Rabu, 07 September 2011

Sinopsis Scent of A Woman Episode 4




Ji Wook terkejut mendapati So Kyeong menyusulnya ke Jepang. Tiba-tiba saja So Kyeong muncul di lobby hotel ketika Ji Wook dan Yeon Jae baru saja kembali. Yeon Jae juga tak kalah syok.

So Kyeong menatap bengis.
"Apa yang kalian berdua lakukan? Sedang apa kau?"
"Apakah ini caramu berbicara dengan orang yang baru kau temui?" seru Ji Wook.
"Itu karena aku sudah bertemu dengannya sebelumnya," sahut So Kyeong tajam. "Haruskah aku memperjelas situasi ini? Ku dengar kau datang kesini untuk urusan pekerjaan. Tapi kau membawa staff wanita rendahan bersamamu? Oh, tidak. Dia bukan lagi seorang staff rendahan, karena dia telah dipecat."
"Apa maksudmu?" Ji Wook tak paham.
"Sepertinya kau tak tahu apapun tentang ini," terka So Kyeong.
"Apa mungkin kau adalah salah satu karyawanku?" tanya Ji Wook pada Yeon Jae.
Yeon Jae terdiam. Kemudian Yeon Jae membenarkan ucapan So Kyeong, namun meralat jika dirinya tak lagi bekerja di Line Tour bukan karena dipecat melainkan mengundurkan diri.
"Miss Lee Yeon Jae, apakah kau telah mengenalku sebelumnya?" potong Ji Wook. Yeon Jae menunduk. "Mengapa kau berpura-pura tak kenal?"
Yeon Jae kebingungan. Ia tak bisa menjawab pertanyaan Ji Wook.

So Kyeong memandang rendah Yeon Jae. Mengomentari penampilan Yeon Jae yang berubah drastis dan menuduh Yeon Jae sengaja membuntuti Ji Wook ke Jepang.
"Kau ingin merayunya karena dia putra dari Direktur Utama, kan?"
"Kami bertemu disini karena kebetulan." Yeon Jae membela diri. Tentu saja So Kyeong tak percaya. Ia tertawa sarkastik.
"Mengapa aku harus mendengar hal semacam ini? Aku tak melakukan kesalahan. Aku rasa kau tak punya asalan mengatakan hal itu padaku?" ucap Yeon Jae ketus.
"Karena aku tunangannya," sahut So Kyeong.
Yeon Jae syok. Ia memandang Ji Wook yang mengiyakan ucapan So Kyeong.
So Kyeong mulai menyerang Yeon Jae lagi. Ji Wook menegaskan tak ada yang terjadi diantara dirinya dan Yeon Jae. So Kyeong belum selesai. Ia memberi tahu Ji Wook jika Yeon Jae adalah orang yang mencuri cincin milik Andy Wilson sekaligus orang yang telah menamparnya. So Kyeong menuduh Yeon Jae pergi ke Jepang dari menjual cincin Wilson. Jelas Yeon Jae tak terima dengan tuduhannya. Yeon Jae menggunakan semua uang tabungannya. Yeon Jae juga menegaskan jika ia tak pernah mencuri cincin milik Wilson. Kesabaran Yeon Jae habis. Ia berteriak bahwa So Kyeong lah yang pertama kali menamparnya. Ji Wook turun tangan. Ia mengingatkan Yeon Jae untuk memelankan volume suaranya. Airmata Yeon Jae tumpah.
"Aku telah membuatmu malu. Maaf untuk situasi yang tak nyaman ini. Aku harap kau menikmati perjalanan yang menyenangkan." Yeon Jae berpamitan.

Setelah Yeon Jae pergi, masih saja So Kyeong menghinanya. Ji Wook kesal. Ia mengingatkan So Kyeong perjanjian mereka berdua untuk tak saling mengurusi kehidupan pribadi masing-masing sebelum ada ikatan pernikahan. So Kyeong mati kutu (nie orang lama2 nyebelin....).


Yeon Jae berjalan sambil menahan tangis. Hatinya semakin sakit saat melihat sebuah keluarga kecil sedang bercengkrama bersama. Yeon Jae tak yakin dengan sisa umurnya yang tinggal beberapa bulan bisa mempunyai anak. Ponselnya berdering. Pihak rumah sakit di Korea menghubunginya. Mereka menginginkan Yeon Jae segera mendapatkan terapi kanker. Yeon Jae langsung menutup teleponnya.

Yeon Jae menyusuri jalan hingga ke tepian pantai. Indahnya sunset tak membuat hati Yeon Jae membaik. Disana Yeon Jae melihat sepasang bule tengah menari Tango. Mata Yeon Jae berkaca-kaca. Pria bule itu mendekati Yeon Jae dan mengajaknya berdansa. Yeon Jae mengikuti alunan tubuhnya. Ditengah dansa Yeon Jae tak kuasa menahan tangisnya. Ia menumpahkan semua air matanya di pelukan pria bule itu.
"Aku tak tahu masalahmu, tapi jangan terlalu khawatir," hibur pria bule itu.
"Aku ingin hidup. Aku ingin bertemu dengan seseorang dan jatuh cinta padanya. Aku ingin hidup lama dengannya, hidup sangat lama. Aku ingin sepertimu, hidup sampai tua dan beruban. Aku ingin terus hidup. Jika ibuku mati, aku ingin berada disisinya. Menikah, mempunyai anak sampai anakku menikah. Sampai moment itu aku ingin terus hidup," ucap Yeon Jae terisak.


Ji Wook makan malam dengan So Kyeong. So Kyeong masih saja membahas 'kencan' antara Ji Wook dan Yeon Jae. Secara halus So Kyeong mengancam akan memberitahu ayahnya. Ji Wook tak mendengarkan ucapan So Kyeong. Dia malah melamun.
"Aku tak mengharapkan kemunculanmu yang tiba-tiba," ucap Ji Wook dingin.
"Itu terdengar sangat tidak nyaman," sahut So Kyeong kesal.
"Aku tentu tak ingin kesini. Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Ji Wook.
"Aku tak ingin makan dengan mood seperti ini, aku akan tersedak," sahut So Kyeong marah. Lalu ia berdiri dan melangkah pergi. Ji Wook tak menyusulnya.


Pagi hari Yeon Jae memutuskan kembali ke Korea. Yeon Jae meninggalkan kalungnya yang dimenangkannya saat pertandingan minum bir. Petugas hotel menemukan kalungnya dan menyerahkannya pada Ji Wook. Petugas itu tahu jika Ji Wook dan Yeon Jae saling mengenal. Mungkin Ji Wook bisa mengembalikan kalung itu pada Yeon Jae jika kembali ke Korea. Sayangnya Ji Wook menolak. Setelah petugas itu berlalu, Ji Wook berpikir ulang. Akhirnya ia mau membawa kalung Yeon Jae.


Sesampainya di rumah, suasana hati Yeon Jae bertambah buruk. Rumahnya sudah seperti kapal pecah. Piring-piring kotor menggunung di dapur dan sepertinya selama Yeon Jae pergi ibunya tak pernah membuang sampah. Yeon Jae menahan diri untuk tak marah. Ia mulai membereskan dapur dan mencuci piring. Tak lama ibunya pulang. Tanpa rasa bersalah ibu Yeon Jae langsung menggeledah isi koper putrinya mencari oleh-oleh. Yeon Jae sudah tak bisa menahan kesabarannya. Ia marah-marah. Ibu Yeon Jae hanya bengong melihat sikap putrinya.


