakukan oleh Li Wang Cai. Nona Wu mencoba bunuh diri karena merasa keadilan tak berpihak padanya. Ia kalah dalam persidangan. Selain membenci Li Wang Cai, ia juga sangat membenci Guang Xi, pengacaranya.  

Mu Cheng menyembunyikan identitasnya sebagai istri Guang Xi. Nona Wu terlihat depresi. Mu Cheng trenyuh melihat keadaannya. Ia berusaha menghibur Nona Wu dengan menceritakan kejadian yang mirip dengan yang dialami Nona Wu.
"Aku mengerti kesakitanmu. Aku bertemu orang yang tak beruntung sepertimu juga. Anggota keluarga yang hidup dibawah satu atap berubah menjadi binatang paling menakutkan. Setiap malam dia selalu mengecek jendela dan pintu setiap waktu. Bahkan dia mempunyai 3 kunci tambahan di kamarnya. Setiap menit, setiap jam dia selalu ketakutan."
"Lalu apa yang terjadi? Bagaimana dia bisa mengatasinya?" tanya Nona Wu mulai tertarik dengan cerita Mu Cheng.
"Ketika gadis itu tak tahan lagi, ia bertemu dengan seseorang yang selalu mendampinginya, memberinya semangat dan memberitahunya apa saja yang tak bisa ditoleransi lagi."
Nona Wu berkomentar gadis itu sangat beruntung. Sedangkan dia sebatang kara setelah ibunya meninggal. Jika waktu dapat berputar ia juga tak mau melakukan aksi bunuh diri. Nona Wu mengutuk Li Wang Cai dan pengacaranya. Mu Cheng berkata pengacara itu tidak seperti yang dipikirkannya. Mu Cheng mengaku bahwa Guang Xi adalah keluarganya. Ia dikirim Guang Xi kesana untuk meminta maaf. Nona Wu langsung mengamuk setelah tahu maksud kedatangan Mu Cheng. Ia menumpahkan sup yang dibawa Mu Cheng. Akibatnya kuah panas itu mengenai lengan Mu Cheng. Seorang suster datang membantu Mu Cheng menenangkan Nona Wu.
"Aku mohon satu hal padamu, jangan melukai diri sendiri. Mendapatkan musibah ini bukan kesalahanmu. Kau masih mudah. Hidupmu masih banyak kesempatan. Tolong percaya aku. Pengacara Ren, dia sangat menyesal," ucap Mu Cheng meyakinkan Nona Wu.
Nona Wu tak merespon. Ia malah menangis histeris.


Direktur Fang datang ke sekolah Xiao Le setelah mendapat telepon dari pihak sekolah. Xiao Le berlari ke arahnya sambil menangis lalu memeluknya. Guru Xiao Le memberitahu bahwa Xiao Le berkelahi dengan teman sekelasnya. Xiao Le tak mau menghubungi ayah dan ibunya. Ia hanya ingin neneknya yang datang.

Direktur Fang melepas pelukan Xiao Le dengan kasar. Ia memarahi Xiao Le dan menuduh Xiao Le hanya mencari simpatinya. Guru Xiao Le membela Xiao Le. Ia meminta Direktur Fang memberi sedikit perhatiannya pada Xiao Le.


Direktur Fang pulang bersama Xiao Le. Ditengah jalan mereka berhenti dan duduk disebuah bangku taman. Direktur Fang menceritakan masa kecil Guang Xi pada Xiao Le. 


Direktur Fang menasehati Xiao Le agar tak berkelahi lagi dengan temannya. Xiao Le berjanji tak akan mengulanginya lagi. Ia mengulurkan tangannya untuk membuat janji. Direktur Fang tampak ragu-ragu, namun akhirnya ia mengaitkan kelingkingnya dengan kelingking Xiao Le. Xiao Le kagum melihat tangan neneknya yang cantik. Ia mengusap tangan Direktur Fang dan kembali berkomentar tangan Direktur Fang juga hangat.
"Nenek peri, aku berjanji akan mendengarkanmu dan menjadi anak yang baik," janji Xiao Le. Direktur Fang tersenyum. Ia kembali menceritakan masa kecil Guang Xi. 

