Jumat, 16 Juli 2010

LEBIH DARI CINTA

"Kau tidak mencintaiku ?" 
"Tidak."
"Pernahkah sekali saja kau mencintaiku ?"
"Tidak pernah"
"Mengapa kau tidak berbohong saja." Rio menatap Nala dengan tajam. Ada kemarahan dalam mata elangnya.
"Aku hanya ingin jujur."
"Jadi selama satu tahun ini sama sekali tidak ada artinya bagimu ?" Rio tampak terluka. "Kau mencintainya ?" tanyanya lagi. 
Nala terdiam. Ia cukup tahu siapa yang dimaksud oleh Rio. Hatinya bimbang. Ia tertunduk resah. Memandangi pola-pola lantai keramik yang berbentuk segi empat. Situasi ini sangat menyebalkan baginya. Harus mengakui perasaannya pada orang lain yang ia sendiripun selalu berusaha menyangkalnya.
"Kali ini berbohonglah padaku. Andai kau memberitahuku aku pasti akan berpura-pura tidak mendengar." putus Rio.
Nala masih membisu. Terpaku ditempatnya duduk. Ia ingin bergerak namun kakinya mati rasa. Kakinya seperti berubah sekeras batu. Rio terluka, Nala tahu. Walaupun kadang laki-laki itu berusaha tegar. Selalu bersikap acuh seakan tak peduli, Nala tahu hatinya rapuh. Makanya ia sekarang berada di sisinya.  Membuang jauh-jauh cinta yang dulu ingin ia gapai.
Rio beranjak dari kursi kerjanya. Mendekat ke arah Nala. Tangannya merengkuh wajah ayu Nala. Bibirnya maju siap mencium bibir Nala yang langsung mengejang dan menutup mata ketakutan. Jantungnya berdegup kencang tak beraturan. Rasa panik menguasainya. Sekarang bukan hanya kakinya yang menjadi batu, tapi keseluruhan tubuhnya membatu. Ia tak bisa bergerak.  Menunggu dengan pasrah bibirnya menjadi santapan kemarahan Rio. Setelah beberapa menit yang terasa panjang berlalu, tak terjadi apa-apa. Nala tak merasakan tekanan apapun pada bibirnya. Ia tak merasakan sesuatu menyentuhnya. Ia memberanikan diri membuka matanya. Wajah Rio hanya beberapa senti dari wajah merahnya. Rio tersenyum. Bukan senyum yang diharapkan oleh Nala. Senyumnya mengerikan. Ada nada mencela disana. Tangannya terasa mengendur di wajahnya.
"Bisakah aku menciummu jika wajahmu saja langsung pucat seperti mayat. Apakah aku ini begitu menakutkan bagimu ?" Rio melepasakan Nala. 
"Apakah aku tidak bisa seperti dia ? Apalagi yang harus kulakukan agar kau berpaling darinya ?" suaranya melirih.  Ia terhempas di sofa di belakang kursi  Nala.
"Mengapa kau selalu berusaha lebih unggul dari dia jika itu akhirnya melukaimu ?"
"Hanya itu yang bisa ku lakukan. Aku selalu ingin mendapatkan apa yang ia punya. Apapun yang ia sukai harus menjadi milikku terledih dahulu."
Nala tertawa getir "Termasuk aku menurutmu ?"
"Ya, kau salah satunya."
"Kau  salah. Hanya aku yang mencintainya. Dia tak pernah sekalipun melihatku." Akhirnya pengakuan jujur meluncur dari bibir Nala. Tapi sesuatu yang melegakan terasa mengalir hangat di tubuhnya. Inilah yang dari dulu selalu menyesakkannya. Yang selalu berusaha disangkalnya. Yang selama 5 tahun ini ia pendam seorang diri. 
"Kau benar-benar mencintai Brian ?" ucap Rio lemah. Matanya menatap Nala sayu. Ada nada marah saat ia menyebut nama Brian. Tanpa permisi bayangan Brian muncul di depan mata Nala. Mulai dari pertemuan pertama mereka ketika SMU. Hari-hari yang dilaluinya sangat menyenangkan jika bersama Brian. Persahabatan mereka terjalin dengan manis. Brian yang tampan, kaya dan pintar bagai seorang kakak yang selalu melindunginya. Kesempurnaan Brian membuat Nala jatuh cinta pada akhirnya. Tapi ia berusaha menyangkal perasaan yang tak semestinya. Persahabatan sudah cukup baginya. Bagaimana ia bisa minta yang lebih pada Brian jika banyak gadis-gadis cantik selalu berusaha menjadi pacar Brian ?
