Kamis, 22 September 2011

Sinopsis Scent of A Woman Episode 7




Hubungan Yeon Jae dan Ji Wook semakin memburuk. Ji Wook merasa frustasi menghadapi Yeon Jae. Puncaknya mereka bertengkar mengenai masalah tuntutan hukum yang dilayangkan So Kyeong. Yeon Jae bermasalah dengan account-nya yang tiba-tiba dibekukan oleh bank. Tak ada pilihan lain, Yeon Jae meminta bantuan Ji Wook. Dengan kekayaan yang dimilikinya dengan mudahnya Ji Wook mentransfer uang senilai 300 juta won yang dibutuhkan Yeon Jae. Tentu saja harga diri Yeon Jae terluka. Reflek Yeon Jae melayangkan tangannya pada Ji Wook. Dengan sigap Ji Wook menahan tangan Yeon Jae.
"Ambil uang itu dan pergilah. Jangan muncul dihadapanku lagi. Karena kau, aku jadi gila!" Seru Ji Wook murka.
"Apa maksudmu?" tuntut Yeon Jae.
"Menurutmu apa artinya? Pergilah!" usir Ji Wook. Ji Wook melepaskan tangan Yeon Jae dan melangkah masuk.
"Tunggu. Setelah di dalam tolong gunakan ponselmu untuk membatalkan transferan uang 300 juta itu," pinta Yeon Jae. Yeon Jae berlalu pergi.

Tamparan Yeon Jae bisa Ji Wook hindari, tapi tidak dengan So Kyeong. So Kyeong jelas mengamuk setelah ditinggal pergi begitu saja di gedung opera. Ji Wook malah tertawa sinis.
"Kau tertawa? Kang Ji Wook aku akan menyingkirkanmu jika kau tak berhati-hati." ancam So Kyeong.
"Aku berharap kau melakukan itu. Apa kau bahagia bersamaku?" Ji Wook sudah muak dengan perjodohan orang tua mereka.
"Apa itu kebahagiaan? Apa dua orang yang bergandengan tangan di taman hiburan? Apa itu yang disebut kebahagiaan? Haruskah kita melakukannya?" ejek So Kyeong. Ji Wook merasa lelah.


Di dalam taksi Yeon Jae terngiang kata-kata kejam Ji Wook. Hatinya sakit. Ingat uang di dompetnya tinggal 10.000 won, Yeon Jae buru-buru minta diturunkan di tengah jalan. Yeon Jae melanjutkannya dengan jalan kaki.


Staff Line Tour meeting. Mereka membahas perencanaan paket wisata baru. Beberapa staff mengajukan ide. Kepala Bagian Yoon mengajukan tur wisata Pulau Wando. Ji Wook meminta proposalnya. Kepala Bagian Yoon salah tingkah. Akhirnya ia mengaku jika ide itu bukan miliknya, melainkan milik Yeon Jae. Mendegar nama Yeon Jae, Ji Wook langsung mengamuk. Ia tak mau orang kantor menyebut-nyebut nama Yeon Jae lagi. Pertengkaran semalam menyisakan luka di hati Ji Wook. Ji Wook menyerah. Ia bertekad melupakan Yeon Jae. Manager Noh mencoba membela Kepala Bagian Yoon. Karena Yeon Jae sudah resign, maka proposal itu menjadi hak milik Line Tour. Ji Wook tak mau tahu. Ia membubarkan meeting dan meminta para staff-nya membuat ulang proposal itu. Sebelum para staff keluar Ji Wook mengumumkan peringatan keras, tak ada lagi pelecehan seksual di dalam kantor. Na Ri memuji sikap Ji Wook. Ia semakin mengagumi Ji Wook.


Yeon Jae menunggu Hye Won di kafe. Sembari menunggu Yeon Jae membaca sebuah majalah. Didalamnya Yeon Jae menemukan sebuah artikel tentang Andy Wilson. Jika Yeon Jae ditanya siapa orang yang paling dibencinya saat ini,  tanpa ragu Yeon Jae akan menunjuk Wilson. Karena Wilson, kini ia bermasalah dengan hukum. Sebagai pelampiasan kekesalannya, Yeon Jae mengambil pulpen dan mencoret-coret foto Wilson.
Hye Won datang. Hye Won memberikan pinjaman uang 1 juta won. Hye Won mengomentari foto Wilson. Sudah pasti Hye Won ikut membenci orang yang telah menyengsarakan sahabatnya. Hye Won mengejek jari tangan Wilson yang besar-besar seperti babi. Yeon Jae tertawa. Tawanya terhenti saat melihat cincin yang melingkari jari Wilson. Yeon Jae sangat hafal cincin itu adalah cincin yang diakui Wilson telah hilang. Yeon Jae ingat ucapan Wilson yang tak bisa memainkan piano tanpa cincin miliknya. Yeon Jae memeriksa kapan artikel itu dibuat. Wilson baru saja melakukan wawancara sebelum konsernya di Jerman. Artinya Wilson tak pernah kehilangan cincinnya.

