Jumat, 27 Agustus 2010

Autumn's Concerto Episode 4

Liang Mu Cheng bersama Ren Guang Xi mendatangi rumah bibinya, tapi Mu Cheng tak berani masuk menemui bibinya. Ia khawatir bibinya masih marah padanya. Sementara Guang Xi di dalam merayu bibinya agar mau menjadi saksinya. Diam-diam ia masuk  merapikan jemuran selimut milik bibinya dan meninggalkan sepucuk surat untuk bibinya.

Tuo Ye pergi ke bar mencari Zhang Ai Li dan gengnya. Ia berniat mengambil kaset rekaman CCTV yang sudah dicuri oleh gadis jahat itu. Tuo Ye bikin keributan dan  memasukkan narkoba ke pakaian A Nou (cowok yang ikut memukulnya di lapangan hoki) dan sesuai rencananya polisi datang merazia. Zhang Ai Li tampak panik saat diperiksa. Tou Ye menarik gadis itu dan melarikan diri dari sana. Zhang Ai Li mulai terpesona pada Tuo Ye saat laki-laki itu mau menggendongnya saat ia kesusahan dengan high heel-nya. Ia terlihat sangat senang. Mereka bersembunyi di gang yang sempit dari kejaran polisi dan Zhang Ai Li tanpa malu-malu menggoda Tuo Ye.
"Malam ini datanglah ke rumahku. Mau tidak?" Tuo Ye tersenyum senang (kena jebakan neh kayaknya).
Bibi membaca surat dari Mu Cheng di kamarnya saat suaminya pergi. Dalam suratnya Mu Cheng bilang tak pernah membenci bibinya. Baginya bibi adalah ibu yang membesarkannya.
Bibi menangis terharu membaca surat dari Mu Cheng. Tapi ia bersikeras Mu Cheng tetap bersalah. Saat hendak memasukkan selimut ke laci tempat  tidur, ia kaget menemukan banyak sekali foto-foto Mu Cheng disana. Bibi mulai menyadari bahwa suaminyalah yang berbohong. Ia menangis menyesali kebodohannya. 

Zhang Ai Li mengajak Tou Ye ke rumahnya. Mereka hendak bermesraan di kamarnya. Tuo Ye mengikat tangan dan kaki gadis itu yang mengira Tou Ye suka permainan kasar. Padahal Tou Ye mengikatnya agar memudahkannya mencari kaset yang dicurinya. Zhang Ai Li sadar dan marah-marah. Tou Ye memeriksa laptop miliknya dan meminta password. Tentu saja Zhang Ai Li tak mau memberi tahu. Nggak kehabisan akal Tuo Ye membawa laptop milik gadis itu dan segera pergi dari sana.

Mu Cheng melihat Guang Xi di depan cermin yang sudah rapi memakai jas dan dasi. Hari ini mereka akan menghadapi persidangan.
"Aku merasa pandangan matamu hari ini sangat berbeda," ucap Mu Cheng.
"Mungkin karena aku lelah," jawab Guang Xi.
"Bukan. Jadi pandangan mata yang akrab."
"Itu karena aku pertama kali memutuskan memakai kekuatan sendiri melindungi seseorang."
Ponsel Guang Xi berdering. Dari Tou Ye yang memberi laporan ia berhasil mendapatkan kaset rekaman itu. Tapi  mereka mendapat masalah karena Zhang Ai Li mengcopy rekaman itu ke laptopnya dan ia tak bisa membukanya karena memakai password. Tou Ye akan membawanya ke Bin Zai temannya yang ahli komputer untuk membobolnya. Guang Xi memberitahu Mu Cheng bahwa Tou Ye berhasil mendapatkan kaset rekaman itu. Lalu mereka bergegas ke pengadilan sambil bergandengan tangan.

Paman  A Cai memakai jas dan bersia-siap pergi ke persidangan. Bibi memilih tidak ikut. Kayaknya bibi berniat pergi.  Ia sudah menyiapkan koper dan menaruh amplop cokelat diatas tumpukan baju-bajunya.  Sikapnya juga aneh, ia merapikan jas Paman A Cai sebelum berangkat. Paman A Cai  tidak curiga , ia malah berjanji padanya setelah persidangan ini selesai akan menikahinya.

