Minggu, 15 Agustus 2010

Berawal di Jendela Kamar

Horeee...akhirnya CERPEN ini menang dalam Lomba Sang Cerpenis dan Vixxio dan di muat di Graha Sastra

Sebuah mobil van berhenti disamping rumahku. Aku mendongak dari novel terbaruku yang tengah kubaca. Sepertinya rumah di samping rumahku kedatangan penghuni baru. Sudah satu bulan rumah itu kosong semenjak ditinggal pemilik sebelumnya. Dulu rumah itu di huni oleh keluarga Pak Chandra beserta istri dan anak semata wayang mereka yang baru menginjak SMP. Keluarga kecil itu pindah ke Jogjakarta dan sudah sejak sebulan yang lalu rumah itu digantungi papan bertuliskan 'Dijual'. Mobil van itu mengangkut banyak perabotan ruamah tangga. Seorang pria berumur yang agak tambun turun dari mobil diikuti oleh seorang wanita. Sepertinya mereka suami istri calon tetangga baruku. Pria itu tampak memberi komando dengan gerakan tangan pada dua orang laki-laki yang tengah menurunkan lemari kayu dari belakang mobil. Mereka telihat sangat sibuk memindahkan semua perabotan ke dalam rumah. Aku terlonjak kaget saat tiba-tiba ibuku memanggilku dari dalam rumah.
"Citra..."
"Ya, bu..."Aku buru-buru menyahut. Ternyata dari tadi aku terlalu asyik memperhatikan tetangga baruku.
"Disini kamu rupanya." Ibu menghampiriku di dekat kolam ikan di samping rumah. Aku tersenyum. Sikap Ibuku belakangan ini sangat over protektif. Sebentar saja aku hilang dari pandangannya, ia langsung meneriakkan namaku. Padahal aku tak mungkin bisa pergi jauh. Aku hanya bisa berada di sekitar lingkungan rumahku saja.
"Ada tetangga baru, Bu." Aku memberitahu Ibuku. Beliau menengok ke arah rumah sebelah yang hampir selesai bebenah.
"Oh...," gumamnya sambil manggut-manggut. Lalu ia kembali padaku. "Sudah, hampir maghrib. Ayo Ibu bantu kamu mandi," ucapnya sambil membawaku masuk kedalam rumah.


Aku masuk ke dalam kamarku. Menyalakan laptop. Memasang modem USB dan menyalakan internet. Benda kecil ini sangat berguna sekali untukku. Aku tetap bisa terhubung dengan dunia luar tanpa harus menunduk malu  menghindari tatapan penasaran semua orang pada kakiku. Aku bisa ngobrol dengan banyak orang tanpa mereka tahu aku duduk di kursi roda. Aku telah kehilangan kedua kakiku. Dua tahun yang lalu kakiku terpaksa harus di amputasi setelah aku mengalami kecelakaan. Kedua tulang kakiku hancur. Sekarang kakiku hanya sampai dengkul saja. Dan hidupku sekarang bergantung pada kursi roda. Jangan ditanya bagaimana hancurnya aku saat itu. Entah sudah berapa banyak air mata yang ku keluarkan. Sampai sekarangpun aku kerap menangisi kemalanganku. Diam-diam merindukan sepatu high heel yang dulu sering kugunakan. Selalu iri pada orang-orang yang lewat depan rumahku yang tengah berjalan ataupun berlarian. Aku menarik diri dari dunia luar. Tapi untunglah ibuku selalu mendampingiku. Selalu memberiku semangat dan motivasi. Hidup ini indah dan terlalu berharga hanya untuk kau lewati begitu saja. Kau tak punya kaki, tapi kau masih punya tangan yang bisa menopangmu. Mengapa kau tak pergunakan saja apa yang kau punya daripada kau menangisi sesuatu yang sudah hilang. Perkataan ibuku membuat aku mencoba bangkit. Aku belajar menulis, menggambar, melukis bahkan menyulam. Semua hal-hal yang bisa kukerjakan dengan tangan kupelajari. Dan aku tertarik pada dunia tulis menulis. Aku mencoba membuat blog. Menuliskan semua yang ada dalam benakku. Merangkai setiap kata-kata menjadi susunan kalimat yang enak di baca. Lalu aku mulai membuat cerpen. Iseng-iseng mengirimkannya pada majalah. Dan aku memekik senang saat salah satu cerpen kirimanku ternyata diterbitkan. Bukan hanya itu saja aku juga mendapat honor dari cerpen kirimanku. Makin bersemangatlah aku.
Ibuku motivasi terbesarku untuk bangkit dari keterpurukanku. Tapi aku belum berani menghadapi dunia luar. Aku masih takut melihat pandangan orang-orang padaku. Jujur, aku merasa minder dengan keadaanku. Ibuku bilang aku harus sesekali keluar rumah, tapi apa bisa beliau melepasku seorang diri keluar rumah dengan kursi rodaku. Kadang ia saja masih bertindak kelewat berlebihan terhadapku. Ibuku sering sekali membantuku mandi padahal aku bilang aku bisa sendiri. Setiap sejam sekali selalu mengecek keberadaanku. Aku tahu ia melakukan itu bukan karena menganggapku lemah, tapi itulah bentuk rasa sayangnya padaku. Seorang ibu tak kan mau berhenti untuk merawat anaknya.