Xiao Le menarik dirinya mendekat. Direktur Fang menoleh, namun tak berkomentar apa-apa. Ia kembali melanjutkan ceritanya. Xiao Le merebahkan kepalanya di lengan Direktur Fang dan langsung tertidur. Direktur Fang menyadari Xiao Le yang tertidur. Lalu membenahi kepala Xiao Le dan memeluknya. Hati Direktur Fang mulai luluh.



Mu Cheng pulang terlambat setelah dari rumah sakit. Ia bergegas mengecek Xiao Le yang sudah tertidur di kamarnya. Direktur Fang ada di dalam. Mu Cheng meminta maaf. Direktur Fang mengajaknya berbicara di luar.

Di luar Direktur Fang mulai mengomeli Mu Cheng. Ia menganggap Mu Cheng kurang perhatian pada Xiao Le.  Ia yakin pasti Mu Cheng tak tahu apa yang terjadi dengan Xiao Le di sekolah. Mu Cheng berjanji akan memberikan perhatian ekstra untuk Xiao Le.
Guang Xi datang. Ia mendengarkan percakapan ibu mertua dan menantu tanpa mereka sadari.
"Tidak pernah ada seorang anak yang mengerti sebaik Xiao Le. Dia sebenarnya tak ingin ibu dan ayahnya khawatir. Jadi dia memilih mencari neneknya untuk membantunya menyelesaikan masalahnya di sekolah. Kau ibunya. Seharusnya kau memperhatikan mentalnya dengan baik. Masalah seperti ini jangan sampai terjadi lagi," Direktur Fang memberi peringatan pada Mu Cheng. 
Ketika Direktur Fang menoleh ia baru menyadari kehadiran Guang Xi. Guang Xi mengucapkan terima kasih. Direktur Fang tak membalas. Ia malah pergi.

Guang Xi masuk ke kamarnya. Mu Cheng mengikutinya. Wajah Guang Xi tampak lelah. Sepanjang hari ini dia menerima banyak telepon protes dan telepon dari wartawan. Sekarang Guang Xi tak mau diganggu. Ia meminta Mu Cheng meninggalkannya. Mu Cheng menawarkan bantuan.
"Jika kau memerlukan bantuan, kau bisa memberitahuku. Seperti saat itu, kau mengatakan padaku ketika aku memerlukan bantuan aku harus menghubungi Ren Guang Xi," ucap Mu Cheng.
"Kau tak berpikir bahwa kata-kata yang barusan kau ucapkan sangat munafik?" Guang Xi malah marah. "Kita sudah melalui begitu banyak. Seharusnya sekarang kau sangat senang. Pria yang paling kau benci akan terganggu sampai mati. Kau puas sekarang?" Jangan katakan jika aku salah. Jangan katakan aku tidak seperti itu di dalam hatimu!"
"Aku tidak. Tolong jangan gunakan nada dan sikap pengacara untuk bertanya padaku. Aku bukan musuhmu," seru Mu Cheng.
Amarah Guang Xi tak mereda juga. Ia masih tak bisa menerima kebaikan dari Mu Cheng. Apapun yang dilakukan Mu Cheng selalu salah di matanya. Guang Xi menarik lengan Mu Cheng. Tanpa tahu ia memegang luka bekas siraman air panas dari Nona Wu. Mu Cheng langsung berteriak kesakitan. Guang Xi heran dengan reaksi Mu Cheng. Mu Cheng berusaha menutupi lukanya. Guang Xi memaksa dengan menarik lengan baju Mu Cheng. Ia kaget melihat lengan Mu Cheng yang ruam-ruam merah.
"Aku pergi menemui Nona Wu hari ini. Aku tak hati-hati dan tersiram air panas. Aku baik-baik saja," beritahu Mu Cheng.
Guang Xi kesal. Ia duduk di sofa.
"Tidakkah itu cukup? Aku benar-benar benci kau selalu memikirkan orang lain. Tidaklah kau berpikir untuk dirimu sendiri sedikit saja?"
"Itu karena masalahmu dan aku keluargamu. Jadi itulah mengapa aku melakukan ini."
Mu Cheng yakin sebenarnya di dalam hati Guang Xi memiliki keraguan saat membela Li Wang Cai. Itulah sebabnya Guang Xi sampai memukul Li Wang Cai di dalam persidangan. Karena loyalitas Guang Xi sebagai pengacara, makanya Guang Xi tak bisa melakukan apapun pada Nona Wu. Mu Cheng sangat ingin membantu Nona Wu. Apalagi ia seorang diri menghadapi masalahnya. Ia tak peduli walaupun Nona Wu akan menolaknya nanti.