Ji Wook juga telah kembali ke Korea. Saat meeting berlangsung Ji Wook terlihat kurang berminat.  Ia sama sekali tak mendengarkan presentase Sang Woo. Direktur Kim kesal melihat sikap Ji Wook. Ia meminta Ji Wook memberikan tanggapan mengenai percobaan tour package-nya ke Jepang.
"Aku hanya ingin bermain," ucap Ji Wook.
Peserta meeting tentu saja terperanjat mendengar ucapan Ji Wook yang asal.
"Jika kau ingin mengembangkan produk wisata yang layak, itu tak akan bermakna tanpa kau mengalaminya sendiri. Yang aku dengar seperti itu. Mengalaminya dan juga melakukannya," tambah Ji Wook.
Presdir Kang tertawa mendengar penjelasan putranya. Direktur Kim terlihat keki.

Ji Wook kembali ke ruang kerjanya. Ji Wook teringat kalung Yeon Jae yang dititipkan padanya. Ji Wook mencari tahu nomor ponsel Yeon Jae dari data resume karyawan.


Pagi-pagi Yeon  Jae cukup terkejut saat mendapat telepon dari Ji Wook. Ji Wook mengajak Yeon Jae bertemu.

Yeon Jae melangkahkan kakinya menemui Ji Wook di sebuah kafe. Ji Wook mengembalikan kalung miliknya. Ji Wook mengomentari penampilan Yeon Jae yang sederhana. Sangat berbeda dengan Yeon Jae yang ditemuinya di Jepang.
"Ya, sebenarnya inilah aku yang sebenarnya. Staff rendahan dengan upah yang menyedihkan. Tak mungkin membeli pakaian bermerek."
"Tapi waktu itu mengapa kau memakai pakaian mahal? Kau juga tinggal di resort eksklusif," potong Ji Wook.
"Waktu itu...karena ada beberapa alasan," jawab Yeon Jae.
"Kau salah jika aku akan menyukai tipe wanita seperti itu? Perkiraanmu sangat keliru," tuding Ji Wook.
Yeon Jae diam saja.

Tudingan Ji Wook makin kejam.
"Bagaimana kau tahu aku akan menginap disana? Kau ingin merayuku, kan? Bahkan dengan Yakuza. Lalu ketika dengan Wilson, kau yang menjawab teleponku, kan? Aku tak tahu kau orang seperti ini. Karena Wilson orang yang sangat pemilih, aku bahkan khawatir kau sanggup berurusan dengannya atau tidak. Dan mengenai cincin yang hilang, bagaimana dengan itu? Bahkan jika itu hanya sebuah alasan, seharusnya kau jelaskan pada dirimu sendiri." 
Mata Yeon Jae berkaca-kaca.
"Apa kau pikir menangis akan menyelesaikan semuanya? Itu tak akan berguna!" seru Ji Wook tanpa perasaan.
Yeon Jae mulai membela diri.
"Apa yang ingin kau dengar? Apa yang ingin kau pastikan? Jika aku berkata aku tak seperti itu, dapatkah kau mempercayaiku? Kebenarannya adalah kau tak percaya padaku. Dalam pandangan generasi kedua keluarga Chaebol, aku hanya pencuri miskin yang mencuri cincin orang lain. Aku tak akan bertindak sejauh itu mencuri barang milik orang lain untuk hidup. Meskipun aku tak tahu berapa harga cincin itu, tetapi siapa yang berani mencuri cincin dari klien? Semua orang tahu jika kau tertangkap, kau akan dipecat. Siapa yang akan pernah melakukan itu? Aku ingin bekerja yang lama untuk Line Tour? Meskipun disana banyak hal-hal yang berarti dan kejam, tetapi sejujurnya pekerjaan itu sangat penting untukku. Dan juga saat Kepala Direktur bertemu denganku di Jepang, seharusnya kau berbicara dengan management disana dan menyelidikinya lebih lanjut. Aku juga sulit percaya ada kebetulan seperti itu."
Setelah menumpahkan semuanya, Yeon Jae pergi. Ji Wook mematung. 

Di luar tiba-tiba Yeon Jae merasakan sakit di perutnya. Wajahnya langsung pucat. Yeon Jae bertumpu pada sebuah pohon. Penyakit kanker di tubuhnya mulai bereaksi.

Ji Wook juga keluar. Ia melihat Yeon Jae yang tengah kesakitan. Ji Wook segera mendekat.
"Ada apa? Apa kau sakit?" tanya Ji Wook khawatir.
"Tak apa-apa. Kau tak perlu repot-repot," sahut Yeon Jae.
Yeon Jae berusaha bangkit, tapi tubuhnya tak mau berkompromi. Yeon Jae ambruk.

Ji Wook melarikan Yeon Jae ke rumah sakit. Yeon Jae banjir keringat dan wajahnya semakin pucat. Dengan menahan sakit Yeon Jae meminta Ji Wook membawanya ke rumah sakit dimana Eun Suk bekerja.


Akibat insiden kematian Kim Yoo Soon, reputasi Eun Suk memburuk dimata dokter lain maupun pasien. Eun Suk mendapat panggilan jika Yeon Jae masuk rumah sakit. Ia segera mendatangi Yeon Jae yang terbaring dengan kesakitan.
"Sejak kapan ini terjadi?" tanya Eun Suk mulai memeriksa keadaan Yeon Jae.
"Dua puluh menit." Ji Wook menyahut di sampingnya.
Eun Suk menoleh. "Apa kau walinya?"
"Bukan. Aku tak punya hubungan dengan orang itu sama sekali. Cepat pergilah!" usir Yeon Jae.
Yeon Jae tak mau Ji Wook mengetahui riwayat penyakitnya. Ji Wook pergi dengan kesal. Diluar ia menggerutu dengan sikap Yeon Jae.

Setelah Ji Wook pergi, Eun Suk memarahi Yeon Jae karena tak mengindahkan ucapannya untuk menjalankan pengobatan anti kanker. Sudah berulang kali Eun Suk mencoba menghubungi Yeon Jae.
"Eun Suk-ah, aku takut. Aku tak ingin mati seperti ini," ratap Yeon Jae.
"Sudah kukatakan, aku memberimu waktu 6 bulan. Sebelum itu aku tak akan membiarkanmu mati," tandas Eun Suk.


Yeon Jae mulai menjalani tes darah dan CT scan. Awalnya para dokter mengidentifikasi kanker Yeon Jae sebagai kanker kantung empedu, namun setelah pemeriksaan lebih lanjut ternyata Yeon Jae mengidap kanker pankreas. Parahnya kanker itu telah menjalar ke organ inti. Eun Suk mengambil hasil tes darah Yeon Jae. Sepertinya Eun Suk menemukan sesuatu setelah membaca hasil laporannya.


Eun Suk pergi ke kamar Yeon Jae. Yeon Jae sekamar dengan Hee Joo, gadis yang menyukai Eun Suk. Eun Suk tak bicara. Ia hanya menatap Yeon Jae tanpa ekspresi. Yeon Jae kebingungan.
"Apa ini serius?"
"Berapa lama kau sembelit?" tanya Eun Suk.
"Apa? Kira-kira 3 atau 4 hari," jawab Yeon Jae semakin bingung karena pertanyaan Eun Suk sama sekali tak ada hubungannya dengan penyakitnya.
"Sakit perutmu....karena penuh dengan tinja. Itu alasan mengapa kau kesakitan."
Hee Joo langsung tertawa keras. Yeon Jae melongo tak percaya dengan penjelasan Eun Suk. Sambil menahan malu Yeon Jae berkata perutnya benar-benar sakit sampai ingin mati rasanya.
"Pergilah ke toilet, setelah itu kau akan baik-baik saja," perintah Eun Suk.
Pergilah Yeon Jae membuang semua penyebab kesakitannya (hahaha...lucu bgt liat ekspresi Yeon Jae lagi poop).

