Kamis, 11 November 2010

The Birth Of The Rich Episode 10


"Anting-anting itu milik orang lain. Aku mencurinya..." Boo Kwi Ho mengaku. 
"Siapa orang itu?" tuntut Suk Bong.
Direktur Boo Kwi tak mau menjawab pertanyaan Suk Bong. Ia tak percaya pada Suk Bong dan menuduhnya juga mencuri kalung itu seperti dirinya. Suk Bong tak terima. Ia mengatakan apa harus memberinya uang dulu baru Direktur mau mempercayainya. Pantas saja Tae Hee selalu menganggap semua masalah bisa diselesaikan dengan uang, karena ia juga dididik dengan bergantung pada uang. Direktur Boo marah besar.
"Beraninya kau...!! Aku adalah Boo Kwi Ho."
"Aku adalah Choi Suk Bong yang hampir saja menjadi Boo Suk Bong. Aku beruntung Tuhan masih membantuku." ucap Suk Bong keras (Aku juga bersyukur Suk Bong gak ganti marga. Gak enak banget di ucapin).
"Apa kau ingin sekali menjadi Boo Suk Bong?" tanya Direktur
"Sama sekali tidak. Tahu ayahku adalah orang yang hanya memikirkan uang, itu sangat memalukan." ucap Suk Bong. "Tolong beritahu aku dari mana kau curi anting-anting itu?" 
"Tidak. Aku tida mau. Jika kau ingin tahu buktikan dulu bahwa kalung itu dari ayahmu." 
Kemudian Suk Bong pergi dengan marah. Di dalam Tae Hee memandangi wajah ayahnya dengan sinis. Ia menghampiri ayahnya dan ia marah karena tahu ayahnya menghadiahkan ibunya sebuah anting-anting dari hasil curian. Ia juga menanyakan ayahnya dari mana ia mencurinya. Ayahnya tetap tak mau buka suara dan memilih pergi. 

Shin Mi mengajak So Jung shopping. So Jung sangat senang, tapi ternyata Shin Mi membawanya ke sebuah pasar bukan ke Mall atau butik seperti bayangannya. Shin Mi mencoba sebuah pakaian dan meminta pendapat So Jung. Awalnya So Jung bilang bagus, tapi Shin Mi tak percaya melihat raut wajah So Jung. Kemudian dengan jujur  ia bilang baju yang dipilih Shin Mi sangat kuno dan seperti tante-tante. Shin Mi kesal selera fashionnya dianggap rendah. Lalu ia meminta So Jung memilihkan baju untuknya. So Jung menyodorkan sebuah kemeja lengan panjang putih. Shin Mi yang berniat balas dendam dengan gantian mengejek pilihan So Jung.
Shin Mi pergi ke toko lain. Menawar sebuah baju dengan harga murah. Keliatan banget kalo Shin Mi jago nawar.

Suk Bong pergi ke pinggir laut di pelabuhan. Ia menenangkan dirinya disana. Suk Bong melepas kalungnya dan berniat membuangnya di laut. Tapi ia mengurungkan niatnya. Kalung itu terjatuh dan ia jongkok untuk memungutnya. Tiba-tiba teleponnya berbunyi. Dari arah jauh seorang pria berjas hitam tengah mengawasinya (pria ini suruhan Choo Young Dal).
mata-matanya ganteng juga....
Woon Suk tengah berada di galeri seni. Ayahnya Choo young Dal datang menghampirinya. Mereka berbincang. Choo Young Dal menyinggung masalah Suk Bong yang sepertinya menghalangi usaha Woon Suk mendekati Shin Mi. Kemudian ia menyarankan agar menjadikan Suk Bong anak buahnya. Maksudnya mah biar Suk Bong bisa dikendalikan dan tak merusak rencana mereka.