Di rumah Yeo Jae sibuk melakukan investigasi. Ia mencoba menghubungi beberapa pihak yang bisa menghubungkannya dengan Wilson. Mulai dari reporter sampai label rekaman yang menaungi Wilson. Namun Yeon Jae harus gigit jari saat mendapat kabar Wilson tengah berada di Sidney. Usaha terakhir Yeon Jae hanya meninggalkan voicemail untuk Wilson.


Stress kembali melanda Eun Suk. Setelah alergi dengan bulu Malbok, Eun Suk harus menerima rumahnya hancur diacak-acak oleh anjing itu. Bukan itu saja Malbok juga kencing sembarangan. Eun Suk hanya bisa memejamkan mata menahan marah.


Sang Woo menginformasikan pada Ji Wook jika transferan uang untuk Yeon Jae telah di cancel. Ji Wook memerintahkan Sang Woo menyelidiki Wilson. Walau telah menyerah dengan Yeon Jae, Ji Wook tetap tak tega membiarkan wanita yang dicintainya menderita.


Eun Suk berniat memberikan Malbok pada rekan kerjanya. Obrolan mereka terhenti ketika Eun Suk melihat Yeon Jae datang. Eun Suk segera mengakhiri obrolan itu sebelum Yeon Jae dengar. Yeon Jae menanyakan kabar Malbok. Yeon Jae berkata jika Malbok itu anjing yang penurut dan pintar. Eun Suk hanya tersenyum tipis.


Rumah Sakit akan merayakan ulang tahun yang ke-50. Dokter Kepala mengumpulkan para dokter dan meminta mereka memberikan persembahan pada pesta perayaan. Dokter Kepala menyindir Eun Suk yang terlihat kurang bersosialisasi. Tau mau diremehkan Eun Suk nekat mengajukan diri akan mempersembahkan sesuatu di pesta nanti.

Eun Suk bertambah stress. Ia tak percaya dengan kenekatannya barusan. Yeon Jae datang. Eun Suk menjelaskan kondisi tubuh Yeon Jae baik-baik saja. Sepertinya terapi kanker berjalan baik.
Eun Suk mencoba meminta bantuan Yeon Jae.
"Aku ada sesuatu yang harus dikerjakan, tapi aku sendiri tak tahu," beritahu Eun Suk.


Kepala Bagian Yoon menghampiri Ji Wook. Ia meminta tumpangan jika Ji Wook ingin pergi ke kelas Tango. Ji Wook menegaskan dirinya berhenti belajar Tango.
"Apa aku terlalu keras mengatakan dirinya tak mempunyai kemampuan?" gumam Kepala Bagian Yoon bingung.

Ji Wook memacu mobilnya. Alasan Ji Wook berhenti belajar Tango karena Yeon Jae sendiri yang memintanya. Yeon Jae tahu jika motif Ji Wook datang ke kelas Tango hanya untuk melihatnya.


Yeon Jae membawa partner baru ke kelas Tango. Yeon Jae membawa Eun Suk. Anggota Tango mengira Eun Suk pacar Yeon Jae. Yeon Jae langsung klarifikasi bahwa mereka hanya teman SD. Ramses memberi pengumuman jika Kepala Direktur tak akan hadir lagi ke kelas Tango. Yeon Jae hanya diam saja.

Ramses dan Veronica mempraktekkan gerakan tarian. Eun Suk memperhatikan mereka dengan serius. Setelah itu, Eun Suk memulai latihannya dengan Yeon Jae. Wajah Eun Suk langsung tegang. Yeon Jae tertawa. Menyarankan Eun Suk untuk santai. Hanya dengan sekali berlatih saja, ternyata Eun Suk langsung sukses. Ramses memuji Eun Suk, begitu juga dengan Yeon Jae.
"Beberapa orang berlatih 20 kali baru bisa berhasil. Kau punya bakat alami!" Yeon Jae mengacungkan jempol dan bertepuk tangan untuknya. Eun Suk tertawa dengan wajah kaku.