Keluar dari toilet Hee Joo masih menertawakan Yeon Jae.
"Jangan katakan kau memanggil Dokter Choi Eun Suk karena masalah isi perut? Tahukah kau tadi itu sangat lucu? Wajahmu sangat serius."
"Jangan menertawakanku terus. Itu sangat memalukan," sungut Yeon Jae.
"Aigoo, setidaknya lebih baik malu daripada mati," celetuk Hee Joo.
"Baiklah kau benar." Yeon Jae mengalah.

Yeon Jae menarik tiang infusnya ke tempat tidur. Hee Joo tengah sibuk merias diri. Yeon Jae berkomentar gadis muda tak seharusnya memakai make-up tebal. Yeon Jae menyarankan Hee Joo memakai pelembab.
"Aku 34 tahun. Tapi tak seorangpun dapat menebak usiaku yang sebenarnya. Kau tahu kenapa? Kulitku....Lihatlah!" Yeon Jae memamerkan kehalusan kulit wajahnya. Yeon Jae berkata orang yang selalu memakai make-up bahkan dalam 10 tahun akan terlihat semakin tua.
"Aku tak akan hidup lama. Unnie, kau senang bisa keluar dari rumah sakit. Indeks liver-ku naik. Jadi aku harus tinggal di rumah sakit," sahut Hee Joo.
Yeon Jae langsung terdiam. Ia merasa prihatin. Nasib gadis itu tak jauh berbeda darinya.
"Jika aku meninggalkan rumah sakit, aku harus melakukan 2 hal. Aku akan makan ddeokbuki di pinggir jalan dan menemukan seorang pria untuk tidur denganku."
Yeon Jae menjitak kepala Hee Joo "Gadis muda ini..."
"Aku bukan gadis muda. Umurku sudah 21 tahun," ucap Hee Joo bangga.


Yeon Jae mulai menerima penyakit kanker yang menyerang tubuhnya. Setidaknya hari ini ia tak jadi mati. Hari itu juga Yeon Jae diperbolehkan keluar dari rumah sakit. Di luar Yeon Jae berpapasan dengan Eun Suk. Yeon Jae terlihat malu. Eun Suk menyarankan Yeon Jae segera melakukan terapi kanker. Ia meminta Yeon Jae datang minggu depan. Sebelum pergi Yeon Jae mengucapkan terimakasih pada Eun Suk.


Yeon Jae bertemu anak kecil di dalam bus. Anak itu memberinya sebungkus permen. Ibu dari anak itu memberitahu Yeon Jae jika anaknya hanya memberi permen pada gadis cantik. Yeon Jae tersenyum.


Setelah itu Yeon Jae berkunjung ke tempat kerja ibunya. Ibu Yeon Jae sedang melayani seorang customer pria. Yeon Jae meledek ibunya yang sepertinya terpikat pada pria itu. Ibunya merasa malu karena pria itu usianya jauh di bawahnya. Yeon Jae mengajak ibunya ke salon kecantikan. Disana ia memanjakan ibunya dengan perawatan tubuh.


So Kyeong tengah menyiapkan serangan untuk Yeon Jae. So Kyeong berniat menggugat Yeon Jae ke pengadilan atas tuduhan kerugian akibat konser Andy Wilson yang dibatalkan. Tak tanggung-tanggung So Kyeong meminta ganti rugi sebesar 10 milyar won. Jika Yeon Jae menempuh jalan mendiasi pun, Yeon Jae tetap harus membayar kompensasi sebesar 300 juta won. So Kyeong tersenyum licik.


Ji Wook masih saja memikirkan Yeon Jae. Ia penasaran mengapa Yeon Jae tiba-tiba sakit. Sadar jika hal itu bukan urusannya, Ji Wook buru-buru menghilangkan kegundahannya.

Ji Wook pergi ke ruangan para staff-nya. Manager Noh tengah memarahi anak buahnya. Ia stress harus mengurusi acara pembukaan Rute Wisata baru yang berbarengan dengan peak season (di Korea peak season berlangsung pada bulan Juli-Agustus, biasanya menjelang Natal dan Tahun Baru. Pada bulan itu banyak turis yang berkunjung ke Korea). Menghadapi peak season tentu saja Line Tour cukup sibuk. Ji Wook mendengarkan semua keluhan Manager Noh dari belakang. Manager Noh ketakutan saat tahu Ji Wook mendengarkan semua celotehannya. Ji Wook tak marah. Ia malah berniat mentraktir semua staff-nya.

Ji Wook dan para staff berjalan beriringan menuju lift. So Kyeong menelepon Ji Wook mengajak makan malam bersama ayahnya. Ji Wook menolak dan lebih memilih pergi bersama staff-nya. So Kyeong keki.

Ji Wook dan para staff minum-minum bersama. Mereka membicarakan kesulitan para staff mengurus acara pembukaan Rute Wisata baru disaat-saat sibuk. Na Ri mendapat telepon. Ia mendapat kabar bahwa Sohn Byung Ho tak bersedia datang dalam acara pembukaan itu. Sohn Byung Ho merupakan property speculator. Mereka memerlukan kerjasama dari Sohn Byung Ho untuk mengembangkan tempat-tempat wisata baru. Mereka tak punya waktu tersisa jika harus membujuk Sohn Byung Ho, karena kakek itu termasuk orang yang sulit dirayu. Kepala Bagian Yoon mengusulkan untuk menghubungi Yeon Jae. Yeon Jae sudah mengenal baik Sohn Byung Ho. Yeon Jae juga sebelumnya bergabung dalam tim mereka. Melihat wajah-wajah tak setuju, Kepala Bagian Yoon langsung terdiam. Manager Noh jelas tak mau repot-repot melibatkan Yeon Jae lagi.
"Orang seperti apa Lee Yeon Jae?" tanya Ji Wook penasaran.
"Jangan menyebut dia lagi. Hanya dengan membicarakannya saja membuat aku ingin menggertakkan gigi. Dia tak punya kemampuan apa-apa untuk mengurus masalah ini. Dia juga tak tahu berterimakasih. Sepanjang hidupku baru pertama kalinya aku ditusuk dari belakang oleh orang lain," seru Manager Noh dengan penuh dendam.
Hye Won merasa risih mendengar ucapan Manager Noh. Ji Wook diam tanpa komentar.


Ibu Yeon Jae terlihat bahagia setelah Yeon Jae mengajaknya bersenang-senang. Mereka kembali ke rumah sambil mengobrol. Kakek pemilik rumah baru saja membawa seekor anjing. Kakek marah-marah karena Yeon Jae dan ibunya dianggap berisik. 

Yeon Jae tidur di kamar ibunya. Ia berjanji untuk meluangkan waktu bersama ibunya seperti tadi. Ibu Yeon Jae tersenyum senang. 

Setelah ibunya tertidur, Yeon Jae kembali ke kamarnya. Yeon Jae baru sadar telah menghabiskan banyak uang untuk liburannya ke Jepang. Namun Yeon Jae tak menyesalinya. Yeon Jae membuat 20 daftar keingingan terakhir sebelum dirinya mati.
1.  Membuat ibu tertawa setidaknya satu hari.
2.  Balas dendam pada orang yang telah menyengsarakanku.
3.  Belajar tarian Tango
4.  Tidak menahan apa yang aku ingin, makan dan pakai.
5.  Mencoba gaun pengantin.
6-18. -----
19.  Melakukan semua hal dengan orang yang kucintai.
20.  Finally, menutup mataku dalam pelukan orang yang kucintai.