Mu Cheng jongkok di depan Guang Xi. Ia menggenggam tangan Guang Xi.
"Ketika seluruh dunia mengkritikmu, kau harus ingat bahwa keluargamu tak akan meninggalkanmu. Ketika seseorang menggunakan kasus ini untuk melukai Xiao Le. Xiao Le akan melawan balik untuk ayahnya. Karena kita berdua percaya bahwa semua perbuatanmu sudah kau pikirkan masak-masak dan datang dengan keputusan yang terbaik."
"Haruskah aku percaya dengan apa yang kau ucapkan?" tanya Guang Xi sangsi.
"Tentu saja," Mu Cheng menatap Guang Xi.

Ponsel Mu Cheng berbunyi. Pihak rumah sakit menghubunginya karena Nona Wu mendadak hilang dari rumah sakit. Guang Xi bertanya apa saja yang dibicarakannya dengan Nona Wu di rumah sakti tadi. Mu Cheng tampak berpikir sejenak. Ia menduga Nona Wu mendatangi kediaman Li Wang Cai. Ia dan Guang Xi bergegas pergi mencarinya kesana.


Benar saja Nona Wu mendatangi rumah Li Wang Cai. Li Wang Cai turun dari taksi dalam keadaan mabuk. Nona Wu langsung menyerang Li Wang Cai dengan sebilah pisau. Karena mabuk Li Wang Cai tak berdaya. Guang Xi datang menghalanginya. Melihat Guang Xi, Nona Wu makin histeris. Ia juga berniat membunuh Guang Xi. Mu Cheng ikut membantu menenangkan Nona Wu. Ia berusaha merampas pisau ditangan Nona Wu. Lagi-lagi  Mu Cheng kena apes. Tak sengaja pisau itu melukai punggungnya. Guang Xi panik melihat darah di punggung Mu Cheng. Ia segera membuka jasnya dan memakaikannya pada Mu Cheng yang kesakitan. Nona Wu menangis ketakutan menyesali perbuatannya. Guang Xi marah. Ia hendak menghampiri Nona Wu, namun segera ditahan Mu Cheng.

Mu Cheng bangun. Ia menenangkan Nona Wu.
"Jangan takut. Aku akan membawamu kembali ke rumah sakit. Aku tak akan meninggalkanmu sendirian lagi. Aku pernah ingin melakukan yang sama pada bajingan itu. Tapi sebelum aku melakukannya, aku bertemu dengannya. Dia tinggal disampingku dan aku tak lagi mengalami penderitaan."
"Jadi orang itu adalah kau," isak Nona Wu.
Mu Cheng mengangguk lalu memeluk Nona Wu untuk menguatkannya.


Guang Xi membawa Mu Cheng ke rumah sakit. Mu Cheng mendapat beberapa jahitan pada lukanya. Guang Xi duduk di ruang tunggu bersama Nona Wu.



Guang Xi meminta maaf pada Nona Wu. Ia merasa bertanggung jawab atas apa yang barusan terjadi. Ia meminta pengertian Nona Wu bahwa apa yang dilakukannya selama ini adalah profesionalitasnya sebagai pengacara. Guang Xi sadar perbuatannya juga telah melawan hati nuraninya sendiri. Ia tak menyalahkan Nona Wu karena telah melukai Mu Cheng. Nona Wu menangis di sampingnya.
"Aku tahu pekerjaanmu. Tapi apakah kau tahu hatiku sangat terluka," ucap Nona Wu.
"Aku tahu. Apa yang kau butuhkan adalah kami berhubungan denganmu dan memahami penderitaanmu."
"Kau tahu istrimu juga mengatakan hal yang sama sepertimu. Hanya saja aku menolaknya. Kalian berdua pasti saling mencintai, sehingga kalian berdua bisa mengatakan hal yang sama persis dan menolong orang tanpa pamrih," ucap Nona Wu. Guang Xi tersenyum.