Persidangan diadakan di universitas Sheng De. Para mahasiswa antusias mengikuti jalannya persidangan. Mereka berbondong-bondong masuk memenuhi ruang persidangan. Direktur Fang dan Direktur He juga hadir. Guang Xi dan Mu Cheng masuk. Banyak yang mendukung Guang Xi bahkan meneriakkan yel-yel Guang Xi ganteng, Guang Xi keren sambil membawa poster (niat amat). Paman A Cai masuk bersama pengacaranya Ru Fang Gou yang tak luput mendapat hinaan dari para suporter Guang Xi.
"Meskipun pengadilan ini diputuskan dibuka 2 jam, tapi aku dapat pastikan dalam 1 jam sudah bisa berakhir," ucap Ru Fang Gou dengan angkuh.
"Ya, dalam satu jam saya akan membuat Zhou Jing Cai mengakui kesalahannya," tantang Guang Xi dengan yakin.
Hakim mengetuk palu dan persidangan dimulai.
Ren Guang Xi maju duluan. Saksi pertama di hadirkan.
Saksi pertama.
Merupakan penjual kura-kura di pasar yang pernah didatangi Paman A Cai dan Mu Cheng. Dia bersaksi pada hari itu Zhou Jing Cai membawa Mu Cheng datang ke tempatnya membeli kura-kura (untuk obat kuat). Dari melihat saja ia yakin paman A Cai menginginkan Mu Cheng. Dan ia juga bilang sudah memperingatkan A Xia (Bibi Mu Cheng) agar berhati-hati.
Lalu gantian Ru Fang Gou yang maju. Ia hendak memegang saksi tersebut yang spontan mengelak. Ru Fang Gou tersenyum licik dan bilang hanya ingin membetulkan letak mikrofon bukan ingin memegangnya. Tindakannya ini ada maksudnya. Ia langsung berkata bahwa saksi Lin Mei Jin sepertinya suka menilai orang hanya sekali lihat saja. Dan gampang sekali salah paham. Saksi mati kutu. Ru Fang Gou menang satu poin. Guang Xi hanya bisa menahan geram.
Saksi kedua.
Saksi yang di hadirkan adalah istri dari bos Mu Cheng saat dulu bekerja di pelabuhan. Ia bilang Liang Mu Cheng pernah merayu suaminya sehingga mendapatkan ikan gratis. Mu Cheng protes pada Guang Xi. Ia bilang kalau bosnya yang bersikeras tidak mau menerima uangnya dan bilang itu adalah uang bonus.
Guang Xi maju "Saya lihat kamu pernah menjadi karyawan juga di tempat ikan? Kalau begitu tahun baru kamu pasti mendapat bonus uang kan?" Saksi kedua mengangguk. "Kalau sama seperti  halnya Liang Mu Cheng yang mendapat bonus dari bosnya, berarti saya bisa mengatakan kamu merayu bosmu?" Kali ini Guang Xi yang menang. Ruang persidangan  bersorak. Direktur Fang diam-diam tersenyum.
Saksi ketiga.
Dua orang mahasiswa laki-laki dan perempuan. Mereka bilang pernah melihat seorang laki-laki dan perempuan dengan pakaian kusut keluar dari gereja Sheng De di pagi hari. Guang Xi dan Mu Cheng merasa tak nyaman. Ru Fang Gou dengan santai menanyakan siapa orangnya. Mereka berdua secara bersamaan menunjuk Guang Xi dan Mu Cheng. Bukti berupa foto mereka yang sempat diambil juga diperlihatkan. Guang Xi sangat geram namun ia tak bisa menyangkal semua tuduhan itu padanya.
Ru Fang Gou merasa menang lagi. "Liang Mu Cheng bukan hanya rela menjual tubuhnya pada Zhou Jing Cai. Dia dan Ren Guang Xi sudah menganggap sekolah Sheng De sebagai tempat bermalam." Lalu ia menyuruh Paman A Cai memberi kesaksian yang terakhir.