Siap2 deg-degan dengan scene ini...
Ji Wook tengah mandi. Tiba-tiba saja dia mendengar suara Yeon Jae 'Bisayiro Makka....Bisayiro Makka.' Ji Wook bingung. Ia teringat kebersamaannya dengan Yeon Jae ketika hujan-hujanan di Jepang. Waktu itu Ji Wook bertanya pada Yeon Jae bahasa Jepangnya orang kurus. Yeon Jae menjawab Bisayiro Makka.


Keinginan nomor 4, tak menahan apa yang diinginkan, makan dan pakai. Untuk melaksanakan keinginannya itu, Yeon Jae pergi ke salon untuk memangkas rambutnya. Yeon Jae terlihat fresh dengan potongan rambut barunya yang diatas bahu.

Setelah itu Yeon Jae membeli ponsel baru. Hal pertama yang dilakukan dengan ponsel barunya adalah menghapus nomor telepon Ji Wook. Yeon Jae mendapat telepon dari Hye Won. Yeon Jae diminta datang ke Line Tour.


Line Tour tengah dipusingkan oleh Sohn Byung Ho. Manager Noh terpaksa memanggil Yeon Jae. Mereka berharap Yeon Jae dapat membujuk Sohn Byung Ho. Setelah dihubungi, Yeon Jae langsung datang.
"Mengapa harus aku yang pergi?" protes Yeon Jae setelah tahu permintaan Manager Noh.
"Sejak dimulainya musim semi, kita bersama-sama menyiapkan Rute Wisata baru. Mengapa kau berpura-pura tak tahu?" ucap Manager Noh ketus.
"Aku sudah mengundurkan diri," sahut Yeon Jae.
"Apa kau tak tahu sekarang perusahaan sedang mengalami kesulitan. Oleh karena itu, tak bisakah kau berbaik hati?"
"Berbaik hati?" seru Yeon Jae.
"Kau bekerja disini bukan untuk sebulan atau setahun. Tapi sudah 10 tahun. Kau mengandalkan perusahaan ini untuk makan. Apa itu tak cukup dibenarkan untuk membantu?"
"Aku tak akan melakukannya," tegas Yeon Jae.


Seluruh staff terkejut dengan penolakan Yeon Jae. Yeon Jae dulu orang yang gampang dimintai tolong, bahkan disuruh-suruh. Yeon Jae langsung berpamitan. Manager Noh menahan Yeon Jae. Dia menawarkan bayaran. 
"Berapa banyak kau bersedia membayarku?" tantang Yeon Jae.
"Berapa banyak yang kau butuhkan? 100 ribu won atau 200 ribu won?"
Yeon Jae kembali menolak. Manager Noh menambahkan bayaran 300 ribu won.
"Bahkan jika 1 juta won, aku tak mau. Kau harus berlutut dan meminta maaf padaku. Mungkin akan kupertimbangkan."
"Mengapa aku harus melakukan itu?" seru Manager Noh marah.
Yeon Jae lebih marah. Manager Noh ingin meminta bantuannya, namun masih saja bersikap kasar padanya.  Yeon Jae merasa hanya membuang-buang waktu jika menuruti perintahnya. Yeon Jae berkata jika dirinya sibuk.
Yeon Jae melangkah pergi. Ia berpapasan dengan Ji Wook. Ji Wook mendengar semua percakapan disana. Ia mengkikuti langkah Yeon Jae menuju lift.
"Apa kau tipe orang yang menyukai uang? Baiklah, aku akan memberimu 1 juta won." Ji Wook menyanggupi.
"Sepertinya kau tak memahami kata-kataku. Bukankah sudah kukatakan bahwa aku sibuk," sahut Yeon Jae.
"Dan kau punya waktu pergi ke salon dan memotong rambutmu?" sindir Ji Wook.
"Ada yang salah? Apa aku tak boleh pergi ke salon memotong rambutku? Untukku ini sangat penting," seru Yeon Jae marah.
Yeon Jae masuk ke dalam lift. Menatap Ji Wook di depannya dan berkata sebelum pintu lift tertutup "Sudah jelas kukatakan bahwa sebuah permohonan maaf lebih penting dibandingkan uang. Sepertinya orang sepertimu tak bisa mengerti."
Ji Wook mematung.

Ji Wook meminta pertanggungjawaban dari Manager Noh. Kemarin baru saja Manager Noh menjelek-jelekkan Yeon Jae yang dibilangnya tak berguna dan tak mempunyai kemampuan. Sekarang kenyataannya Ji Wook tahu tak ada staff lain yang dapat meng-handdle pekerjaan Yeon Jae. Ji Wook mengambil alih semua pekerjaan itu.

Ji Wook mempelajari berkas-berkas yang disodorkan staff-nya. Ji Wook melihat-lihat brosur tempat wisata yang akan dibuka. Salah satu gambar disana membuat Ji Wook tertarik. Sebuah bukit dengan pohon besar.


Ji Wook makan malam dengan Ayahnya, So Kyeong dan calon mertuanya. So Kyeong mengatakan niatnya menggugat Yeon Jae ke pengadilan. Jelas Ji Wook tak menyukai rencana So Kyeong.

Mengantar So Kyeong ke butik, Ji Wook menyampaikan keberatannya. Ia tak suka dengan cara So Kyeong. Dengan jengkel, Ji Wook meninggalkan So Kyeong. 


Yeon Jae melaksanakan keinginannya yang ketiga. Belajar tarian Tango. Yeon Jae mencari tempat kursus Tango. Dia masuk ke dalam sebuah studio. Disana tampak dua orang pria dan wanita tengah mempertunjukkan tarian tango. Yeon Jae terlihat kagum.

Kening Yeon Jae berkerut karena sepertinya ia mengenali pria itu. Tanpa terduga pria yang disebut Ramses itu adalah Kepala Bagian Yoon. Hanya saja dia memakai wig. Kepala Bagian Yoon kabur begitu melihat Yeon Jae. 

Yeon Jae mengejar Kepala Bagian Yoon. Kepala Bagian Yoon meminta Yeon Jae menyembunyikan identitasnya baik di tempat kerja maupun di studio Tango. Yeon Jae mengerti. Kepala Bagian Yoon dikenal dengan nickname Ramses. Disana ia merupakan pengajar Tango.


Ji Wook mulai mencari informasi mengenai gugatan yang dilayangkan So Kyeong pada Yeon Jae. Ia bertanya pada Sang Woo. Nilai gugatan So Kyeong sebesar 300 juta won. Ji Wook terlihat stress. Tapi lagi-lagi Ji Wook sadar jika itu bukan urusannya.


Ji Wook mendatangi bukit yang sedang dikembangkan untuk menjadi tempat wisata baru. Tepat ditengah bukit itu ada sebuah pohon besar. Ingatan Ji Wook berputar ke masa kecilnya. Ji Wook dan ibunya menanam benda di dalam tanah. Mereka berjanji akan membukanya setelah Ji Wook berusia 20 tahun. Ji Wook berjalan mendekat. Tiba-tiba pohon besar itu menghilang. Ternyata pohon itu hanya ada dalam bayangan Ji Wook saja. Disana hanya ada sebuah hamparan bukit kosong. 