Veronica terkesan dengan Eun Suk. Ramses berbisik pada Veronica jika pujian yang dilontarkannya agar Eun Suk tak kabur (seperti Ji Wook, haha..). Ramses menilai Eun Suk tak punya feeling. Wajahnya kaku.
"Tidak. Dia punya feel. Ketika kau belajar Tango, kau lebih buruk dibandingkan dia," sahut Veronica (Suka deh sama Veronica. Nie cewe seksi bgt, bukan dari pakaiannya tp dari pembawaannya).


Setelah pulang kantor tidak ada hal yang bisa dikerjakan Ji Wook. Biasanya Ji Wook menghabiskan malam dengan belajar Tango. Membaca buku sama sekali tak membantunya. Ji Wook mulai kesal. Ia mencoba menonton televisi. Setelah berpindah-pindah saluran televisi, Ji Wook menemukan film dimana para pemerannya tengah menari Tango. Tergerak dengan tayangan itu, Ji Wook mencoba berlatih sendiri. Imajinasi Ji Wook mendatangkan Yeon Jae ke dalam pelukannya. Mereka berdansa dengan penuh keromantisan (Kabarnya Kim Sun Ah jago Tango beneran. Multi talented bgt unnie yg satu ini). Saat Ji Wook membuka mata, sosok Yeon Jae telah menghilang.


Yeon Jae memuji Eun Suk. Ternyata Eun Suk memiliki banyak keahlian. Selain dokter yang handal, Eun Suk pandai memasak dan juga berdansa. Saat sekolah Eun Suk juga murid yang padai. Eun Suk tertawa mendengar pujian Yeon Jae.
Yeon Jae menolak naik taksi ketika Eun Suk menyetop sebuah taksi. Yeon Jae menyuruh Eun Suk pergi duluan. Yeon Jae beralasan ada tempat yang ingin dikunjunginya di dekat sana. Padahal Yeon Jae hanya ingin mengirit uangnya dengan pulang naik bus.


Yeon Jae mendapat surat panggilan dari pengadilan. Pihak pengadilan menyarankan Yeon Jae menempuh jalur mediasi. Dengan mediasai mungkin Yeon Jae hanya membayar kompensasi sebesar 100 juta won. Uang senilai itu tentu saja masih besar untuk kantong Yeon Jae.


Ji Wook dan So Kyeong makan siang dengan ayah mereka. So Kyeong mengadu jika Ji Wook kurang bahagia jika berkencan dirinya. So Kyeong berkata akan berkompromi dengan sikap Ji Wook. Ji Wook diam saja tak membantah ucapan So Kyeong.
So Kyeong mendapat telepon dari pihak pengadilan. Pengadilan memberitahu jika Yeon Jae ingin menempuh jalur mediasi dengan membayar 100 juta won. So Kyeong menolaknya mentah-mentah.

Seusai makan siang Ji Wook menuntut sikap egois So Kyeong. So Kyeong membenarkan jika dirinya ingin menyengsarakan Yeon Jae sampai mati. So Kyeong cemburu karena calon tunangannya tergila-gila pada Yeon Jae.


Yeon Jae kembali menghubungi Wilson. Namun hanya Manager Wilson yang mengangkat teleponnya. Yeon Jae klarifikasi mengenai foto Wilson di majalah yang mengenakan cincin. Manager Wilson berkilah jika cincin itu dibuat ulang sama persis dengan cincin yang hilang. Yeon Jae kembali kehilangan harapan.

Ternyata Wilson duduk di dekat Managernya. Ia sengaja menolak berbicara dengan Yeon Jae.
"Mengapa kau tidak mengatakan kebenarannya?" keluh Manager Wilson.
"Bagaimana aku melakukannya? Ini diluar kontrolku. Jangan memintaku untuk mengatakan maaf...maaf, sekarang. Kenyataannya, cincinku tertancap di bokongku. Aku tidak bisa mengatakannya. Mengapa aku harus memakai cincin itu ketika interview?" Wilson meradang.