"Dua hari lalu sebelum peristiwa pemukulan ini terjadi saya pernah membuntuti Mu Cheng yang tengah berkencan dengan Guang Xi di Sheng De."
Mu Cheng protes dan bilang jangan mengatakan hal yang sembarangan. Guang Xi menenangkannya. Ia menggenggam tangan Mu Cheng.
Paman A Cai meneruskan ucapannya. "Malam itu pasti Guang Xi cemburu padaku karena melihatku bersama Mu Cheng. Jadi memukulku sampai begini."
Pihak Paman Cai menyerahkan bukti visum dari luka akibat pemukulan Guang Xi pada hakim. Guang Xi bangun dan mencoba melakukan pembelaannya yang terakhir.
"Rumah adalah tempat yang membuat orang tenang dan nyaman. Apa kamu kira Liang Mu Cheng pulang ke rumah ada perasaan yang sama?" Paman A Cai kebingungan dengan arah pembicaraan Guang Xi. Lalu Guang Xi memperlihatkan foto pintu kamar Mu Cheng. "Para murid, apakah di kamar kalian sendiri sampai memasang 3 buah kunci? Tuan Zhou Jing Cai, tolong jelaskan mengapa Liang Mu Cheng melakukan ini?" Paman A Cai blingsatan.
Guang Xi lalu menambahkan." Di kamar mandi kebetulan ada papan kayu yang lebarnya sama dengan jendela kamar mandi. Menurut nona Liang, ini digunakannya saat ia mandi untuk menutupi jendela. Dirumah hanya ada tiga orang, anda, ibu asuhnya dan Liang Mu Cheng sendiri. Dia melakukan ini untuk menghindari siapa? Kalau bukan kamu, apakah ibu asuhnya?" Paman A Cai kembali salah tingkah. Ru Fang Gou melakukan protes, tapi tidak disetujui oleh hakim. Guang Xi semakin menyerang Paman A Cai dengan banyak pertanyaan yang menyudutkan. Tapi dengan liciknya Paman Cai berkelit bahwa yang ia lakukan hanya ingin menolong Mu Cheng dari Guang Xi dan ia ingin menghadirkan bibi untuk memberi kesaksian.
Giliran Mu Cheng yang memberi kesaksian. Ru Fang Gou menekan Mu Cheng dengan bilang ia sering merayu Guang Xi. Dengan tenang Mu Cheng menjawab bahwa ia memang sering bertemu dengan Guang Xi di Sheng De tapi hanya untuk bermain piano. Guan Xi tahu ia selalu ketakutan dan ingin membantunya. Mu Cheng bercerita sudah sejak SMA, Paman A Cai terus mengganggunya. Ru Fang Gou malah semakin menekan Mu Cheng hingga Mu Cheng kesulitan menjawab. Guang Xi tak tahan. Ia memukul meja dan bilang bisa membuktikan bahwa Mu Cheng tak bersalah.
"Semua orang disini tahu, saya dulu seperti apa. Aku yang dulu, hari ini tak mungkin berada disini. Memikirkan bagaimana cara mempermainkan wanita, bagiku lebih menarik." Lalu Guang Xi membuat pengakuan dosa disini. Ia meminta maaf pada Julia, mantan pacarnya yang sudah ditinggalkannya 8 kali. Tiffany (udah kege-eran duluan neh cewek waktu namanya disebut), Guang Xi mengaku pacaran dengannya karena taruhan dengan teman-temannya. Semua yang hadir tertawa kecuali si Tiffany sendiri (sempet2nya seh, ni Guang Xi). Direktur He mengomentari kelakuan Guang Xi pada Direktur Fang yang hanya tertunduk malu. Teman Guang Xi sampai mengira ia habis di culik UFO. Guang Xi terus menyakinkan orang-orang di persidangan bahwa Mu Cheng tidak bersalah. Bahkan ia menyatakan perasaan cintanya pada Mu Cheng di persidangan. Mu Cheng menangis terharu mendengar pembelaan Guang Xi untuknya.