Sohn Byung Ho tinggal di dekat bukit itu. Ji Wook pergi mencarinya untuk meminta persetujuan darinya.
"Sudah kukatakan dengan jelas. Jika kau menginginkan apapun dariku, hanya kirimkan saja rambut keriting kesini," seru Sohn Byung Ho begitu melihat kedatangan Ji Wook.
"Rambut keriting? Apa yang kau maksud Lee Young Jae?"
"Aku sudah mengatakan hal yang sama berulang kali. Aku tak ingin mengatakan apapun denganmu. Pergilah!" usir Sohn Byung Ho.
"Kakek, kenapa harus Lee Young Jae?" tanya Ji Wook tak mengerti.


Manager Noh mengajak Yeon Jae bertemu di Kafe. Manager Noh setuju memberi Yeon Jae bayaran 1 juta won. Yeon Jae menolak, karena yang diinginkan hanyalah permintaan maaf. Yeon Jae ingat daftar keinginan nya nomor ke-2. Yeon Jae ingin Manager Noh meminta maaf untuk semua pelecehan dan kekerasan yang diterimanya selama bekerja di Line Tour.
Yeon Jae dibawa ke kantor. Manager Noh mulai melakukan permintaan maaf seperti keinginan Yeon Jae di depan semua staff. Manager Noh terlihat ragu-ragu lalu dengan terpaksa berdiri di tengah ruangan. Manager Noh mempersembahkan sebuah tarian dengan menjewer kedua kupingnya dan menggoyang-goyangkan bokongnya. Goyangannya membentuk sebuah tulisan Lee Yeon Jae-sshi. Semua staff termasuk Yeon Jae menahan tawa. 

Ji Wook keburu datang sebelum hukuman untuk Manager Noh selesai. Ji Wook menatap tajam ke arah Yeon Jae. Ji Wook memberitahu bahwa dirinya baru saja menemui Sohn Byung Ho. Manager Noh langsung menyudahi hukumannya. Ia merasa masalah mereka dengan Sohn Byung Ho telah selesai.
"Lee Yeon Jae keluarlah!" perintahnya lantang.
"Manager Noh," protes Yeon Jae.
"Kau tak mendengarku. Aku bilang keluarlah! Kau sudah resign, mengapa kau kembali?" seru Manager Noh lagi.
"Apa ada sesuatu diantara kalian berdua?" tanya Ji Wook.
"Ini tentang masalah Sohn Byung Ho. Dia memintaku melakukan tarian spesial, setelah itu dia mau menyelesaikan masalah kita. Aku benar-benar tak punya energi untuk melakukan ini," adu Manager Noh.
"Benarkah? Tapi apa yang harus kita lakukan? Permintaan bodoh yang Lee Yeon Jae buat, sepertinya kau harus melakukannya?" ucap Ji Wook pada Manager Noh.

Manager Noh syok. Ia pikir dirinya sudah terbebas dari hukuman karena Ji Wook secara pribadi telah menemui Sohn Byung Ho. 
"Aku?" tanyanya tak percaya.
"Ya, kau harus melakukannya," jawab Ji Wook.
Yeon Jae menatap Ji Wook. Ia juga tak percaya Ji Wook membelanya.

Kamis, 01 September 2011

Sinopsis Romance Town Episode 9

'Shi Ah' datang menjenguk Gun Woo yang terbaring di rumah sakit. Ia mengakui semua perasaannya pada Gun Woo, baik sebagai Soon Geum maupun Shi Ah. 

Gun Woo meminta bantuan Soon Geum membuka perban dikepalanya. Soon Geum mendekat. Mereka duduk berhadapan.
"Sekarang kau boleh menutup matamu," ucap Gun Woo.
"Sungguh? Mungkin aku akan membayangkan sesuatu yang aneh. Aku akan..."
Ucapan Soon Geum terpotong saat Gun Woo mendekati wajahnya. Perlahan Gun Woo mengecup bibir Soon Geum.


Sementara itu Young Hee tengah berjalan menuju kamar Gun Woo. Ia baru saja membeli dua bungkus snack yang diminta Gun Woo. Young Hee membuka pintu kamar. Di dalam Gun Woo masih 'berkutat' dengan Soon Geum. Insting Young Hee menuntunnya untuk menutup pintu kembali. Ia tak mau mengganggu pekerjaan penting yang sedang dikerjakan Gun Woo. Di luar ia senyum-senyum sendiri. Young Hee tak mengenali Soon Geum karena posisi tubuh Soon Geum membelakangi pintu.

Seorang suster datang. Suster itu hendak memeriksa Gun Woo. Young Hee melarang suster itu masuk. Sebagai sogokan Young Hee memberinya sebungkus snack yang dibawanya.


Kembali ke dalam. Gun Woo dan Soon Geum terlihat salah tingkah. Soon Geum menawarkan air minum. Saat Soon Geum hendak bangun, Gun Woo menahannya.
"Tidak...aku tidak ingin minum. Lakukan saja pekerjaan yang biasa kau kerjakan. Tinggallah disisiku." Gun Woo menahan tangan Soon Geum. Soon Geum tersipu malu. Ia meminta Gun Woo berhenti menatapnya.

Gun Woo meminta Soon Geum kembali menjadi Patung Liberty. Soon Geum menuruti keinginannya. Gun Woo bangun. Ia mengambil tabung infus dan memberikannya ke tangan Soon Geum yang teracung.
"Sekarang, aku mulai menyukai kalian berdua. Oleh karena itu, aku mendeklarasi bahwa aku memacari kalian berdua. Pembantuku dan Patung Liberty ini," ucap Gun Woo.
Soon Geum tersenyum. Gun Woo meminta Soon Geum tak menyembunyikan apapun darinya. Ia tak mau Soon Geum berbohong lagi padanya. Soon Geum tersenyum.


Young Hee menunggu sambil tiduran di bangku tunggu. Soon Geum keluar dari kamar Gun Woo. Young Hee bangun lalu memandangi Soon Geum yang berdiri di depan lift. Soon Geum panik melihat Young Hee yang tengah menatapnya. Ia takut Young Hee mengenalinya. Tapi berkat penampilan 'Shi Ah' Young Hee tak mengenali Soon Geum. Ia mengira Soon Geum adalah wanita yang sering dibicarakan Gun Woo. Young Hee memuji kecantikan Soon Geum.

Young Hee masuk ke kamar Gun Woo.
"Aku melihatnya. Wanita yang kau ceritakan itu. Dia sangat cantik, Gun Woo!" ucap Young Hee sambil menepuk bahu Gun Woo.
Gun Woo bengong. "Cantik?"
"Dia lebih cantik dibandingkan semua wanita di 1st Street. Dimana sebenarnya kau bertemu dengannya?" tanya Young Hee penasaran. "Namanya Yoon Shi Ah. Shi Ah...."

Young Hee benar-benar dibuat penasaran dengan sosok Shi Ah. Dia memberondong Gun Woo dengan banyak pertanyaan.
Gun Woo menatap Young Hee lalu menjawab dalam hati "Nenek dan Ibunya, keduanya adalah pembantu. Dia berasal dari keluarga pembantu. Dan sekarang dia adalah pembantuku. Kami bertemu di rumahku. Dia tinggal di rumahku. Namanya Noh Soon Geum. Seorang wanita yang tanpa uang. Sekarang puas, Hyung!"
Gun Woo tertawa. 