Yeon Jae ada di lobby Line Tour. Ia sedang menunggu Hye Won. Ji Wook baru saja datang. Ia melihat keberadaan Yeon Jae. Ji Wook hendak mendekat, namun Hye Won muncul duluan.
"Apa yang terjadi? Apa yang terjadi sekarang?" tanya Hye Won panik.
Yeon Jae tak menjawab. Ia malah menangis. Hye Won semakin panik. Ji Wook diam di tempatnya menunggu reaksi Yeon Jae.
"Sepertinya aku harus menyerahkan uang lebih dari seratus juta won. Dalam 10 tahun terakhir, aku berhemat dan menabung setiap sen yang kudapat. Itu akan hilang dalam sekejap. Bagaimana bisa menjadi seperti ini? Aku tak punya ambisi, aku bekerja sangat keras sampai saat ini. Mengapa hidupku menjadi menyebalkan setiap hari? Aku tak pernah sekalipun menggantungkan harapan dengan memenangkan lotere atau mencetak kekayaan. Paling tidak aku berharap memungut uang 100 juta won di jalanan. Bagaimana aku bisa bertahan hidup? Hye Won, apa yang harus kulakukan?" Yeon Jae menangis dipelukan Hye Won. Ji Wook ikut terluka.


Ji Wook menanyakan Sang Woo mengenai hasil investigasinya. Posisi Yeon Jae memang terjepit. Malam itu hanya ada Yeon Jae orang asing yang masuk ke kamar Wilson. Ji Wook tak mau menyerah. Ia meminta semua informasi yang berhasil didapat. Sang Woo menjelaskan jika Wilson terlihat memakai cincin yang sama setelah insiden pencurian itu. 

Ji Wook menghubungi Wilson. Beruntung Wilson sendiri yang mengangkat teleponnya. Ji Wook langsung mengatakan tujuannya menelepon untuk mempertanyakan masalah cincin. Wilson kembali meradang. Mendapat serangan radiasi, reflek Ji Wook menjauhkan gagang telepon dari kupingnya. Wilson berbohong dengan mengatakan telah membuat cincin yang sama. Ji Wook merasa ada celah dengan ucapan Wilson.
"Cincin itu buatan tangan Jacques Freyr sendiri, kan?" pancing Ji Wook.
"Benar...Jacques sendiri yang membuatkan cincin untukku. Aku memintanya membuatkan cincin yang mirip untuk menggantikan cincinku yang hilang," teriak Wilson.
Ji Wook tersenyum. "Sepertinya kau tak tahu, Jacques Freyr telah meninggal satu tahun yang lalu."
Wilson terkejut. Kebohongannya terbongkar oleh ucapannya sendiri. Wilson panik.
"Itu artinya kau tak pernah kehilangan cincin," vonis Ji Wook.
Wilson langsung menutup telepon. Ji Wook menyuruh Sang Woo memesan tiket ke Sidney.


Yeon Jae memandangi buku tabungannya. Tentu saja Yeon Jae tak akan pernah rela uang hasil kerja kerasnya selama 10 tahun lenyap begitu saja.
Yeon Jae masih saja menyembunyikan kasus hukumnya dari ibunya. Yeon Jae tak mau ibunya ikut khawatir. Yeon Jae menyarankan ibunya menikah lagi. Ibu Yeon Jae langsung menolak.


Yeon Jae mulai menjalani proses mediasi. Ia datang seorang diri ke pengadilan tanpa pengacara pendamping. Sedangkan So Kyeong datang dengan 2 orang pengacara. Hakim memberikan Yeon Jae kesempatan bicara. Yeon Jae membela diri bahwa tidak ada bukti yang menguatkan bahwa dirinya mencuri cincin milik Wilson. Pengacara So Kyeong mulai menyerang Yeon Jae dengan bukti-bukti keteledorannya saat menjadi guide Wilson, terutama ketika memberi daging babi yang jelas-jelas haram bagi Wilson yang seorang Muslim. Yeon Jae mengaku jika hal itu bukan kesalahannya. Hakim menyarankan Yeon Jae membayar kompensasi sebesar 100 juta won. Hal itu dirasa adil untuk kedua belah pihak. Yeon Jae sendiri tak dapat membuktikan bahwa dirinya tak bersalah. Jika kasus ini dilanjutkan, bisa jadi Yeon Jae malah diharuskan membayar kompensasi lebih besar lagi. Hakim menanyakan persetujuan dari So Kyeong. So Kyeong setuju asal Yeon Jae meminta maaf secara formal dan menunjukkan penyesalannya. Yeon Jae membisu, tak tahu lagi apa yang harus diperbuatnya.