Suk Bong tadi di telepon oleh Bang Soon Ji. Mereka mengobrol. Dasar wartawan ternyata Soon Ji mengajaknya bertemu hanya untuk mengorek berita ketika Suk Bong menyelamatkan Tae Hee di kantor polisi dulu. Suk Bong kesal pada Soon Ji. Ia langsung pergi. Soon Ji mengejarnya. Seorang pria masuk ke dalam kafe. Bang Soon Ji mengenali pria itu (dia anak buahnya Woon Suk). Pria itu ingin berbicara pada Soon Ji, tapi kaget saat tahu Soon Ji tengah bersama Suk Bong. Buru-buru ia pergi mengajak pindah tempat.

Tae Hee memandangi anting-antingya. Ia keceplosan bicara pada Sekretaris Yoon bahwa ayahnya adalah pencuri (ini nih salah satu kelemahan Tae Hee. Ia nggak bisa boong n nggak pernah bisa menyimpan rahasia). Sekretaris Yoon kaget mendengarnya. Tae Hee kesal pada dirinya sendiri yang sudah kelepasan bicara. Ia pergi menemui ayahnya di ruang kerja. Ia kembali merayu ayahnya untuk memberitahunya anting itu dicuri dari mana. Boo Kwi Ho tetap tak mau memberitahu. Ia malah memperingatkan Tae Hee agar jangan dekat-dekat lagi dengan Suk Bong. Tae Hee terus merayunya hingga ayahnya tak tahan dan menyuruhnya belanja dengan ditemani Woon Suk.

Woon Suk mengikuti saran ayahnya. Ia mengundang Suk Bong datang ke rumahnya. Woon Suk mendapat SMS dari Boo Kwi Ho agar mengajak Tae Hee berkencan. Lalu ia kembali pada Suk Bong. Woon Suk menawarkan pekerjaan di Frontier. Bahkan ia juga memberi Suk Bong sebuah kunci mobil. 
tangan cowok kok alus banget ya?
Suk Bong keluar dari rumah Woon Suk bersamaan dengan sebuah mobil hitam masuk ke garasi rumah Woon Suk. Seorang pria keluar dari mobil itu sambil berbicara di telepon. Suk Bong melihat pria itu dan merasa familiar. Ia teringat pria itu yang bertemu dengannya di kedai saat bertemu dengan Bang Soon Ji.
Sementara Woon Suk didalam memandangi kunci mobil yang lagi-lagi ditolak Suk Bong (dulu Suk Bong juga menolak uang pemberiannya). Ia marah dan melempar kunci itu. 
Rumah Woon Suk bagus.
Woon Suk mengajak Tae Hee naik motornya. Tae Hee sangat senang dibonceng Woon Suk (bikin ngiri neh...). Ia berteriak kegirangan. Mereka berhenti di sebuah restoran. 
Gak bisa kalo gak ambil gambar close-up Woon Suk. Bis cakep seh.
"Tae Hee, apakah aku orang yang baik?" tanya Woon Suk tiba-tiba. Wajahnya berubah sedih. "Aku bukan orang baik seperti yang kau kira."
"Aku tahu. Kebetulan aku membenci orang yang berpura-pura baik." jawab Tae Hee lalu menyodorkan sumpitnya dan ingin menyuapi  Woon Suk. Tae Hee tersenyum senang saat Woon Suk mau disuapi olehnya. Ia juga meminta Woon Suk bergantian menyuapinya. Woon Suk menyodorkan sumpitnya. Tae Hee membuka mulutnya lalu mengambil gambar mereka dengan kamera ponselnya. Woon Suk tertawa melihat tingkah Tae Hee yang seperti anak kecil.
"Kalau begitu aku ingin mengajukan satu pertanyaan anak kecil," ucap Tae Hee.
"Tanya saja."
"Jika Shin Mi menyukai Suk Bong galak, kau bagaimana?" tanya Tae Hee.
Woon Suk diam sejenak kemudian ia menjawab. "Aku sepertinya tak boleh terlalu keras pada diri sendiri."
Tae Hee senang mendengar jawaban Woon Suk dan mengatakan makanannya enak.
nah gitu dong senyum...
Oh Sung sedang rapat. Kali ini mereka merapatkan anak perusahaan mereka yang bergerak di sektor kartu kredit Smart. Seperti biasa Boo Ho Group merupakan pesaing mereka selalu lebih unggul. Dalam satu tahun ini Boo Ho telah mengusai pasar kalangan menengah atas dengan menempatkan kartu kredit Super Luxury. Oh Sung yang selalu mengikuti perkembangan Boo Ho selalu berada di urutan kedua. Jika hal ini terjadi terus-menerus perusahaan mereka bisa terancam. 