Mu Cheng keluar. Ia menghampiri mereka berdua. Nona Wu kembali menangis mengingat Li Wang Cai masih bisa menghirup udara bebas.
"Tidak adakah orang yang bisa menghukumnya?" isaknya.



Guang Xi mendapat telepon dari Pengacara Lin. Ternyata Guang Xi telah menyiapkan perlawanan untuk menyerang balik Li Wang Cai. Ia meminta Pengacara Lin menyerahkan bukti rekaman video pelecehan seksual yang dilakukan Li Wang Cai pada pihak kepolisian. Pengacara Lin memperingatkan Guang Xi akan dampaknya. Guang Xi bisa saja kehilangan pekerjaannya sebagai pengacara. Guang Xi tak peduli. Ia sudah yakin akan menempuh cara ini untuk menebus kesalahannya pada Nona Wu.

Pengacara Lin mendatangi kantor polisi. Li Wang Cai sedang ribut minta dibebaskan. Pengacara Lin menyarankan polisi untuk menahan Li Wang Cai dengan menyerahkan kaset video miliknya. Li Wang Cai murka dan mengancam akan melaporkan Guang Xi pada Asosiasi Pengacara. Polisi langsung menyeretnya ke dalam sel tahanan.

Pengacara Lin menghubungi Direktur Fang. Ia mengabarkan baru saja menyerahkan bukti video itu pada polisi. Direktur Fang malah marah. Pengacara Lin berkata seharusnya Direktur Fang bangga atas keberanian Guang Xi. Pengacara Lin memintanya untuk membantu Guang Xi. Direktur Fang menyahut bahwa ia tak peduli apa yang dilakukan Guang Xi. Namun perlahan ia menyunggingkan senyuman.

Direktur Fang menelepon Guang Xi. Ia mengomeli tindakan putranya yang gegabah dan tak memikirkan akibatnya ke depan dengan status pengacaranya. Guang Xi hanya diam saja. Direktur Fang mulai melunak.
"Mulai dari sekarang, kau bisa mendiskusikannya denganku. Mungkin aku bisa membantumu mencari jalan keluar. Jadi hasilnya tidak akan terlalu buruk."
Guang Xi tersenyum senang. "Kau pasti akan membantu. Bukankah spesialisasimu membereskan kekacauan yang kutimbulkan?"
"Aku sudah mengirimkan e-mail yang kau butuhkan dari bantuanku. Hanya ini yang bisa dilakukan oleh Direktur Univesitas Sheng De," tutup Direktur Fang.

Nona Wu masih tak sependapat dengan tindakan Guang Xi.
"Apa ini ide bagus dengan menyerahkan kaset video itu pada polisi?"
"Paling buruk, aku akan kehilangan pekerjaanku besok," jawab Guang Xi enteng.
Nona Wu hendak membantah lagi.
"Jangan khawatir, keluargaku kaya. Tak masalah jika aku menjadi pengangguran selama setahun. Selain itu keluargaku pemilik universitas. Aku pikir dengan bakatku, seharusnya tak masalah jika aku mengajar di fakultas hukum," ucap Guang Xi membanggakan diri. Nona Wu hanya tersenyum kecil.
"Kau tak percaya padaku? Kau akan tahu setelah kau datang ke Universitas Sheng De. Aku akan mengirimkan e-mail tentang informasi Univesitas Sheng De nanti malam. E-mail itu berisi persyaratan untuk ujian masuk serta formulir aplikasi untuk beasiswa. Jika mungkin, tolong balas besok pagi."
Nona Wu menatap Guang Xi tak percaya. Guang Xi menasehati Nona Wu jika tragedi yang dialaminya bukanlah akhir dari hidupnya. Ia menyarankan Nona Wu menjadi orang baru. Nona Wu tersenyum. Ia berterima kasih pada Guang Xi dan Mu Cheng.