Soon Geum senyum-senyum sendiri di dalam bus. Hatinya tengah berbunga-bunga. Di dalam bus hanya ada Soon Geum yang menjadi penumpang. Ia duduk di bangku paling belakang. Soon Geum merasa sedang naik sebuah taksi yang besar. Saking gembiranya Soon Geum sampai teriak-teriak pada supir bus.
"Ahjussi, antarkan aku ke 1st Street, Cheongdam-dong No. 17. Setelah persimpangan, ada rumah besar disana. Tolong ke rumah Kang Gun Woo!"
Supir taksi geleng-gelang kepala. Ia bertanya pasti Soon Geum sedang bahagia.
"Aku merasa lebih bahagia dibandingkan memenangkan hadiah lotre pertama," seru Soon Geum.


Soon Geum mengirim SMS pada Gun Woo. Young Hee ingin tahu. Gun Woo bertanya pada Soon Geum apakah mereka perlu mempublikasikan hubungan mereka pada Young Hee. Soon Geum melarangnya. Soon Geum merasa waktunya belum tepat. 


Soon Geum bertemu dengan Young Hee di jalan. Young Hee memaksa Soon Geum masuk ke dalam mobil dan mengajaknya makan malam bersamanya. Young Hee membawa Soon Geum ke sebuah hotel. Disana dipajang lukisan karya kakek Young Hee. Young Hee memamerkannya pada Soon Geum. Soon Geum kagum melihat lukisan kakek Young Hee yang berukuran besar. Young Hee salah sangka. Ia mengira Soon Geum juga menyukainya. Soon Geum buru-buru bilang bahwa sudah ada pria yang disukainya. Ia berpamitan pulang.

Young Hee tak percaya begitu saja ucapan Soon Geum. Ia menginterogasi tentang pria yang disukai Soon Geum.
"Apa yang dikerjakan pria ini untuk hidupnya?" tanyanya.
"Dia menghasilkan uang," jawab Soon Geum.
"Apa sebanyak aku?"
"Dia tak menghasilkan uang sebanyak yang kau. Tapi jika ini alasanku menyukai seseorang sepertimu, apakah kau akan senang?" tanya Soon Geum mulai kesal.
Young Hee menggeleng. Tentu saja dia tidak senang. Soon Geum memutar tubuhnya hendak pulang. Young Hee menahannya. Ia meminta maaf.
"Aku merasa wanita yang bisa mengatakan tidak adalah wanita yang mempesona. Aku minta maaf. Awalnya aku pikir kau wanita yang mudah menerima umpan. Aku pikir jika aku mengulurkan tanganku, kau akan segera menangkapku. Dan kau tak akan pernah mengatakan tidak atau aku tak menyukaimu. Aku terlalu percaya diri."
Soon Geum minta diantarkan pulang. Ia kembali menegaskan sudah menolak Young Hee. Young Hee tertawa.
"Ini sungguh membingungkan. Wanita yang sudah menolakku, tapi masih menginginkan tumpangan dariku. Kau yang pertama kali. Kau benar-benar langka."
Soon Geum berbalik. Ia menatap Young Hee jengkel. Soon Geum mengaku lebih bingung dengan sikap Young Hee yang tiba-tiba mengajaknya ke hotel dan mentraktirnya makanan mahal serta mengenalkannya pada kakeknya. Padahal Soon Geum merasa belum terlalu mengenal Young Hee. Soon Geum menganggap Young Hee sebagai majikan dari teman pembantunya. Ia meminta sebaiknya mereka melupakan hal ini dan berpura-pura tak pernah terjadi.


Gun Woo mendapat telepon dari nenek. Saking terkejutnya Gun Woo sampai terjatuh dari ranjang. Hal pertama yang ditanyakan Gun Woo adalah kenapa nenek meninggalkannya lagi. Nenek berkata jika ia tak ingin menjadi pembantu lagi. Tubuhnya sudah tua. Nenek hanya ingin menikmati hidupnya.
"Lagipula pembantu yang sekarang, aku menyukainya," ucap nenek.
"Bagaimana bisa kau mengenal pembantu kami yang sekarang?" tanya Gun Woo bingung.
"Bukankah kau datang bersama-sama mencariku?" Nenek senyum-senyum. "Pembantu itu sudah menyukaimu selama 3 tahun. Bukankah kau selalu menerima surat cinta ketika kau di tinggal New York? Dia sungguh mencintaimu sepenuhnya."
"Apa yang kau bicarakan?" Gun Woo tak mengerti maksud nenek. Nenek hanya tersenyum.


Setelah meminta tumpangan, Soo Jung dan Hyun Joo mengajak Tuan Hwang minum-minum di sebuah kedai. Soo Jung mulai mabuk. Ia membuat ulah dengan memaksa menyuapi Tuan Hwang mentimun. Tuan Hwang menolak karena sungkan. Saos ketimun malah mengenai pipinya. Hyun Joo merasa malu dengan ulah temannya. Ia membantu membersihkan pipi Tuan Hwang. 
Tak sampai disitu saja ulah Soo Jung. Ia membeberkan semua rahasia Thu. Ia berkata Thu diam-diam memakai pestisida pada kebun organik Tuan Hwang. Hyun Joo hanya melongo. Diluar dugaan ternyata Tuan Hwang sudah tahu.


Salah satu dari perampok yang menyusup ke rumah keluarga Kang dihajar habis-habisan oleh anak buah Tuan Hwang. Mereka khawatir perbuatan perampok itu merusak nama baik Tuan Hwang. Perampok itu mengaku tak jadi mencuri tiket lotre melainkan Min Guk (a.k.a Geun Bae).


Tuan Hwang dihubungi anak buahnya. Melihat Soo Jung yang semakin mabuk, Tuan Hwang tak menjawab teleponnya. Mereka membawa Soo Jung pulang. Di jalan Soo Jung kembali berulah dengan memuntahi mobil Tuan Hwang.


Gun Woo memberikan semua uang yang diperolehnya dari mengajar San untuk nenek Choon Jak. Gun Woo meminta nenek berjanji agar tak menghilang lagi. Nenek terharu. Mereka saling berpelukan.


Young Hee pulang dan langsung naik ke tempat tidur. Young Hee patah hati. Hanya melihat wajah kusut Young Hee saja Da Kyum tahu bahwa ia baru saja ditolak oleh seorang wanita. Da Kyum berkomentar jika hal itu bagus.


Nyonya Kang menyambut kepulangan Soon Geum. Ia memberitahu Soon Geum jika polisi baru saja datang untuk memeriksa rumah mereka. Soon Geum panik. Ia buru-buru masuk ke kamarnya. Kamar Soon Geum belum dirapikan. Kardus uangnya yang dicuri perampok masih berserakan dilantai. Nyonya Kang ikut masuk ke kamarnya. Soon Geum segera menyembunyikan kardusnya. Nyonya Kang heran para perampok itu tak mengambil barang-barang miliknya malah mereka masuk ke kamar pembantu.
"Apa kau kehilangan sesuatu?" tanya Nyonya Kang.
Soon Geum langsung menggeleng. "Tidak ada."
Nyonya Kang semakin heran karena setelah berkelahi dengan Gun Woo tak ada satupun barang yang dicuri. 

Setelah Nyonya Kang pergi, Soon Geum baru meratapi semua uangnya yang dicuri. Perampok itu hanya menyisakan selembar 50.000 won.
"Mengapa hanya uangku yang dicuri? Aku akan menghancurkan kalian berdua!!" runtuk Soon Geum penuh dendam.



Tengah malam Min Guk datang ke MH. Ia berniat menukarkan tiket lotre yang dicurinya dari rumah keluarga Kang. Tak sabar menunggu hari esok, Min Guk memilih menginap di depan kantor MH. Ia sudah membayangkan menjadi orang kaya dengan menerima uang 14 milyar.