Aku tengah asyik memindahkan imajinasiku ke layar komputer saat aku mendengar suara petikan gitar. Tanganku berhenti menari di keyboard. Suara gitar itu makin jelas. Aku menoleh ke arah jam di dekatku. Sudah pukul satu dini hari. Tak terasa aku sudah melewatkan malam dengan begadang. Aku menguap lalu mengulet. Merentangkan tangan keatas dan mulai merasakan kantuk. Suara gitar itu masih ada. Aku menge-save tulisanku dan mematikan laptop. Memandangi jendela kamarku lalu memutuskan menggelindingkan rodaku kesana. Aku membuka gorden dan mengintip dari balik jendela mencari sumber bunyi berasal. Ternyata dari rumah sebelah, tetangga baruku. Jendela kamarku berhadapan langsung dengan salah satu kamar di rumah sebelah yang hanya di batasi tembok penyekat yang rendah. Aku melihat seorang laki-laki. Bukan laki-laki yang kulihat tadi pagi. Ia masih muda. Mungkin sebaya atau lebih muda satu tahunan denganku tengah memainkan gitarnya. Jendela kamarnya terbuka. Makanya aku bisa dengan jelas mendengar suara petikan gitarnya. Aku terbuai mendengar alunan gitarnya yang merdu. Aku tak tahu lagu apa yang ia mainkan. Masih asing ditelinga namun sangat enak didengar. Tiba-tiba permainan gitarnya berhenti. Saat aku tersadar, laki-laki itu tengah memandangiku dipinggir jendela kamarnya. Aku tersentak dan pipiku langsung memerah. Aku ketahuan sedang mengintip. Ia tersenyum. Walau dalam keremangan tapi aku bisa melihat kedua lesung pipinya.    
"Hallo, maaf ya menggangu tidurmu ?" sapanya ramah.
Aku menggeleng dan berusaha membalas senyumnya dengan grogi. "Tidak. Kebetulan aku juga belum tidur."
"Syukurlah kalau begitu. Aku tetangga baru kamu. Salam kenal. Namaku Robin." ucapnya mengenalkan diri.
"E...aku Citra" jawabku gugup. Ini interaksi pertamaku dengan orang lain setelah dua tahun aku mengurung diri.
"Citra..." gumamnya menyebut namaku. "Kamu masih sekolah?" tanyanya.
Aku menggeleng. Aku sudah menamatkan SMU dua tahun yang lalu. Saat ini mungkin aku tengah kuliah jika saja aku tak mengalami kecelakaan itu. Peristiwa itu terjadi saat aku baru saja mendaftarkan diri di universitas pilihanku. Bus yang aku tumpangi menabrak pembatas jalan dan terguling. Kakiku terjepit dan saat sadar aku sudah kehilangan kedua kakiku.
Robin ternyata dua tahun lebih muda dariku. Ia masih pelajar kelas 3 SMU. Ia pindahan dari Bali. Orangtuanya asli Jakarta. Namun ia dari lahir sudah tinggal di Bali. Keluarganya punya usaha cafe di Bali dan tengah mencoba mengembangkan usahanya di Jakarta. Kafetaria milik keluarganya tak begitu jauh dari tempat tinggal kami. Hanya berada di ujung jalan dekat jalan raya. Mungkin hanya butuh waktu 15 menit jika aku menggunakan kursi rodaku ke sana. Aku tak perlu menyebrang jalan. Jadi aku tak perlu khawatir dengan kendaraan yang lewat. Robin sudah sering mengajakku ke cafenya, tapi aku selalu menolak. Ia belum tahu aku cacat. Dan aku tak tahu reaksinya seperti apa jika ia sampai tahu. Sejauh ini obrolan kami hanya di depan jendela kamar kami masing-masing. Sekarang aku punya pekerjaan baru, menungguinya pulang sekolah dan kami bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengobrol antar jendela. Ia sering menceritakan pulau Bali padaku. Aku baru sekali saja ke Bali. Itupun sudah lama sekali waktu aku melakukan study tour saat SMP. Aku suka dengan pantai Kuta dan Sanurnya. Menikmati dinginnya udara di Bedugul. Semuanya membuat aku rindu. Robin malah berjanji akan mengajakku ke Bali jika ia liburan sekolah. Ia bilang pantai Dreamland lebih indah dari Sanur dan Kuta yang sudah ramai oleh wisatawan. Pasirnya putih dan aku bisa bermain air sepuasnya disana.  Aku hanya tersenyum tipis menanggapi ajakannya. Jika ia tahu keadaanku, apa ia masih mau mengajakku. Kurasa ia akan berpikir ulang sebelum mengajakku.


