Kamis, 24 Juni 2010

SATU HARI

PAGI
Lana termenung setelah mengakhiri percakapan di telepon. Ia menekan dadanya yang tiba-tiba sakit. Luka itu masih ada. Luka yang sudah 2 tahun ini mengendap di hatinya. Luka yang masih terus berdarah jika sekelebat bayang masa lalu menghampirinya. Masih terngiang suara Gista diseberang telepon tadi.
"Lana, kamu harus datang, ya ? Awas lho kalau nggak datang !" ancam Gista lima menit yang lalu.
"Hallo...Hallo....Lana...." Gista berteriak saat tak mendengar sahutan Lana.
"Aku nggak janji, ya. Aku belum meminta izin libur pada bosku."
"Aku nggak mau tahu. Pokoknya kamu harus datang. Ini kan hari bahagiaku. Hari pernikahan sepupumu !" Gista mengakhiri percakapan setelah mendapat jawaban 'iya' dari bibir Lana.
Lana kembali merasakan nyeri di dadanya. Ia membuka mulut dan menghirup udara banyak-banyak. Sepertinya pasokan oksigen di paru-parunya tiba-tiba habis. Ia seperti berada di ruang hampa udara. Megap-megap kehabisan nafas. Padahal kamarnya cukup luas. Jendela kamarnya sudah terbuka. Sinar matahari pagi dengan bebas masuk ke dalam kamarnya. Membiaskan cahaya kekuningan ke setiap sudut ruangan.
Lana bangkit dari tempat tidurnya dalam diam. Mengatur nafasnya yang sudah mulai  normal. Ia melirik jam dinding, pukul tujuh. Pagi ini terasa sepi. Biasanya pada jam begini, Lili, keponakannya yang berumur 2 tahun selalu menerobos masuk ke dalam kamarnya dan membangunkannya dengan sebuah kecupan di pipinya. Mbak Nila, kakaknya sibuk menyiapkan sarapan pagi di dapur. Mas Pram suaminya tengah asyik membaca koran saat Lana menyapanya di meja makan. Pagi ini tidak ada aktifitas seperti itu. Kemarin sore semua anggota keluarga pergi ke Jakarta untuk menghadiri pernikahan Gista. Lana tidak ikut pergi bersama mereka. Ia beralasan masih ada pekerjaan kantor yang harus di selesaikannya dan akan menyusul hari ini. Toh, kalaupun ia tidak datang, ia sudah menitipakan kado pernikahan pada Mbak Nila.

SIANG
Lana dilema. Untuk rasa sakit yang selalu menderanya selama 2 tahun ini ia tidak ingin pergi. Namun jika ia mengingat janjinya pada Gista ia bimbang. Haruskah ia pergi ? Sanggupkah ia melihat semua ini? Apakah dirinya tidak akan terluka lagi ? Berapa banyak darah lagi yang akan menetes dari luka hatinya.
Lana berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya. Bolak-balik menatap jam di dinding kamarnya. Jam terus berputar dengan cepat. Lana belum juga mengambil keputusan. Handphonenya tiba-tiba berdering. Ia terlonjak kaget. Ragu-ragu ia mengambil HPnya di atas bantal. Nama Gista tertera di layar Hpnya.
"Hallo" sapanya.
"Lana, kamu dimana? Sudah nyampe Jakarta belum ?"
"E...eh..." Lana tergagap.
 "Ya ampun, Lana...Kamu belum berangkat juga!!!" teriak Gista nyaring.Lana reflek menjauhkan HP dari telinganya. "Sebentar lagi ijab qabulnya dimulai dan kamu masih di Bandung ?!!"
"Iya,iya....sebentar lagi berangkat." Lana memutusakan telepon dan bergegas pergi ke stasiun. Kereta Argo Gede membawanya kembali ke Jakarta. Tempat dimana hatinya berdarah-darah.