Sementara itu Suk Bong tengah di kantor Presdir menungguinya selesai rapat. Tak lama kemudian Presdir datang. Ia menyuruh Suk Bong bekerja di Smart. Tiba-tiba pegawai Presdir muncul dan mengabari bahwa Axe sedang gawat. Presdir langsung melompat bangun dan pergi. Suk Bong kali ini tak berusaha mencegah kepergian Presdir.
Di koridor ia bertemu dengan So Jung. Suk Bong memberitahu bahwa dirinya mulai besok akan bekerja di Smart. So Jung senang mendengarnya dan menarik Suk Bong untuk bertemu dengan Shin Mi. Mereka masuk ke ruangan Shin Mi. So Jung langsung memberitahunya bahwa Suk Bong akan bekerja di Smart. Shin Mi tak peduli. Ia masih marah pada Suk Bong lalu memilih pergi.
Shin Mi berjalan keluar. Ia kesal saat menyadari tak ada yang mengejarnya. Kemudian ia berbalik ketika Suk Bong berjalan mendekat ke arahnya. Shin Mi langsung bebalik badan lagi hendak pergi dan Suk Bong berseru padanya.
"Aku ingin berbicara."
Mereka datang ke Kafe Ainas. Shin Mi membagi segelas kopi menjadi dua bagian (ya ampun pelit banget seh nie orang). Lalu memberikan salah satu gelas kopi itu pada Suk Bong.
"Apa yang ingin kau katakan?" tanya Shin Mi.
Suk Bong tidak langsung menjawab. Ia meminum kopinya dulu. Ia terlihat senang. Pasti karena sudah diterima bekerja di Smart.
"Tiba-tiba tak ingin bilang," jawab Suk Bong. "Bisa kan, hanya minum kopi saja." 
Lalu Suk Bong mengklarifikasi gosip yang ditulis Bang Soon Ji. Ia mengakui kesalahannya karena telah memberikan sedikit informasi itu pada Bang Soon Ji dan meminta maaf. Tapi ia juga bilang ada pihak ketiga yang memberi informasi lebih banyak. Shin Mi teringat oknum yang juga menyabotase acara konferensi pers-nya.

Boo Kwi Hoo sedang berada di sebuah butik menemani Tae Hee shopping. Tae He keluar dari ruang ganti dengan memakai pakaian seksi. Boo Kwi Hoo melotot melihat pakaian yang dipakai putrinya dan mengomelinya. Tae Hee kesal dan memborong semua pakaian yang sudah dicobanya. Boo Kwi Hoo makin melotot dan terpaksa harus membayar semua baju-baju itu setelah Tae Hee mengancamnya soal anting-anting (Tae Hee tega benget seh meres bapaknya sendiri). 

Shin Mi pulang ke rumah. Pengurus rumah memberitahu bahwa Axe, anjing peliharaan Presdir sudah mati. Shin Mi kaget. Ia mendatangi ruang kerja ayahnya. Presdir sangat berduka atas kematian Axe. Ia curhat pada foto mendiang istrinya. Ia merasa sudah tak punya teman lagi. Presdir bertahan hidup karena masih ada Shin Mi yang harus dijaganya.
Di depan pintu Shin Mi ikut sedih mendengar perkataan ayahnya.    