Tuan Kang belum menyadari bahwa tiket yang dimilikinya telah ditukar dengan tiket lotre palsu. Tuan Kang menghubungi Tuan Hwang. Tuan Kang mengajak bertemu di bank. Tuan Kang mencurigai Tuan Hwang yang telah mengirim perampok kemarin malam ke rumahnya.


Tepat jam 9 pagi saat MH dibuka, Min Guk bergegas masuk. Tiba-tiba segerombolan anak buah Tuan Hwang menyergap Min Guk. Tuan Hwang muncul. Tanpa basa-basi Tuan Hwang meminta tiket lotre yang telah dicurinya dikembalikan. Min Guk ketakutan.


Soon Geum dan Young Hee mengantar kepulangan Gun Woo dari rumah sakit. Young Hee menyarankan Soon Geum duduk di depan mengingat kaki Gun Woo yang di gips. Soon Geum agak keberatan. Ia tak ingin memberikan harapan lagi untuk Young Hee. Ia tetap memaksa duduk di kursi belakang. Gun Woo tersenyum senang dengan keputusan Soon Geum. Gun Woo masuk ke dalam mobil. Benar saja. Soon Geum kesulitan duduk ketika Gun Woo meluruskan kakinya.


Young Hee kembali meminta Soon Geum duduk di depan. Soon Geum mengalah. Ia keluar. Berjalan memutari mobil. Young Hee bersiap membukakan pintu. Namun Soon Geum melewatinya dan malah duduk di sebelah Gun Woo.
"Bukankah ini lebih baik?" ucap Soon Geum berhasil mengakali Young Hee. 
Gun Wo tersenyum. Young Hee terlihat keki. 

Sebelum pulang ke rumah Gun Woo mengajak Young Hee dan Soon Geum makan malam diluar. Mereka makan sashimi di restoran mahal yang harga sepotong daging saja 20.000 won. Soon Geum syok.
Gun Woo gelisah. "Kenapa kita harus makan di restoran mewah?"
"Bukankah ini pertama kali buatmu?" tanya Young Hee pada Soon Geum sambil menaruh sepotong daging di piring Soon Geum. "Aku datang kesini karena aku ingin Soon Geum makan daging yang lezat. Sudah dari dulu," sindir Young Hee karena kemarin tak jadi makan malam dengan Soon Geum.
"Dari dulu? Sejak kapan?" Gun Woo tak paham.
"Tiga tahun yang lalu," jawab Young Hee.
"Tapi seperti 3 hari yang lalu." Soon Geum balas menyindir.
Soon Geum dan Young Hee adu mulut. 
"Ada apa dengan kalian berdua?" Gun Woo semakin bingung. Ia mulai cemburu.



Young Hee mengalah. Ia meminta mereka semua makan. Soon Geum mengambil daging yang diberi Young Hee.
"Ini seperti penghapus, sungguh harganya 20.000 won?" komentar Soon Geum tak percaya. Soon Geum makan dan ia kaget karena rasanya sangat lezat.
"Kim Young Hee, sejak aku lahir sampai sekarang, ini adalah pertama kalinya aku makan sesuatu yang sangat lezat," seru Soon Geum.
Young Hee tertawa puas. Gun Woo langsung membisu. Diam-diam ia memeriksa dompetnya. Disana hanya ada beberapa uang logam. Gun Woo sudah memberikan semua uangnya pada nenek Choon Jak. Selera makan Gun Woo mendadak hilang.


Selesai makan, Soon Geum menawarkan diri untuk membayar. Young Hee yang awalnya hendak membayar memasakukan kembali card-nya ke dalam dompet. Gun Woo jelas menolak. Sebagai seorang pacar, tentu saja ia gengsi.
"Aku yang akan mentraktirmu," sahut Gun Woo.
"Kau?" seru Young Hee. Young Hee tahu jika Gun Woo sama sekali tak punya uang. Young Hee kembali mengeluarkan card-nya dan memutuskan dialah yang mentraktir Soon Geum. Gun Woo malu. Ia hanya bisa memejamkan mata. 


Hyun Joo membersihkan bekas muntahan di jok belakang mobil Tuan Hwang. Dari kejauhan Nyonya Kang memperhatikan Hyun Joo dengan pandangan curiga. Nyonya Kang mendekat. Ia sadar jika Hyun Joo yang berpura-pura sebagai ibu kandung San. Ia mengenali suara Hyun Joo.
"Apa yang kau lakukan ibu San?" seru Nyonya Kang.
Hyun Joo syok. "Aku bukan ibu San."
"Kenapa ibu San?" Nyonya Kang tetap yakin.
Hyun Joo tak perlu berpura-pura lagi. Ia menghadap Nyonya Kang.
"Haruskah aku marah atau berterimakasih padamu?" sindir Nyonya Kang.
"Keduanya. Jika Madam ingin menjambak rambutku lagi, aku tak akan mengatakan apa-apa. Jika kau mengatakan 'Teman, maaf aku telah mengabaikanmu. Terima kasih'. Aku tak akan mengatakan apa-apa," tantang Hyun Joo.
"Jadi kau ingin membuat kekacauan, huh?" seru Nyonya Kang.
"Bukankah kau orang yang selalu menyebabkan kekacauan?" sahut Hyun Joo tak mau kalah.
Nyonya Kang meradang. Ia menghina Hyun Joo. Dibandingkan dengan kehidupan Hyun Joo, Nyonya Kang merasa lebih bahagia. Hyun Joo menyindir affair antara Nyonya Kang dengan Tuan Hwang. Nyonya Kang mengamuk. Ia menarik Hyun Joo keluar dari mobil Tuan Hwang. Hyun Joo memberontak. Nyonya Kang semakin bernafsu.

Tuan Hwang datang. Mereka berdua segera membenahi sikap. Hyun Joo menyapa Tuan Hwang dengan senyum ramah.


Tuan Kang menyimpan tiket lotre-nya di bank. Ia merasa rumahnya sudah tak aman lagi. Selain tiket lotre juga ada beberapa batang emas yang ia simpan disana. 


Tuan Hwang sudah mendapatkan kembali tiket lotre yang asli. Tapi ia bingung bagaimana caranya mengembalikannya lagi pada Tuan Kang. Tak mungkin menyerahkan tiket lotre itu begitu saja. Anak buah Tuan Hwang memberi ide untuk mengembalikan tiket itu diam-diam ke meja kerja Tuan Kang dengan bantuan Soon Geum. 


Soon Geum pulang ke rumah ayahnya. Soon Geum bercerita jika ada seseorang yang tengah disukainya. Makanya ia berencana berhenti menjadi pembantu. Soon Geum juga meminta ayahnya berhenti bermain Go Stop. Siapa yang tak akan malu jika tahu ayahnya seorang penjudi.
Ayah Soon Geum menggeledah isi ponsel anaknya. Semua panggilan telepon berasal dari chesnut panggang. Tanpa bertanya dulu ayah Soon Geum menelepon si chesnut panggang.


Soon Geum menyeduh 2 gelas kopi. Di dalam sudah ada Gun Woo.
"Mengapa kau sangat tinggi?" komentar ayah Soon Geum saat melihat Gun Woo.
"Itu karena rumah kita terlalu kecil, ayah," seru Soon Geum.
Ayah Soon Geum menatap Gun Woo lama. Ia baru ingat jika Gun Woo adalah majikan Soon Geum dan tentu saja mereka tinggal bersama. Ayah Soon Geum mengajak Gun Woo bermain Go Stop. Gun Woo yang tak mempunyai uang hanya bertaruh 100 won. Ayah Soon Geum kurang menyukai calon menantunya. Ia risih saat Gun Woo memanggilnya ayah.
Gun Woo kalah banyak. Ayah Soon Geum meminta Gun Woo membayar semua kekalahannya. Namun Gun Woo hanya menyerahkan beberapa koin yang tersisa di dompetnya. Ayah Soon Geum tak percaya pria pilihan putrinya berdompet kosong.