"Citra..." teriak Robin. Aku tersenyum. Aku segera membuka jendela kamarku. Tapi aku tak menemukan Robin berdiri di kamarnya seperti biasa.
"Citra..." panggilnya lagi. Aku tersentak dan segera tahu suara Robin berasal dari depan rumahku. Kepanikan melandaku. Aku teringat Ibuku sedang pergi ke Bogor, menjenguk tanteku yang sakit.
Ada apa ini mengapa Robin tiba-tiba ada di depan rumahku. Bukanlah biasanya kami bertemu di jendela kamar kami. Bisakah aku menemuinya dan memperlihatkan kakiku?
Ponselku berdering. Aku terlonjak kaget dari kursi rodaku. Aku meraih ponselku. Nama Robin tertera di layar HP. Aku bimbang, namun kemudian mengangkatnya.
"Cit..., bukain pintu dong. Kamu di dalam, kan?" ucap Robin. "Aku mau ajak kamu ke kafe. Aku baru bangun perpustakaan kecil disana. Koleksi bukuku bagus-bagus, lho. Kamu pasti senang," cerocos Robin panjang lebar.
Aku teringat ucapan Robin tempo hari tentang keinginannya membangun sebuah perpustakaan kecil di kafetaria miliknya. Robin memang pecinta buku. Aku sering dipinjaminya buku-buku yang baru di belinya. Koleksi buku yang ia punya beragam. Aku lebih suka meminjam novel science fiction miliknya.   
"Hallo. Hallo.... Citra!!!" 
"Eh, ya-iya," aku tergagap.
"Ayo dong, bukain pintu. Nanti aku traktir milk shake buatanku deh. Dijamin enak, lho!" Robin berpromosi.
"Iya. Tunggu," ucapku pada akhirnya. 
Aku mengambil selimut di ujung tempat tidurku. Menutupi kakiku dengan selimut lalu mendorong kursi rodaku dengan enggan. Hatiku berdegup kencang. Aku takut dengan reaksi Robin. Aku takut ia nantinya menjauhiku. Aku baru mendapatkan teman yang benar-benar aku suka. Bagaimana jika ia tak mau berteman denganku lagi?
Aku menuju pintu gerbang rumah. Sebelumnya menyambar kunci di bawah pot. Dengan gemetar aku membuka kunci gembok dan membuka pintunya. Robin masuk. Ia menatapku lama dalam diam. Aku gusar. Menundukkan kepalaku karena malu.
"Bisakah, kamu tak melihatku terus-terusan seperti itu?" Aku mulai protes padanya.
"Jadi karena ini kamu tak pernah keluar rumah bahkan takut mememuiku?"
Lagi-lagi aku menunduk.
"Maaf, aku tak pernah memberitahumu sebelumnya. Tapi kalau kamu tak mau berteman denganku lagi, aku bisa terima."
"Apa? Picik sekali pikiranmu? Apa kau pikir karena kau duduk di kursi roda maka aku tak mau lagi berteman denganmu?" 
Aku mengangguk. Bulir-bilir air mata mulai menetes di pipiku.
"Yang benar saja. Kau ini. Hey, suruh siapa kau menangis..!" hardik Robin. Ia jongkok di depanku. Memegangi kursi rodaku dan memandangku dengan tajam.
"Memangnya kamu siapa melarangku menangis. Ini kan airmataku sendiri. Aku tidak memintanya darimu, kan?" ucapku kesal.