Keajaiban yang diharapkan Yeon Jae muncul dengan kedatangan Wilson. Wilson mengungkapkan kebenaran dengan mengaku jika dirinya tak pernah kehilangan cincin miliknya. Wilson menunjukkan cincin di jarinya. Baik Yeon Jae maupun So Kyeong sama terkejut.


Ji Wook telah kembali ke Korea. Ji Wook mendapat informasi jika tuntutan hukum Yeon Jae telah dibatalkan tanpa Yeon Jae harus membayar kompensasi. Ji Wook menarik nafas lega. 


Yeon Jae menatap Wilson tak percaya. Wilson salah tingkah. Tentu saja Wilson merasa bersalah. Wilson mengaku sangat lelah setelah penerbangannya dari Sidney selama 11 jam. Wilson berceloteh panjang lebar untuk menghilangkan kegugupannya. Yeon Jae masih saja diam sambil menatap Wilson dengan mata berkaca-kaca.
"Bagaimana bisa kau melakukan ini?" tuntut Yeon Jae.
"Semuanya sudah selesai, kan?" sahut Wilson.
"Selesai? Aku dituduh menjadi pencuri. Apa kau tahu bagaimana terhinanya itu? Itu sangat keterlaluan untukku. Aku sangat sengsara. Apa kau tahu seberapa sulitnya ini untukku?" seru Yeon Jae.
"Maaf...Aku minta maaf." Akhirnya kata-kata permintaan maaf meluncur dari bibir Wilson.

Yeon Jae tak begitu saja menerima permintaan maaf Wilson. Yeon Jae sudah kadung kesal. Wilson semakin bingung. Ia malah marah-marah. Wilson mengaku sejak kejadian itu dirinya juga tak bisa tidur nyenyak.
"Lalu mengapa kau tak pernah menjawab teleponku? Mengapa sekarang kau tiba-tiba mengubah pikiranmu dan datang ke Korea?" seru Yeon Jae.
"Orang itu. Dia yang memaksaku. Pria busuk!!" runtuk Wilson.
"Siapa?" tanya Yeon Jae.
"Kepala Direktur," jawab Wilson.
Yeon Jae terkejut.


Informasi bahwa Ji Wook yang telah membawa Wilson ke Korea dengan cepat sampai ke kuping So Kyeong. So Kyeong tak percaya. Ia masih beranggapan kepergian Ji Wook ke Sidney untuk perjalanan bisnis. Sekretaris So Kyeong meyakinkan jika Ji Wook tak punya schedul ke Sidney.


Yeon Jae berniat mengucapkan terimakasih pada Ji Wook. Yeon Jae membeli sekeranjang buah dan mengantarnya sendiri kesana. Tadi Wilson memberitahu jika Ji Wook terbang langsung ke Sidney untuk membawanya ke Korea. Ji Wook tak percaya ketika Wilson berencana berbicara lewat telepon ke pengadilan tanpa perlu datang ke Korea.

Yeon Jae mengurungkan niatnya ketika dilihatnya So Kyeong turun dari mobil dan masuk ke rumah Ji Wook. Tentu saja So Kyeong juga ingin meminta penjelasan atas tindakan nekat Ji Wook. Setelah bertemu Ji Wook yang tampak kelelahan, So Kyoeng menyindir mengenai kepergiannya ke Sidney.
"Kau menyelidikiku?" tanya Ji Wook tajam.
"Kau tertarik pada wanita itu? Apa kau tahu aku menjadi bahan tertawaan di pengadilan hari ini? Di depan wanita itu, aku seperti orang bodoh. Itu semua karena kau." So Kyeong meradang.
"Bukan karena aku. Kebenaran terungkap karena dia tak mencuri cincin," sangkal Ji Wook.
"Bukankah kalian sudah tak pernah bertemu lagi? Belum selesaikah pertemuan kebetulan di Jepang, sehingga kalian bertemu lagi disini?" sindir So Kyeong.
"Pernahkah kau miskin? Hanya mempunyai uang 10 ribu won, perut kosong saat makan malam. Kau tak mungkin mengerti itu?"
So Kyeong tertawa menghina. "Apa kau mengerti semua itu?"
"Jika kau menyelidikiku seharusnya kau sudah tahu itu dengan baik. Aku lelah. Pergilah!" Usir Ji Wook.
"Apa kau berencana melanjutkan hubungan dengan wanita itu?" tuntut So Kyeong tajam.
"Jika kau tidak membuat gugatan, aku tak akan terusik. Tidak ada alasan mempermasalahkan proses pengadilan yang sudah selesai," tandas Ji Wook.