Merasa malu, Gun Woo berpaminta ke toilet. 
"Aku tak menyukainya," seru ayah Soon Geum setelah Gun Woo keluar.
Ayah Soon Geum mencela selera buruk Soon Geum dalam memilih pasangan. Soon Gum marah. Ia tak peduli jika ayahnya tak setuju dengan pilihannya.
"Aku hanya menyukai ibu," seru Soon Geum kesal lalu keluar mencari Gun Woo.

Gun Woo termenung sambil menatap langit. Soon Geum meminta maaf atas perlakuan ayahnya yang kurang menyenangkan. Padahal ini kunjungan pertama Gun Woo ke rumahnya.
"Apa kau menyesal menyukaiku? Karena ayahku? Seharusnya aku membawamu kesini setelah kau lebih dalam mencintaiku. Ini baru saja dimulai," keluh Soon Geum frustasi.
Gun Woo menatap Soon Geum. "Lain kali, aku akan membawa uang lebih. Damn...ini karena aku tak punya uang!!" seru Gun Woo lebih frustasi.

Soon Geum kembali ke dalam. Kesabarannya telah habis menghadapi kelakuan ayahnya. Ia melempar kartu Go Stop milik ayahnya.
"Ini alasan mengapa aku tidak bisa berhenti dari pekerjaanku sebagai pembantu. Hanya ketika kau berhenti bermain judi, aku akan berhenti! Aku tak boleh mencintai siapapun, haruskah seperti itu? Baik jangan bicarakan tentang jatuh cinta. Haruskah aku membayar semua utangmu, yah?" seru Soon Geum putus asa.
"Siapa yang bilang kau tak boleh jatuh cinta? Kau boleh, kau harus. Tapi bocah itu tak cukup bagus."
"Kenapa? Terlalu buruk untukmu? Apa terlalu buruk untukku? Selama aku mau, tak apa-apa."
"Aku tak ingin kau menikah dengan keluarga kaya. Melanjutkan hidup dengan menyesuaikan diri seperti perilaku mereka. Carilah pria biasa. Kehidupan biasa jauh lebih baik," ungkap ayah Soon Geum.
"Jika karena ayah orang itu sampai membenciku, apa yang harus kulakukan? Walaupun aku seorang pembantu, masih ada seseorang yang menyukaiku. Di dunia ini hanya ada orang unik seperti dia. Seseorang yang tak memandang hartaku. Apa itu terjadi dengan mudah? Itu tidak mudah, Ayah!" Soon Geum menangis.
Ayah Soon Geum tetap ngotot menolak Gun Woo. Ia tak mau hidup anaknya akan susah. Ia meminta Soon Geum menyerah. Soon Geum jelas menolak.

Diam-diam Gun Woo menguping pembicaraan ayah dan anak itu. Gun Woo menunduk sedih. 


Gun Woo dan Soon Geum berjalan pulang. Gun Woo tak bilang pada Soon Geum bahwa ia mendengar percakapan Soon Geum dengan ayahnya. Mereka mengobrol mengenai kemungkinan jika Soon Geum berhenti menjadi pembantu. Gun Woo menyarankan Soon Geum melanjutkan sekolah. Soo Geum tak mau. Ia menceritakan cita-citanya yang ingin bekerja di bar setelah lulus SMU. Gun Woo jelas melarang. Gun Woo meminta Soon Geum menjaga keluarganya setiap hari, mengerjakan pekerjaan rumah, mengasuh bayi dan membuat keluarganya bahagia (itu seh sama aja kaya pembantu).
"Lalu dimana kau?" tanya Soon Geum.
"Pergi. Aku ingin meninggalkan rumah," ucap Gun Woo.
"Kenapa kau ingin pergi? Bukankah aku membuatkan makanan lezat dengan tanganku," protes Soon Geum.
"Itu karena kau tak punya uang. Apa lagi yang harus kulakukan?"
"Kita bisa berkencan diam-diam."
Gun Woo mengaku tak percaya diri.

Soon Geum meminta Gun Woo menunggu sebentar dan menyuruhnya menjadi patung Jenderal Yi Sun Sin. Kemudian menghilang.
Gun Woo bingung. Ia sampai mengecek lewat internet. Setelah itu memposisikan dirinya sebagai patung Jenderal Yi Sun Sin. 
Soon Geum kembali. Ia pergi membeli 2 bungkus snack kesukaan Gun Woo. Diam-diam Soon Geum mendekat dan memasukkan kepalanya ke lengan Gun Woo.
"Apa kau ingin makan snack?"
"Rasanya apa?" tanya Gun Woo.
"Manis. Atau sangat manis?" Soon Geum mengacungkan 2 bungkus snack pada Gun Woo.
Gun Woo tersenyum. "Manis."
Lalu Gun Woo membantu Soon Geum membuka bungkusan snack miliknya.


Young Hee pulang dalam keadaan mabuk. Da Kyum sampai kewalahan membawanya ke kamar. Young Hee berteriak kepanasan. Da Kyum membantunya membuka baju.

Tuan Hwang menelepon Soon Geum yang sudah terlelap. Jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Tuan Hwang sudah menunggu Soon Geum di depan rumah. Soon Geum bangun dengan ogah-ogahan. Begitu Soon Geum membukakan pintu, Tuan Hwang langsung menariknya masuk ke dalam.
"Beri aku makan," pinta Tuan Hwang.
Tuan Hwang minta dibuatkan sup miso. Soon Geum heran Tuan Hwang membangunkannya tengah malam hanya untuk minta makan. Padahal di rumahnya ada Thu. Tuan Hwang beralasan tak tega membangunkan Thu yang sudah kelelahan. Akhirnya Soon Geum bersedia membuatkan sup. Tuan Hwang meminta Soon Geum merahasiakan kedatangannya dari semua penghuni rumah, terutama Tuan Kang.

Kedatangan Tuan Hwang ternyata untuk mengembalikan tiket lotre yang asli. Selagi Soon Geum sibuk memasak, diam-diam Tuan Hwang menyelinap masuk ke ruang kerja Tuan Kang. Tuan Hwang berusaha mencongkel laci meja kerja.

Soon Geum selesai membuat sup miso. Ia mencari-cari Tuan Hwang yang tiba-tiba menghilang. Sementara itu Gun Woo terbangun. Ia melihat Soon Geum belum tidur. 
Soon Geum menemukan Tuan Hwang di ruang kerja Tuan Kang. Tuan Hwang sudah berhasil membuka laci itu. Soon Geum ketakutan dan segera memanggil Tuan Hwang.
"Ahjussi, apa yang kau lakukan? Cepat keluar!"
Tiba-tiba saja Gun Woo muncul. "Ini sudah malam, apa yang kau lakukan?"
Gun Woo terkejut melihat Tuan Hwang ada disana. Ia menatap curiga ke arah Tuan Hwang. Tuan Hwang segera menarik tiket lotre yang ia geletakkan di atas meja. Gun Woo menangkap gerakannya. Gun Woo semakin curiga.


Da Kyum masuk ke kamar Young Hee. Young Hee sudah terlelap tidur. Da Kyum naik ke ranjang Young Hee dan tidur di sampingnya.