Tiba-tiba Robin tertawa keras. Lalu ia berdiri dan memutar tubuhnya ke belakangku. Mendorong kursi rodaku keluar.
"Mau kemana?" Aku menahan tanganku di pintu gerbang. Menoleh padanya.
"Tadi kan aku sudah bilang mau mengajakmu ke kafe. Aku traktir milk shake biar kamu tidak nangis lagi," ledeknya sambil terkekeh. Aku cemberut. 
Setelah mengunci pintu kami pergi ke kafenya. Sepanjang jalan aku menceritakan tragedi yang menimpaku hingga aku harus kehilangan kakiku. Ia tak banyak berkomentar, hanya manggut-manggut mendengar ceritaku. Dan ajaibnya aku tak menangis sama sekali waktu menceritakan hal itu pada Robin. Biasanya hanya mengingat kejadiannya saja sangat mudah memancing air mataku keluar. Dan setelah menceritakan semuanya aku merasa lega.  Tidak sesulit yang kubayangkan. Aku juga senang dan cukup terkejut melihat reaksi Robin yang menerimaku tanpa ada pandangan takut atau kasihan.
Kami sampai di depan kafetaria. Ornamen Bali sudah terlihat dari luar. Pohon palem di dua sisi bangunan dihiasi dengan kain kotak-kotak hitam putih. Patung Topeng Bali menyambut kami di depan pintu kafe. Nuansa Bali juga terasa saat kami masuk ke dalam. Lukisan-lukisan penari Bali tergantung rapi di setiap dinding kafe. Suansananya sangat nyaman. Robin menggiringku ke dalam sebuah ruangan lain yang di papan pintu kacanya tertempel papan 'Perpustakaan Mini'. Rak-rak kayu berisi buku-buku menyambutku. Robin meninggalkanku. Aku menyisiri setiap rak buku yang tersusun rapi. Robin kembali masuk dengan membawa kedua orangtuanya. Pria dan wanita yang kulihat saat mereka baru pindahan dulu. Mereka tersenyum.
"Kenalkan ini  Citra, temanku sekaligus tetangga kita," ucap Robin. Anehnya ia berbicara sambil menggerakkan kedua tangannya membentuk setiap kata-kata yang diucapkannya tadi. Aku sering melihat hal ini di TV yang ku tahu itu merupakan bahasa isyarat. Aku melongo.  Kedua orang tuanya pun membalas dengan melakukan gerakan pada kedua tangan dengan suara sengau yang tak jelas.
"Mereka bilang mereka senang bertemu denganmu," beritahu Robin padaku. Aku salah tingkah tak tahu harus menjawab apa.
"Jawab saja mereka bisa kok membaca gerakan bibir kita."
"Oh, eh...aku juga senang bertemu dengan kalian," ucapku akhirnya. Ibu Robin mengangguk. Meraih jemariku dan mengusap lembut pungggung tanganku. Tangannya hangat. Lalu mereka meninggalkanku dan Robin.  Begitu mereka pergi aku langsung mendongak pada Robin. Ia tersenyum.
"Apa kamu pikir mereka adalah orang tua yang sangat baik dan pengertian jika tiap malam anaknya selalu bermain gitar dan kamu tak pernah melihatnya mendobrak kamarku karena merasa terganggu, heh."