Yeon Jae membawa keranjang buah-buahan itu ke rumah. Ia tak jadi memberikannya pada Ji Wook. Yeon Jae meminta ibunya memakannya.


So Kyeong memanggil Yeon Jae ke kantornya. Yeon Jae mengira So Kyeong berniat meminta maaf, tapi So Kyeong malah menyodorkan amplop.
"Kau terlalu berharap. Menurutmu aku melakukannya untuk uang? Sudah semestinya kau meminta maaf dan mengakui bahwa kau bersalah." So Kyeong tertawa.
"Tidak. Kau akan melakukannya setengah hati. Mengapa kau harus meminta maaf? Uang masih lebih baik," sahut Yeon Jae.
Tawa So Kyeong langsung menghilang. Yeon Jae mengambil uang yang disodorkan So Kyeong.
"Itulah mengapa kau tidak pergi mencari Ji Wook? Mungkin dia akan mengasihani kemiskinanmu dan berbicara banyak. Berharap kau tidak menjadikan ini sebagai alasan dan dan meminta uang darinya," ejek So Kyeong.
"Karena aku tak ingin kalian bersama. Semula aku ingin berhenti disini. Tapi sepertinya tidak bisa dengan cara ini," sergah Yeon Jae.
So Kyeong tertawa. "Lalu apa yang kau inginkan?"
"Aku  pasti akan balas dendam. Tak peduli berapa banyak aku dirugikan, aku tidak akan bisa mati."
"Apa kau pikir kau mempunyai kemampuan melakukan itu?" ejek So Kyeong.
"Siapa yang tahu kemampuan yang kumiliki?" ucap Yeon Jae dengan nada mengancam.


Ji Wook mengantar kepulangan Wilson. Sebagai permintaan maaf Wilson berniat memberikan cincin miliknya untuk Yeon Jae. Wilson tak ada waktu memberikan cincin itu langsung pada Yeon Jae. Jadi Wilson menitipkannya pada Ji Wook. Ji Wook meminta Wilson merahasiakan bantuannya pada Yeon Jae. Terlambat, Wilson sudah mengatakannya kemarin. Wilson mengerti Ji Wook membantu Yeon Jae untuk memenangkan hatinya. Wilson berkata Yeon Jae wanita yang baik. Ia mendoakan hubungan mereka berjalan baik.

Ji Wook memandangi cincin pemberian Wilson. Ji Wook terlihat bingung.
"Ini bukan lamaran. Apa ini tidak berlebihan?" guman Ji Wook.
Ji Wook mencoba menghubungi Yeon Jae, namun urung dilakukannya. So Kyeong yang malah meneleponnya.
So Kyeong mengajak Ji Wook makan siang. So Kyeong sengaja memberitahu Ji Wook jika Yeon Jae baru saja datang ke kantornya untuk meminta uang bukan mengharapkan permintaan maafnya.


Setelah masalahnya selesai, Yeon Jae mengembalikan uang yang dipinjamkan Hye Won. Yeon Jae meminta bantuan Hye Won mencari pria untuk ibunya. Yeon Jae ingin ibunya menikah lagi. 
Ji Wook menghubungi Yeon Jae, tapi Yeon Jae mengabaikan panggilannya.


Yeon Jae pergi ke rumah sakit. Yeon Jae mendonasikan uang pemberian So Kyeong untuk rumah sakit. Yeon Jae curhat pada Eun Suk. Ia sudah terbiasa menceritakan masalahnya pada Eun Suk.
"Wanita yang menamparku itu yang memberiku uang. Dia tak mau meminta maaf dan lebih senang menggunakan uangnya untuk menyelesaikan masalah. Karena harga diriku tak akan terluka, maka aku menerima uang itu. Dia adalah generasi kedua keluarga Chaebol yang selalu menghabiskan uang dimanapun. Apa yang dia lakukan dengan uang begitu banyak? Aku berpikir lebih baik menggunakannya untuk tempat seperti ini. Perasaanku lega melakukan hal ini," ucap Yeon Jae.
Eun Suk mengutarakan niatnya menjadikan Yeon Jae partnernya dalam pertunjukan Tango saat perayaan ulang tahun Rumah Sakit. Yeon Jae setuju.