Para hakim berunding dan saat hakim akan membacakan keputusan Tuo Ye datang tepat waktu membawa bukti kaset rekaman. Kaset rekaman itu diputar. Dengan berapi-api Guang Xi membuktikan Mu Cheng tidak bersalah. Semuanya melihat video tersebut dan percaya Mu Cheng tak bersalah. Dan hakim memutuskan Liang Mu Cheng dibebaskan dari tuduhan. Guang Xi mendekati paman A Cai dan memukul laki-laki tak tahu diri itu. Ruang persidangan ricuh. Guang Xi terus menendang Paman A Cai tapi di halangi oleh pengacaranya dan paman A Cai berhasil kabur.
Tuo Ye juga menemukan bukti rekaman lain saat Zhang Ai Li menculik dan menyekap Mu Cheng di dalam ruang piano. Direktur Fang langsung bertindak dan memerintahkan pengacaranya menangani kasus penculikan ini.

Paman A Cai pulang ke rumah dan berniat mengajak bibi kabur, tapi ia malah mendapati bibi sudah pergi.  Bibi juga membawa semua uang yang ia simpan di laci. Ia marah dan membanting kursi ke cermin.

Di luar persidangan Mu Cheng berterima kasih pada Guang Xi. Ponsel Guang Xi berdering. Ibunya yang menelepon dan minta bertemu. Guang Xi mengingatkan janji Mu Cheng, jika mereka menang Mu Cheng akan memasak untuk  Guang Xi.
Mu Cheng juga tak lupa berterimakasih pada Tuo Ye. Secara formal ia berterimakasih banyak atas bantuan Tuo Ye . Tuo Ye merasa jengah. Ia merasa disembah seperti dewa. Lalu ia bilang bahwa ia akan pergi dan berhenti kuliah. Ia akan kembali ke desa menemani ibunya yang sudah tua menjaga taman bunga di desanya.
Tuo Ye memperlihatkan tutup botol minuman pada Mu Cheng. Mereka mengingat kembali pertemuan pertama mereka. Saat itu Tuo Ye tengah dikejar-kejar oleh anggota geng. Ia lari ke perpustakaan dan Mu Cheng menyelamatkannya. Lalu mereka bersembunyi di sebuah toko sambil minum. Mu Cheng mendapatkan hadiah di  dalam tutup botol dan memberikan tutup botol keberuntungan itu pada Tuo Ye.

Di dalam kantor Direktur Fang sedang berbicara dengan Direktur He. Sepertinya Direktur He tidak menyukai pernyataan cinta Guang Xi di dalam persidangan itu. Direktur Fang menyakinkannya bahwa Guang Xi tak mungkin menyukai Liang Mu Cheng. Tadi hanyalah cara Guang Xi agar memenangkan persidangan. Guang Xi mendengar pembicaraan mereka di luar. Ia masuk.
"Itu bukan cara. Kalian yang terus memikirkan cara menyatukanku dengan Yi Qian. Mengancam mengambil Sheng De. Ini baru namanya cara."
Direktur He merasa tersinggung dan bilang ucapan Guang Xi barusan bisa membuatnya kehilangan Sheng De. Guang Xi tak peduli jika Sheng De benar-benar diambil. Direktur He tidak menyerah malah menyarankan Guang Xi berpacaran dengan Yi Qian putrinya. Guang Xi menolak mentah-mentah. Lalu pergi dari sana. Direktur Fang mengejar Guang Xi dan melarangnya bertemu dengan Mu Cheng. Tiba-tiba Guang Xi merasakan sakit di kepalanya. Lalu ia jatuh pingsan.
Direktur Fang melarikan putranya ke rumah sakit. Dari penjelasan dokter diketahui bahwa di dalam otak Guang Xi ditemukan benjolan dan kondisinya sudah memburuk. Direktur Fang syok mendengar ucapan dokter dan tubuhnya limbung.


sumber gambar: iurgnotmis.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Comment