Aku tertawa.
"Kedua orangtuaku tuna rungu, tapi aku bangga pada mereka. Aku tak merasa malu mempunyai orang tua seperti mereka. Kau lihat walaupun mereka mempunyai keterbatasan tapi mereka bisa berhasil seperti orang normal lainnya. Begitu juga dengan kamu..." Robin menunduk di depanku dan menggenggam erat tanganku. "Jangan menutup diri lagi. Tangan ini aku yakin akan membawa keberhasilan untukmu juga."
Mataku berkaca-kaca. "Terima kasih," ucapku tersendat menahan haru. Robin mengacak rambutku. Aku pura-pura cemberut.
"Eh, apa kamu mau mengajariku bahasa isyarat?" Aku bertanya pada Robin
"Tentu saja." Robin memutar tubuhnya ke arah rak buku dan menarik sebuah buku berwarna cokelat. Lalu menyerahkannya padaku. Aku membaca judul buku itu. Belajar Bahasa Isyarat untuk Tunarungu.
"Aku pinjam, ya?"
Robin mengangguk. Ia kembali meraih buku di rak. Sepertinya sebuah novel dengan lembaran lebih tebal dari buku yang kupegang dan ragu-ragu memberikannya padaku. "Buku ini juga bagus."
Aku tertawa geli. "Sejak kapan kamu menyukai novel seperti ini?". Aku tahu jenis bacaan yang disukai Robin. Novel-novel percintaan bukan buku bacaan favoritnya. Makanya aku kaget ia bisa punya novel seperti ini. Dan menduga-duga apakah ia juga sudah membacanya.
"Kalau kamu mau novel itu boleh untukmu?"
"Untukku. Oh, terimakasih. Kamu sudah membacanya?"
"Sudah." Robin menarik kursi dan duduk di depanku. "Ceritanya bagus tentang seorang pria yang jatuh cinta pada wanita yang lebih tua.. Kamu tahu tokoh utamanya jatuh cinta pada teman Ibunya sendiri." Lalu Robin menatapku penuh arti.. "Kamu tak masalah kan jika seorang pria menyukai wanita yang lebih tua apalagi hanya beda dua tahun."
"APA...?!!"



Cerpen ini saya ikutsertakan dalam lomba menulis cerpen yang di selenggarakan oleh Sang Cerpenis dan Vixxio. Novel yang saya pilih adalah Magnificent karya aL Dhimas.


7 komentar:

  1. Baca cerpenmu, jadi pengen punya perpustakaan plus cafe deh...

    Vixxio
    www.vixxio.com

    BalasHapus
  2. cerpenmu menang ya. ditunggu alamat dan nama jelasnya. btw, cerpen yg menang akan diposting di blog Graha sastra.

    BalasHapus
  3. bagus nih,,,,tukeran link ya, nih punyaku: http://hasilimajinasiku.blogspot.com

    BalasHapus
  4. wauw,bagus sekali..,
    membacanya gak bisa berhenti

    BalasHapus
  5. Thanks buat komentarnya. Bikin semangat terus nulis neh. Ayo Semangat...!!

    BalasHapus
  6. syarat pesan moral nih ide ceritanya,
    salut n terus berkarya ya...

    SEMANGAT

    BalasHapus

Comment