SORE
Pukul 17.24 Lana menjejakkan kakinya di kota yang sudah 2 tahun ini ditinggalkannya. Bau kota metropolitan memenuhi indera penciumannya. Kota dimana ia dilahirkan dan dibesarkan. Kota yang sudah memberikan banyak kenangan untuknya. Dimana ia pernah merasakan jatuh cinta untuk pertama kali dalam hidupnya. Cinta yang hanya sekejap ia rasakan. Namun berakhir dengan rasa sakit yang luar biasa. Membuat ia menyingkir dari Jakarta dengan membawa luka yang masih berdarah-darah ke Bandung. Disana ia memulai menata lagi kepingan hati yang telah koyak. Menambal lubang-lubang di hatinya yang basah darah.Walaupu ia tahu usahanya selalu sia-sia.
Lana memantapkan hatinya untuk masuk ke dalam gedung pernikahan. Warna putih mendominasi dekorasi ruangan. Bunga-bunga segar berwarna putih tertata apik di setiap sudut ruangan. Aroma suka cita menguar dari seluruh ruangan.  Dulu ia yang memimpikan pernikahan seperti ini. Tapi sekarang ia sudah mengubur jauh-jauh mimpinya itu. Lana  berjalan dengan limbung. Melangkahkan kakinya dengan gemetaran. Ia menghela nafas dalam-dalam. Mengabaikan semua perasaan nyeri yang menghantam dadanya. Membebat luka di  hatinya yang mulai berdarah lagi. Mbak Nila dari ujung seberang melambaikan tangan padanya. Ia tengah asyik mengobrol dengan tante Ratna, adik mamanya yang juga ibu Gista. Lana mendekat. Matanya tertuju pada pelaminan dan kedua mempelai. Hatinya mencelos. Bongkahan batu besar seakan merosot dari hatinya. Gista tampak anggun dengan kebaya modern berwarna cokelat keemasan.Ia tak pernah lepas dari senyumannya saat menyalami para tamu undangan.Di sampingnya berdiri laki-laki yang sekarang sudah sah menjadi suaminya. Tak ada yang berubah dari dirinya. Dua tahun lalu atau sekarang ia tetap menjadi laki-laki yang dicintai oleh Lana. Ia juga tersenyum. Senyum yang dulu pernah membuat Lana jatuh hati. 
"Lana, ini kenalin Mas Bayu pacar aku." Sekelebat masa lalu tiba-tiba menghampirinya saat Gista bertandang ke rumahnya dengan membawa cinta pertama untuk Lana. Laki-laki bernama Bayu itu tersenyum. Senyum yang langsung melelehkan hatinya dan membuat ia berdebar-debar. Saat itu ia sedang disibukkan dengan skripsinya. Gista dengan berbaik hati menyarankan Bayu yang kala itu seorang asdos untuk membantu Lana dalam mengerjakan skripsinya. Bayu bersedia dan mulai saat itu mereka sering membuat janji. Kebersamaan yang semakin intens menumbuhkan benih-benih cinta yang seharusnya tak terjadi. Namun Lana yang dari awal sudah tertarik pada Bayu tak dapat mengelak perasaan cinta terlarang diantara mereka. Hampir satu tahun Lana menjalin cinta dengan sembunyi-sembunyi. Walaupun perasaannya sering terluka karena selalu dinomorduakan. Tapi Bayu selalu meyakinkan dirinya bahwa ia mencintainya,  ia menginginkannya. Sampai suatu hari Bayu memberi kabar bahwa ia akan bertunangan dengan Gista.Dan ia ingin mengakhiri hubungan yang semestinya dari awal tidak pernah tercipta. Dunia Lana seakan runtuh. Hatinya serasa di tusuk beribu-ribu pisau yang sangat tajam. Sejak saat itu Bayu tak pernah menemuinya. Ia seakan menghilang. Dan Lana memilih meninggalkan Jakarta dengan lubang berdarah di hatinya.
" Lana..." Sebuah suara menarik Lana kembali. Gista melambaikan tangannya dari kursi pelaminanya. Ia tesenyum lebar saat melihat kehadirannya. Gista mengajaknya mendekat. 
Dengan susah payah Lana berhasil mencapai pelaminan dan berdiri dengan tegak di hadapan pasangan pengantin. Gista memeluknya. Lana mengucapkan selamat dengan terbata. Sebutir airmata keluar dari matanya tapi segera di tepisnya tanpa ada yang menyadarinya. Gista melepaskan pelukan. Dengan canggung Lana juga memberi ucapan selamat pada Bayu yang tersenyum kaku.
"Maaf, aku terlambat. "
"Terimakasih sudah datang." ucap Bayu. Lana menoleh. Menatap matanya yang bening. Mencari sebuah pengharapan disana untuk cintanya. Tapi usahanya sia-sia. Ternyata penilaian ia salah bahwa tidak ada yang berubah. Ada.  Ada yang berubah. Tatapan mata itu. Tatapan penuh cinta itu sudah tidak ada lagi disana. Sudah habiskah ? Apa ia harus berhenti disini ? Membawa lagi lukanya dan mengobatinya sendiri.


MALAM
Gista membujuk Lana untuk menginap, tapi ia bersikeras untuk langsung pulang. Izin liburnya hanya satu hari, begitu alasannya. Lana kembali menaiki Argo Gede. Pikirannya melayang kembali pada pernikahan Gista. Ia tampak bahagia dengan pernikahannya tanpa pernah tahu Bayu telah berbagi hati dengan orang lain. Lana bertekad akan mengubur semuanya. Dari sini ia memulai dan dari sinilah semua harus berakhir tanpa harus meninggalkan luka lagi di hatinya. Bayu sekarang sudah bahagia dengan pilihannya, maka iapun harus meraih kebahagiaannya juga. Bukankah manusia sudah diciptakan untuk berpasang-pasangan. Jadi kenapa ia menyerah hanya karena pernah gagal dalam bercinta. Ia tidak berharap menemukan laki-laki yang lebih baik dari Bayu, tapi ia yakin ia bisa mencintai lagi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Comment