Shin Mi masuk ke ruang kerja ayahnya. Ia melihat ayahnya tertidur dengan memegangi foto keluarga. Shin Mi mengambil foto itu dan Presdir terbagun. 
Shin Mi menawarkan membantu ayahnya menyemir rambut. Presdir awalnya menolak, tapi Shin Mi memaksa dengan mengatakan tak menyukai ayahnya yang terlihat tua.
Pengurus rumah sedikit khawatir melihat cara Shin Mi menyemir rambut Presdir. Ia meminta Shin Mi memberikan pekerjaan itu padanya, tapi Shin Mi menolak. Presdir juga terlihat khawatir (liatin deh mukanya kocak abis).   

Tae Hee kembali berusaha membujuk Suk Bong agar mau berpacaran dengan Shin Mi. Suk Bong kesal saat tahu ia dipanggil hanya untuk membahas masalah ini. Ia bangkit dan meminta pergi untuk mulai bekerja. Tae Hee menahannya. Ia melihat penampilan Suk Bong.
"Aku akan belikan jas untukmu," ucapnya. "Kau punya sepatu kulit? Didepan Shin Mi kau harus kelihatan ganteng. Lee Shin Mi meminta kau bekerja padanya. Itu artinya ia ada perasaan padamu."
Suk Bong hanya bisa memandangi Tae Hee dengan malas. 

Suk Bong bersiap diri untuk memulai hari kerja pertamanya. Ia berdandan dan memakai jas warna biru langit (cakep deh...). Byung Do dan putranya memandanginya dengan kagum. Keluarga Park mengatarnya berangkat sampai depan pintu. Semua memberi semangat. Ibu Kang Woo memberi dukungan dengan membantu merapikan jasnya. Suk Bong berjalan dengan penuh semangat dan percaya diri. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti dan ia melihat ke arah sepatunya. Ternyata ia menginjak kotoran anjing (euww, geli gue...). Dengan kesal ia membersihkan sepatunya ke tembok.

Suk Bong sampai di depan kantor SMART. Ia menatap gedung tinggi itu dan mulai memupuk harapan dan impiannya disana. Ia masuk dan langsung memperkenalkan dirinya.
"Aku adalah karyawan baru di Smart, Choi Suk Bong." ucapnya penuh semangat dengan mengacungkan ID Card (walau sempet kebalik pas ngeliatain ID Card-nya). Suk Bong terdiam, menoleh, memandangi rekan sekerjanya yang tak memberinya respon ataupun sambutan. Mereka semua terlihat acuh dan sibuk dengan pekerjaannya masing-masing (bwahaha...).
Salah seorang rekan kerjanya bangun dan sedikit mengomelinya karena datang terlambat lalu memberi tahu tempat kerja Suk Bong. 

Tugas pertama Suk Bong adalah memfotokopi setumpuk kertas. Suk Bong kaget. Tapi ia tak ada kuasa menolak. Suk Bong mengerjakan tugas itu dengan raut wajah kesal (nggak pa-pa deh kerja dari nol dulu, tapi kesian juga kalo jadi tukang fotokopi doang). Seorang rekan kerja pria yang diketahui bernama Mun Dae  Myung datang memintanya memfotokopi berkas yang dibawanya dan memerintahkan banyak hal dengan cepat pada Suk Bong. Suk Bong tak jelas mendengar semua perintahnya dan memintanya mengulang. Suk Bong memperkenalkan diri dan pria itu tahu Suk Bong adalah pegawai yang masuk melalui jalur belakang. Ia tak jadi menyuruh Suk Bong dan mengerjakannya sendiri. Suk Bong terpana melihat cara kerja pria itu yang cepat dan rapi (tapi mukanya nyebelin). Suk Bong melihat ID Card pria itu dan tahu bahwa ia manager pemasaran di Smart.

Sekretaris Yoon berkencan dengan Pengurus rumah. Dari Sekretaris Yoon, dia mendapat informasi bahwa Byung Do tinggal bersama Suk Bong.
Pengurus rumah mendatangi rumah Suk Bong dan menangkap basah Byung Do yang tengah bersantai dengan anaknya. Anak Byung Do memohon pada Pengurus rumah agar tak menangkap ayahnya. Pengurus rumah jadi  merasa kasihan.
Mereka di damaikan oleh keluarga Park. Pengurus rumah bercerita bahwa Byung Do adalah teman sekolahnya yang sudah membawa kabur uangnya. Byung Do masih ngeles kalo ia nggak kabur tapi berpindah-pindah rumah (sama aja itu seh...). 