Guang Xi dan Mu Cheng berjalan pulang. Di tengah jalan Mu Cheng mengucapkan terimakasih.
"Untuk apa?" tanya Guang Xi.
"Terimakasih karena kau memberikan kesempatan gadis itu memulai lagi dari awal. Seperti yang kau lakukan padaku dulu," ucap Mu Cheng.
"Kau berterimakasih padaku untuk sesuatu yang sangat kecil seperti ini. Haruskah aku membelikanmu hadiah? Mobil? Rumah?" tanya Guang Xi mengibarkan bendera permusuhan lagi dengan Mu Cheng.
"Aku benar-benar bisa mendapatkan hadiah terima kasih?" tanya Mu Cheng.
"Katakan apa yang kau inginkan."
"Aku...Maukah kau berjalan-jalan denganmu," pinta Mu Cheng. "Sedari tadi aku hanya berbaring dan duduk di rumah sakit. Aku ingin berjalan-jalan sebentar."
"Baiklah. Aku lupa bahwa kau orang yang mudah bosan," sahut Guang Xi.


Guang Xi berjalan mendahului Mu Cheng. Mu Cheng menemukan seekor anak burung parkit. Ia mengambil burung itu. Guang Xi tertawa.
"Bagaimana bisa seekor anak burung ada disini?" komentarnya.
"Mungkin dia terjatuh dari pohon," jawab Mu Cheng sambil menengadah ke atas pohon di depan mereka.


Di atas pohon ada sarang burung. Mu Cheng meminta Guang Xi mengembalikan anak burung parkit itu kesana. Mu Cheng tertawa melihat Guang Xi dari bawah. Guang Xi turun. Ia heran melihat tawa Mu Cheng. Mu Cheng berkata setelah 6 tahun ternyata banyak hal yang tidak berubah. Dari kasus Nona Wu yang sama sepertinya dulu sampai menyelamatkan seekor burung. Guang Xi masih saja mendampinginya.
Guang Xi tertawa. "Aku hanya bisa mengatakan bahwa kesialanku adalah aku masih ada di sampingmu," sahut Guang Xi ketus.
Lalu Guang Xi berbalik jalan. Mu Cheng masih saja tersenyum mendengar ucapan Guang Xi. Di depan Mu Cheng, Guang Xi juga ikut tersenyum.


Tuo Ye tak bisa tinggal diam melihat Chi Xin dalam sekapan Fang Ge. Ia mengajak Bin Zai pergi ke markas Fang Ge. Bin Zai ketakutan. Bin Zai tahu reputasi Fang Ge sebagai germo yang kerap memperdagangkan gadis-gadis dan memperlakukan mereka dengan kejam. Bahkan Fang Ge tak segan-segan menggunakan drugs untuk mengontrol gadis-gadis itu. Tuo Ye menyadari Chi Xin dalam bahaya sekarang. Ia mengambil jimat milik Chi Xin. Jimat itu berisi bunga daisy kering. Ia mengingat kembali kebersamaannya bersama Chi Xin.

Flash Back.
Tuo Ye dan Chi Xin sudah bersama-sama sejak SMU. Tuo Ye mengantar Chi Xin melihat ibu kandungnya. Ibu kandung Chi Xin seorang penjual bunga. Chi Xin tak berani menghampiri ibunya. Ia malah kabur. Tuo Ye menarik tangannya dan mengajaknya mendekat. Ibu Chi Xin tak mengenali anaknya. Ia mengira Tuo Ye dan Chi Xin sepasang kekasih yang ingin membeli bunganya. Chi Xin menatap ibunya dalam diam. Matanya berkaca-kaca. Ibu Chi Xin bingung melihat sikap Chi Xin. Tuo Ye membeli serangkai bunga lalu menarik Chi Xin pergi.
Chi Xin menangis karena ibu kandungnya sendiri tak mengenalinya. Tuo Ye menghibur Chi Xin. Ia memberikan bunga yang dibelinya tadi.
"Apa kau tahu arti di balik bunga daisy? Artinya untuk menjaga hati. Kau tak perlu memikirkan siapa ibu kandungmu. Kau tak perlu memikirkan mengapa ibu kandungmu meninggalkanmu. Yang terpenting adalah selama nama margamu Hua, kau adalah putri dari keluarga Hua kami. Kau adikku. Ibu dan aku selamanya akan menjadi keluargamu. Kami akan menjagamu dan memberimu kebahagiaan."