" Kau mencintai adikku, kan ?" ulang Rio. Suaranya parau saat menyebutkan kata terakhir. Ada perih disana. Nala menggangguk. Bulir-bulir airmata meleleh ke pipinya. Di satu sisi ia merasa lega, namun sisi hatinya yang lain ia merasa sakit. Seperti ada pisau yang mencoba melubangi hatinya. 
"Kalau begitu pergilah. Temui dia dan beri tahu perasaanmu.Aku melepaskanmu..." Rio beranjak pergi dari ruang kerjanya. Meninggalkan Nala yang masih terpaku ditempatnya. 
Nala menekan dadanya yang semakin sakit. Kini ia tahu apa penyebabnya. Mata sendu Rio.  Wajahnya yang lelah. Perasaannya yang terluka membuat Nala ikut merasakannya. Bagaimana bisa ia berlari pada Brian jika ada sepotong hati yang akan berdarah. Mana bisa ia mengabaikan Rio, orang yang paling rapuh yang ia pernah kenal. Lelaki yang ia tahu sangat butuh dirinya walaupun untuk sekedar merebahkan diri di bahunya. Berapa banyak lagi luka yang akan di derita olehnya ?  Bisakah ia memberitahu Brian akan cintanya ? Dan sanggupkah ia melihat Rio terluka berulang-ulang ? 
Sudah cukup ia terluka selama ini karena penolakan keluarganya sendiri. Ayah dan ibunya tak pernah menganggapnya ada. Mungkin saat pertama kali mereka mengadopsinya, mereka bisa tulus menyayangi Rio. Namun setelah Brian lahir lambat laun kasih sayang mereka berkurang bahkan hilang sama sekali. Sejak pertama kali melihat Rio saat dirinya tengah bertandang ke rumah mewah Brian, Nala tahu ada  kebencian di mata Rio saat menatap wajah adiknya.

****
Nala berjalan limbung keluar dari ruang kerja Rio. Ia  terus-terusan menekan dadanya yang masih berdenyut-denyut sakit. Sebuah suara yang sudah sangat dikenalnya menghentikan langkahnya. Mulai dari sekarang ia harus terbiasa lagi dengan suara itu. Sudah 3 hari ia telah kembali.
"Nala....!!!"
Nala menoleh. Brian dari arah belakang memanggilnya. Lelaki itu masih sama seperti dulu sejak ia meninggalkan Indonesia 5 tahun yang lalu untuk menuntut ilmu di New Zealand. Hati Nala langsung patah saat  Brian meninggalkannya. Brian tak pernah tahu perasaannya dan ia sendiri tak cukup berani mengatakannya. Sejak Brian pergi hubungannya dengan Rio semakin dekat. Lelaki yang terlihat kasar sebenarnya sangat lembut. Ia selalu mengulurkan tangannya saat Nala benar-benar membutuhkan bantuan. Masalah keuangan keluarganyalah yang semakin mendekatkannya pada Rio. Lelaki itu selalu menjadi pahlawan dalam keluarganya yang serba kekurangan. Riolah yang membiayai sekolah Zita adiknya yang hampir saja tak bisa melanjutkan SMUnya. Ibunya hanya seorang janda tanpa ada pekerjaan. Ia juga harus bersyukur Rio mau mempekerjakannya di studio foto miliknya. Studio foto yang ia bangun sendiri. Sebuah impian kecilnya yang masih ia punya. Dan ia anggap sebagai rumah yang benar-benar seperti rumah yang sesungguhnya. Ia bisa menjadi dirinya sendiri disana.
Brian mendekat dan tersenyum.
"Hai..." sapa Nala lirih. Kening Brian mengkerut.
"Rio menyakitimu ?" 
"Kenapa kau berpikiran seperti itu ? Pernahkah kau bertanya sudah berapa banyak orang yang menyakitinya ?"
Brian terdiam. Ia menghela napas. "Kau sudah semakin mengenalnya, heh ? Tapi aku berharap dia memacarimu bukan karena aku."
"Apa maksudmu ?