Suk Bong datang terlambat dalam rapat. Mun Dae Myung sedang mempresentasikan peluncuran produk kartu kredit Smart yang baru guna menyaingi kartu kredit Super Luxury milik Boo Ho. Siasat untuk menyaingi Boo Ho dengan memberikan bunga yang lebih rendah. Jika kelas Boo Hoo adalah VIP, maka Smart adalah  VVIP dan jika Boo Ho mengenakan bunga 1%, maka Smart bisa memberikan 0,5%. Mun Dae Myung memperkenalkan Premium Credit Card. Kepala manager setuju pada usulannya dengan membidik kalangan atas adalah ide yang bagus. Tiba-tiba Suk Bong mengeluarkan pendapat tak setuju.
"Bagaimana dengan orang-orang yang tak mampu yang tak bisa membeli daging?" tanyanya. Boo Ho meluncurkan kartu kredit untuk membidik kalangan atas. Suk Bong mengusulkan agar mereka mengambil konsumen dari kalangan biasa. Kepala manager mencelanya bahwa Smart bukanlah perusahaan amal. Mun Dae Myung meminta para staf untuk memberikan applaus untuk keberanian Suk Bong memberikan pendapatnya. Suk Bong sangat senang dan bertepuk tangan untuk dirinya, tapi langsung berhenti saat tak seorang pun dalam rapat bertepuk tangan untuknya. Mun Dae Myung juga meminta Suk Bong mempresentasikan idenya pada rapat mendatang. 
kebiasan Mun Dae Myung neh.

Choo Young Dal bertemu dengan Boo Kwi Hoo di arena tembak dan membicarakan kalung milik Suk Bong. Boo Kwi Ho kaget bahwa Choo Young Dal juga mengetahui hal itu.

Lalu Choo Young Dal datang ke rumah Woon Suk, tapi Woon Suk sedang pergi ke rumah Shin Mi. Ia menyerahkan sebuah berkas pada anak buah Woon Suk. Berkas itu berisi laporan pasar logam mulia. Ia meminta Woon Suk mempelajari berkas itu.

Sementara itu Woon Suk di rumah Shin Mi datang membawa hadiah lukisan. Pengurus rumah ikut melihat lukisan itu dan mengatakan Woon Suk memberi lukisan ini pasti karena ingin dianggap sebagai calon menatu yang baik. Shin Mi risih mendengar ucapan Pengurus rumah dan menyuruhnya membuat teh. 
Woon Suk tak memungkiri ucapan Pengurus rumah. Shin Mi malas membahas hal itu dan mengalihkan pembicaraan dengan membahas gosip di koran sudah di klarifikasi oleh Suk Bong. Woon Suk berusaha meyakinkan Shin Mi bahwa yang menyebarkan gosip itu pada Bang Soon Ji adalah Choi Suk Bong, bahkan ia memberikan kartu nama wartawati itu agar Shin Mi bisa menanyainya langsung.
lukisannya bagus.

Suk Bong makan siang di kantin. Ia mencoba membaur dengan pekerja disana. Ia menghampiri salah satu kursi yang kosong, namu tiba-tiba Mun Dae Myung datang menyerobot tempat duduknya. Suk Bong pindah ke meja satunya. Dari belakang ia mendengar rekan-rekan sekerjanya membicarakannya. Mereka membicarakan Suk Bong yang bisa bekerja karena koneksi dari Presdir. Mereka menyebut Suk Bong parasut. Suk Bong tak tahan mendengar bisik-bisik itu. Ia pergi meninggalkan makan siangnya. Lalu meneruskan makan siangnya di supermarket dengan makan ramen (kasian, tapi enak ya supermarket disana ada tempat untuk makan). 