Ji Wook mengecek line telepon di kantornya. Ji Wook berharap Yeon Jae meneleponnya. Di ponselnya pun tak ada panggilan masuk. Ji Wook masih ragu menghubungi Yeon Jae duluan.

Tak bisa bersabar Ji Wook memanggil Kepala Bagian Yoon Bong Gil. Ji Wook beralasan memanggilnya untuk mempertanyakan proposal program tur untuk musim gugur. Kepala Bagian Yoon protes, deadline-nya masih dua hari lagi. Ji Wook lupa. Sebelum Kepala Bagian Yoon pergi, Ji Wook bertanya mengenai kelas Tango.
"Karena aku tidak pergi, pasti disana kekurangan partner pria. Aku khawatir tentang itu." Ji Wook masih berbelit-belit. Padahal ia hanya ingin tahu kabar Yeon Jae.
"Oh, tidak lagi. Untungnya Yeon Jae membawa Schweitzer," beritahu Kepala Bagian Yoon.
(Schweitzer merupakan seorang Dokter terkenal yang memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian)
"Schweitzer?" Ji Wook bingung.
"Ya. Dia adalah teman SD-nya. Dia pria yang sopan dan dansa-nya lumayan," jawab Kepala Bagian Yoon.
"Apa dia seorang dokter?" Ji Wook sudah bisa menebak jika Eun Suk adalah orang yang dimaksud.
Ji Wook mengenal Eun Suk ketika Yeon Jae membawanya ke Junsu Fan Meeting. Kepala Bagian Yoon tak tahu profesi Eun Suk. Ji Wook menggambarkan ciri fisik Eun Suk dengan kacamata dan garis mata yang kecil. Kepala Bagian Yoon mengiyakan.


Yeon Jae mengajak ibunya kencan buta. Yeon Jae berniat mengenalkan ibunya dengan rekan kerja Eun Suk. Yeon Jae sudah membuat janji makan malam dengan mereka di sebuah restoran hotel. Ibu Yeon Jae marah-marah karena dari awal Yeon Jae tak memberi tahu. 
Eun Suk dan rekan kerjanya susah menunggu disana. Yang panas dingin dengan kencan itu malah Eun Suk. Tanpa sadar ia sudah menghabiskan beberapa gelas air putih. Yeon Jae dan ibunya muncul. Eun Suk benar-benar terpesona dengan penampilan Yeon Jae malam itu. Rekan kerja Eun Suk sampai mengingatkannya. 


Sementara itu dalam ruangan lain di hotel yang sama, Ji Wook tengah mengadakan meeting. Ji Wook di dampingi oleh Sang Woo. Mereka datang untuk menandatangi kontrak kerjasama dengan pihak hotel. 


Ibu Yeon Jae dan rekan kerja Eun Suk sepertinya cocok. Hobby dan minat mereka banyak kesamaan. Tak mau mengganggu Yeon Jae mengajak Eun Suk pergi.

Yeon Jae meminta Eun Suk menyembunyikan penyakit kanker-nya dari ibunya. Eun Suk mengerti. Mereka berbincang akrab sambil menunggu pintu lift terbuka. Ketika pintu lift terbuka, Ji Wook ada didalamnya. Yeon Jae tak melihat Ji Wook karena tengah asyik mengobrol dengan Eun Suk. Ji Wook cemburu melihat keakraban mereka.
"Apa kalian tidak mau masuk?" tanya Ji Wook dingin.
Yeon Jae langsung menoleh begitu mendengar suara Ji Wook. Yeon Jae jelas terkejut. Eun Suk mengajak Yeon Jae masuk. Yeon Jae berdiri tepat didepan Ji Wook. Yeon Jae terlihat gugup. Eun Suk menyambung obrolan mereka yang terputus. Yeon Jae hanya memaksakan sebuah senyum. Sementara itu dibelakang mereka Ji Wook dibakar cemburu. 

Keluar dari lift Ji Wook malah membuntuti Yeon Jae. Ji Wook yakin jika Eun Suk adalah pria yang dibawa Yeon Jae ke kelas Tango. Ji Wook memanggil Yeon Jae.
"Lee Yeon Jae-sshi," panggilnya. Ji Wook meminta waktu bicara dengannya.
"Siapa dia?" tanya Eun Suk.
"Kepala Direktur di tempatku bekerja dulu," jawab Yeon Jae.