Tuo Ye mulai merasa bersalah pada Chi Xin. Ternyata Chi Xin masih menyimpan bunga daisy darinya. Tuo Ye marah. Ia bertekad menyelamatkan Chi Xin dari tangan Fang Ge.
Anak buah Fang Ge keluar. Ia menyuruh Tuo Ye dan Bin Zai masuk.
"Hua Tuo Ye, aku tak pernah sangat merindukan seseorang sepanjang hidupku. Kau yang pertama. Kau yang membuat mataku seperti ini," sambut Fang Ge.
"Aku tahu Chi Xin disini," ucap Tuo Ye mengutarakan maksud kedatangannya. "Aku juga tahu kau memaksanya menjadi gadis panggilan. Kembalikan dia padaku."

Di ruangan penyekapan Chi Xin mendengar suara Tuo Ye. Ia menggedor-gedor pintu memanggil Tuo Ye. Tuo Ye masih berdebat dengan Fang Ge. Tentu saja Fang Ge tak mau begitu saja melepaskan Chi Xin. Bin Zai ikut marah. Fang Ge mulai mengajukan syarat jika Chi Xin ingin dibebaskan. Ia meminta kompensasi satu juta NT karena Tuo Ye telah merusak wajahnya. Tuo Ye dan Bin Zai syok mendengar jumlah yang diminta Fang Ge. Bin Zai mulai menantang Fang Ge. Anak buah Fang Ge turun tangan dan langsung melumpuhkan Bin Zai dengan mudah. Tuo Ye ikut melawan. Mereka terlibat baku hantam.



"Itu hanya sedikit," tiba-tiba Fang Ge berseru. Menghentikan Tuo Ye yang tengah memukuli anak buahnya. "Aku akan memastikan bahwa aku akan mendapatkan semuanya dari Hua Chi Xin."
"Semua yang kau inginkan uang, kan?" sahut Tuo Ye marah. "Baiklah, 1 juta NT. Aku akan memberikan itu secepatnya."
"Satu juta NT hanya untuk membayar bunga. Jika kau ingin mendapatkan Hua Chi Xin kembali, tukar dengan salah satu tanganmu," ucap Fang Ge sambil mengeluarkan belati.

Chi Xin yang mendengar ucapan Fang Ge berteriak histeris dari dalam kamar. Tuo Ye memandang Fang Ge tajam dan akhirnya ia rela menukar Chin Xin dengan tangannya. Bin Zai berteriak memanggil Tuo Ye. Anak buah Fang Ge menyudutkan Tuo Ye di meja. Fang Ge menggoreskan belatinya di tangan Tuo Ye. Tuo Ye menahan rasa sakit demi menyelamatkan Chi Xin.
Fang Ge menyuruh anak buahnya membawa Chi Xin keluar. Chi Xin diseret keluar dan dilempar ke lantai.
"Tuo Ye, aku minta maaf," ratap Chi Xin pilu melihat Tuo Ye yang sekarat.
Chi Xin menyeret tubuhnya mendekati Tuo Ye.
"Bodoh. Kita akan pulang ke rumah segera," ucap Tuo Ye lemah.
Chi Xin mengulurkan tangannya. Tuo Ye menarik dirinya untuk meraih tangan Chi Xin. Tiba-tiba Fang Ge memegang tangan mereka berdua. Ia mengancam Tuo Ye untuk mendapatkan 1 juta NT dalam waktu 3 hari. Ia juga mengancam akan melenyapkan Chi Xin jika You Ye sampai melapor ke polisi. Lalu ia menyuruh anak buahnya membawa Tuo Ye dan Bin Zai keluar. Tou Ye tak berdaya. Ia hanya bisa berteriak memanggil Chi Xin. Chin Xin juga tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya menangis histeris melihat Tuo Ye diseret keluar.

4 komentar:

  1. wagh mucheng, Guang Xi dir. Fa dan xiao Le sepertinya sudah mengarah ke baerbaikan... cuma kasian ma xinci dan Tou ye... udh mau abis nih

    BalasHapus
  2. dewi, makasih ya udah ada ac nya lagi, shg aku gak kesepian saat jaga si kecil

    BalasHapus
  3. makasie buat recapx,

    fighting!!
    ditunggu sampe selese :))

    BalasHapus
  4. Guang xi guang xi

    BalasHapus

Comment