Suk Bong kembali ke rumahnya. Putra Byung Do meminta Suk Bong mendengarkan lagu ciptaannya yang terinspirasi dari kisah Suk Bong. Kang Woo masuk dan meminta kartu nama Suk Bong yang baru dicetak. Kang Woo mengira pasti Suk Bong bangga bekerja sebagai staf marketing disana. Suk Bong teringat peristiwa tadi siang di kantor ketika Mun Dae Myung menasehatinya agar jangan terlalu banyak membagikan kartu nama yang hanya dipakai sebentar (Maksudnya mah Suk Bong gak balakan lama kerja disana. Ih, jahatnya...).     

Tengah malam Byung Do sibuk bekerja dengan kertas-kertasnya. Suk Bong bangun dan mengambil salah satu lembar kertas itu.
"Logam mulia." Suk Bong membaca tulisan dalam kertas itu. Byung Do langsung merebutnya dan beranjak tidur. Ia menasehati Suk Bong agar cepat tidur karena ia pasti sangat lelah seharian di kantor mendengar ejekan dari rekan-rakannya. Suk Bong kaget karena tanpa ia cerita Byung Do bisa tahu. Byung Do bilang Suk Bong tak usah marah karena memang kenyataan ia masuk dari jalur belakang. Akan aneh kalau mereka diam saja. 

Suk Bong kembali bekerja. Ia membawa sebuah bungkusan besar. Isinya adalah bantalan parasut kuning. Kemudian ia memakainya dibelakang punggungnya (ada2 aja neh Suk Bong). Mun Dae Myung bertanya apa yang dipakainya. Suk Bong menjawab parasut seperti imej-nya di perusahaan ini. Ia menjalankan perintah Mun Dae Myung dengan benar. Menyapa semua dengan ramah dan membantu salah satu rekan kerja wanitanya mengganti air galon (salut deh sama semangatnya Suk Bong).
Saat makan siang Suk Bong tak malu-malu ikut bergabung dengan rekan-rekan kerjanya. Bahkan ia mengambil kursi tambahan dan makan bersama mereka. Mu Dae Myung hanya bisa melihat dengan sebal.
enak ya kalo dapet jatah makan siang di kantor.

Suk Bong datang menengok Kang Sook di tempat kerjanya Bank Partner. Kang Sook berteriak senang. Suk Bong memberinya jus, tapi tiba-tiba anak Byung Do datang langsung meminum jus itu (sampe sekarang aku gak tahu nama cowok itu). Kang Sook kesal dengan kehadirannya yang nggak tepat. Putra Byung Do bilang ia kesana ingin membuat kartu kredit. Kang Sook bilang bahwa ia tak bisa mengajukan aplikasi kartu kredit karena ia tak punya pekerjaan. Putra Byung kesal mengapa seorang pengangguran tak boleh membuat kartu kerdit. Suk Bong tiba-tiba mendapat ide.   

Anak buah Woon Suk memberi laporan bahwa saham perusahaan mereka semakin anjlok semenjak pengumuman klarifikasi dari gosip mengenai hubungannnya dengan Shin Mi.

Sementara di rumah Shin Mi tengah merayakan ulang tahunnya dengan makan sup rumput laut bersama ayahnya. Presdir Lee meminta Shin Mi menangani perusahaan kartu kredit Smart. Shin Mi terkejut dan terharu akhirnya ayahnya sudah bisa mempercayainya memegang jabatan penting di Oh Sung. Menurutnya itu kado terindah untuk ulang tahunnya.