Ji Wook dan Yeon Jae menyingkir. Ji Wook menuntut ucapan terimakasih dari Yeon Jae.
"Disaat sulit kau memohon padaku dan melupakannya setelah masalahmu selesai. Aku dengar setelah tuntutan hukum tuntas, kau pergi meminta uang. Kau sangat berhasrat?"
"Ya, aku mengambil uang itu. Kemarin aku merasa dirugikan, jadi aku harus menuntut uang itu. Ada yang salah? Apa aku tak boleh memintanya?" tantang Yeon Jae.
"Jadi kau menggunakan uangmu untuk bersenang-senang disini? Kemarin kau bahkan tidak sanggup datang ke hotel seperti ini. Apa kau lupa ketika kau memohon padaku karena uang?" sindir Ji Wook.
Eun Suk yang sedari tadi mendengar pertengkaran mereka merasa ucapan Ji Wook sudah keterlaluan. Ia datang menginterupsi.
"Apa kau orang yang menamparnya dan menuduhnya sebagai pencuri?" Eun Suk marah. Eun Suk hendak mengatakan hal yang sebenarnya kemana larinya uang pemberian So Kyeong, tapi Yeon Jae melarangnya. Yeon Jae mengajak Eun Suk pergi.

Ji Wook marah. Ia merasa pembicaraannya dengan Yeon Jae belum selesai. Ia mengikuti Yeon Jae keluar hotel.


Eun Suk memprotes sikap Yeon Jae. Ia tak mengerti mengapa Yeon Jae harus berbohong. Eun Suk menuntut Yeon Jae mengatakan yang sebenarnya jika uang itu ia sumbangkan ke rumah sakit.
"Seharusnya kau mengatakan yang sebenarnya? Mengapa kau ingin dia salah paham?" protes Eun Suk.

Yeon Jae jujur mengakui perasaannya.
"Aku pergi ke rumahnya. Aku ingin mengucapkan terimakasih padanya. Tidak...mengucapkan terimakasih hanyalah sebuah alasanku. Itu hanya alasanku untuk melihatnya lagi. Aku tidak bisa. Aku benar-benar ingin melihatnya, tapi aku memilih kembali."
"Apa yang kau bicarakan? Apa kau mencintai pria yang baru saja kita temui?" tanya Eun Suk.
"Aku tidak ingin seperti ini, tapi aku tidak bisa menghentikan diriku sendiri. Orang itu...aku benar-benar menyukainya." Yeon Jae berurai airmata. Ji Wook terpaku mendengar pengakuan Yeon Jae.

12 komentar:

  1. Ayo...Dewi ngebut bkin sinopsisnya,hehe..udah ga sbar nunggu klanjutannya,Semangat..^_^

    BalasHapus
  2. hehehe betul betul setuju tuh ,,nongkrongin teruus niih

    BalasHapus
  3. ayo smangat tuk episode slanjut ya .. .
    semangat ya . . .
    :)

    BalasHapus
  4. nie....@_@22/09/11 10.46

    yes yes yess...akhirnya keluar juga.... dilanjutin ya mbak... and jangan lama-lama please... bisa-bisa sista lumutan nih kalo kelamaan..hehehehe

    BalasHapus
  5. baru tadi pagi aq nonton episode ini tapi tetp peng baca sinopna dewi :) Fighting Dew !!!

    BalasHapus
  6. bgus bgt critanya...pnasran gmn lnjutanya...
    semangat....
    aza...aza...fighting............

    BalasHapus
  7. ayo donk episode selanjutny coming ..
    penasaran banget ama Lanjutanny ..
    keren banget fiLmny ...
    two thumbs buat dewi ...

    BalasHapus
  8. wow...sambungannya dong...bagus banget

    BalasHapus
  9. wah suka dengan korea yah? :)

    BalasHapus
  10. thanks ya buat semua. aku usahain secepatnya.

    BalasHapus
  11. udah gasabar nih nunggu kelanjutan ep 9 nya. ditunggu yaa

    BalasHapus
  12. aq telat sendiri baca sinop nie, jujur klo g ditayangin di tv g bakalan baca nie sinop

    BalasHapus

Comment