"Kau tahu maksudku. Ia tak pernah menyukaiku. Bahkan orang yang di dunia ini ia benci adalah aku. Tapi aku tidak pernah membencinya . Ia kakakku. Aku menyayanginya. Jika ia bahagia bersamamu aku rela melepasmu. Aku mencintaimu tapi aku ingin kakakku bahagia."
Kepala Nala tiba-tiba berdenyut. Perasaan de javu menyelimutinya. Ada apa dengan hari ini ? Mengapa mereka bisa mengatakan hal sama seperti ini ? Rasa sakit yang sedari tadi menancap di hatinya semakin menjadi-jadi. Ia menggeleng kuat-kuat. Pandangan matanya kabur oleh air mata. Brian selama ini mencintainya. Berarti cintanya  tidak pernah bertepuk sebelah tangan. Tapi mengapa harus disaat seperti ini? Ketika ia sudah terlanjur menjadi milik orang lain. Ketika cintanya pada Brian sudah ingin ia kubur. Haruskah ia bersikap egois dan membiarkan Rio terluka lagi ?
"Nala..." Brian merengkuh bahunya. Ia semakin terisak. "Membiarkan hati yang berdarah untuk terluka lagi aku tak sanggup melihatnya akan seperti apa. Ia sudah berulang kali terluka, aku yakin ia tak akan pernah menorehkan luka pada orang yang dicintainya." Brian terlihat tegar. "Pergilah. Aku sahabatmu dan aku mendukungmu." 
Brian benar. Ini bukan masalah cinta lagi. Ini lebih dari sebuah cinta. Jika ini memang disebut pengorbanan, ia ikhlas menjalaninya.  Ia yakin tak akan sulit untuk mencintai seorang Rio. Dan ia tahu Rio lebih membutuhkannya. Ia tersenyum kepada Brian, berterima kasih untuk keputusan yang mereka ambil. Menjabat tangan Brian sebagai sahabat. Kakak ipar ralat Brian sambil tertawa kecil. 
Nala berbalik badan, kembali ke ruang kerja Rio. Disana ia menemukan lelaki yang sudah dipilihnya. Rio menengadah saat ia masuk ke dalam.  Wajahnya masih tersaput mendung. Jelas disana ada bekas bulir-bulir air mata yang jatuh. 
"Jangan lepaskan aku. Kalau kau masih keras kepala melepaskan aku, akan ku ikat tanganku padamu." ucap Nala dengan nada memohon. Rio cukup terkejut mendengar ucapan Nala. tapi kemudian ia menggeleng.
"Taliku tidak cukup kuat untuk menahanmu disini. Pergilah..." sahutnya.
"Tidak. Aku tidak mau. Katakan kalau kau membutuhkannku. Aku akan menjadi sandaranmu. Aku yang akan memelukmu jika kau merasa sakit. Aku..."
"Cukup..." potong Rio keras. "Aku tidak membutuhkan siapapun."
"Bohong. Kau membutuhkanku. Kau mencintaiku, kan ?" tantang Nala.
Rio tertawa. Getir "Di dunia ini aku hanya mencintai diriku sendiri. Aku sudah lupa bagaimana cara mencintai orang lain."
"Akan ku tunjukkan padamu." Nala mendekat. Tangannya meraih tangan Rio, tapi laki-laki itu segera menepisnya. 
"Tidakkah kau tahu aku ingin bersamamu ?" Nala terisak. Air di mata beningnya berhamburan keluar.
"Mengapa...? Mengapa aku? Kau bilang kau mencintai Brian ?" Suara Rio parau.
"Tapi kau yang ku inginkah. Sungguh...."
Nala menatap nanar wajah Rio. Mencari-cari keputusan di dalam matanya. berusaha mencari sosok dirinya disana. Perlahan ia kembali meraih tangan Rio. Lelaki itu hanya terdiam. Masih bimbang akan keputusan yang diambilnya. Nala mencium punggung tangannya. Rasa hangat mengaliri hati Rio. Pertahannya selama ini runtuh. Benteng es yang dibangunnya selama ini meleleh. Ditatapnya wajah Nala dengan rasa sayang yang tiba-tiba menjalari hatinya. Gadis ini bukan lagi menjadi gadis yang hanya ingin ia rebut dari adiknya. Kini ia tahu ia mencintainya. Rio memegang wajah Nala dengan kedua tangannya yang gemetar. Nala tersenyum. Memeluk tubuh Rio dan berjanji akan belajar mencintainya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Comment