Smart kembali mengadakan rapat. Suk Bong terlihat sibuk membagi-bagikan kertas file. Kepala Manager masuk dan memberi pengumuman untuk peluncuran produk baru Smart akan ada orang dari pusat yang mengawasi. Shin Mi masuk dan memperkenalkan diri. Suk Bong kaget melihat Shin Mi. 
Su Bong memulai presentasinya. Ia mengawali dengan kata pengantar bahwa di Korea tingkat pengangguran sangat banyak. Rata-rata tingkat pengangguran untuk anak-anak muda sendiri mencapai 10% yang artinya calon konsumen mereka  yang tidak punya pekerjaan sangat banyak. Suk Bong memilih mereka menjadi target pemasaran produk kartu Smart. Shin Mi langsung mencela ide Suk Bong. Ia sama sekali tak setuju dengan usulan Suk Bong. Ia mendirikan perusahaan ini untuk mendapatkan untung bukan untuk membagi-bagikan hartanya. Shin Mi marah dan meninggalkan ruang rapat.     

Suk Bong menunggu Shin Mi keluar dari ruangannya. Saat Shin Mi keluar, ia menarik lengannya.
"Apa harus membuatku malu di depan semua orang?" tanya Suk Bong marah.
Shin Mi menatap sinis ke arah Suk Bong. "Tindakanmu sangat tidak sopan. Disini aku adalah atasanmu."
Suk Bong melepaskan tangannya. Shin Mi langsung pergi dari hadapannya.

Woon Suk membawa Shin Mi ke makam ibunya.
"Bibi, aku Choo Woon Suk. Terimakasih kau sudah lahirkan Shin Mi," ucapnya lalu menuangkan sup rumput laut untuk sesajen (orang udah mati kok dikasih makan). Shin Mi hanya berdiri mematung disampingnya. Woon Suk menoleh pada Shin Mi dan menyuruhnya meletakkan sup itu di depan makam ibunya.

Boo Kwi Hoo sedang memandangi berkas Suk Bong di ruang kerjanya. Ia teringat obrolannya bersama Choo Young Dal mengenai kalung Suk Bong. Ia memberitahu Choo Young Dal kalung itu katanya didapat dari ayahnya. Choo Young Dal menjawab berita itu belum ada kepastian benar atau tidaknya, tapi yang jelas Suk Bong telah diangkat menjadi staf khusus di Oh Sung. Boo Kwi Ho terkejut.
"Berarti Lee Jeong Hoon?" serunya.      
Boo Kwi Hoo langsung menelepon seseorang. Kemudian ia menelepon supirnya minta disiapakan mobil. Tanpa disadarinya Tae Hee menguping di balik pintu.

Suk Bong bertemu dengan So Jung yang tengah membawa seikat bunga. So Jung bilang bunga itu hadiah ulang tahun untuk Shin Mi dari Manager Choo. Tapi Shin Mi tak menyukai hadiah yang menurutnya hanya memboroskan uang, maka bunga itu diberikan pada So Jung.
Suk Bong ingin memberikan hadiah ulang tahun juga pada Shin Mi. Ia pergi ke toko perhiasan dan berniat membeli sebuah kalung. Seorang SPG memberikan pilihan kalung berbentuk hati. Saat melihat harga kalung itu, ia langsung mengurungkan niatnya.
Akhirnya Suk Bong mendatangi pasar. Ia membeli sebuah jepit rambut yang sesuai dengan ukuran kantongnya. Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Tae Hee meneleponnya dan memberitahukan bahwa ayahnya akan pergi ke suatu tempat yang kemungkinan berhubungan dengan ayah Suk Bong. Ia meminta Suk Bong membuntuti kemana ayahnya pergi.

Mereka bertiga naik mobil membuntuti mobil milik Boo Kwi Ho.
Boo Kwi Ho mendatangi seorang pria yang dulu pernah dikunjungi oleh Lee Jeong Heon. Pria itu selalu terlihat sedang menggambar sebuah lambang yang sama seperti lambang dalam kalung Suk Bong.
"Maaf aku jarang sekali menengokmu," ucap Boo Kwi Ho. Lalu ia mengamati gambar pria itu. "Dari dulu aku selalu aneh mengapa kau selalu menggambar itu. Apakah benar kau mempunyai seorang anak laki-laki?"
Suk Bong masuk ke ruangan itu. Pria itu membalikkan badan dan menoleh padanya.


1 komentar:

Comment